Ibuku dan Kitab Mimpi

Beberapa hari ini rupanya menjadi hari keberuntungan bagi saya,  dimana saya boleh berjumpa dengan orang-orang baru yang memiliki hati yang sangat terbuka.  Kemarin,  saya baru saja berpisah dengan puluhan pria ramah dan baik hati yang memilih untuk tinggal di rumah Seminari St. Paulus Mataloko.  Dan pagi ini,  saya juga dikunjungi oleh seorang pria muda berbakat yang memberikan hidup dan talentanya untuk kemajuan masyarakat di seberang pulau Flores. 
Keberuntungan saya yang lebih dalam yakni menerima hadiah yang tak terkira.  Yang akan menjadi hadiah abadi bagi saya sekaligus pengubah pandangan hidup saya untuk beberapa hal yang belum mencapai jalur lurus.
Hadiah luar biasa itu adalah Buku.  Saya selalu suka hal ini.  Karena Buku akan bersifat Abadi dan tak akan pernah habis. Bagi saya ini paling berarti.  Mungkin tidak bagi sebagian orang.
Yang pertama saya mendapat hadiah buku dari Lembaga Seminari St. Paulus Mataloko dibawah asuhan padre Aloysius Roja dan padre Rano.  Buku yang belum pernah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia ini judulnya The Complete dream book karya Dr.  Gillian Holloway. 
Sekilas buku ini berisi tentang Kitab Mimpi. Dalam ulasan buku ini menerangkan bahwa rata-rata orang akan mendapat lebih dari 150.000 mimpi dalam seumur hidup dengan kompleks citra dan makna yang lebih dalam. Kitab mimpi yang lengkap menggunakan interpretasi mimpi sebenarnya 28.000 dari pemimpi kontemporer, seperti kita, untuk membantu kita mengakses substansi dan makna mimpi kita sendiri. Menemukan Siapa yang dalam mimpi kita, Mimpi yang kambuh selama tahap tertentu, Arti sebenarnya di balik mimpi buruk kita,  Mengapa kita memiliki impian tertentu lagi dan lagi, dan Bagaimana menafsirkan mimpi.
Anehnya, orang-orang yang bermimpi tidak siap untuk ujian sebenarnya adalah orang-orang yang paling tidak mungkin pergi ke arena yang tidak siap untuk unggul. Untuk alasan itu, saya kadang-kadang menyebut ini sebagai "mimpi buruk sang pencapaian." Ini umum untuk pria dan wanita, biasanya antara usia dua puluh lima dan lima puluh lima. Orang-orang yang telah mengukir karir profil tinggi dan mereka yang memiliki standar tinggi keunggulan dalam apa yang mereka lakukan adalah mereka yang paling mungkin memiliki mimpi ini secara sporadis sepanjang masa dewasa. Tema ini sering muncul ketika seseorang bergerak maju ke tingkat kinerja yang lebih tinggi atau mengambil tanggung jawab yang meningkatkan apa yang dia harapkan dari dirinya sendiri.
Karena orang ini jarang gagal pada apa yang dia lakukan, mimpi bukanlah peringatan kesalahan yang akan terjadi. Sebaliknya, mereka menggambarkan bagaimana perasaan si pemimpi bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan proyek-proyek di sekitarnya. Tema ini mendramatisir keyakinan individu bahwa kinerja sangat penting untuk pencapaian dan persiapan diperlukan untuk bekerja dengan baik dalam situasi yang menguji pengetahuan dan penilaian kita.
Perspektif ini realistis dan bekerja dengan baik dalam kehidupan; Namun, bisa ada tepi kecemasan hadir di bawah kinerja tinggi. Terkadang orang ini terlalu berharap pada dirinya sendiri, misalnya, merasa dia harus tahu jawaban atas materi yang belum pernah dia pelajari. Meskipun situasi kehidupan nyata memiliki sedikit kemiripan dengan ruang pemeriksaan mimpi-mimpi ini, posisi tanggung jawab, promosi, dan situasi sorotan lainnya cenderung mengkatalisasi mimpi ini. Tima tii woso ema romo untuk buku ini... Luar biasa le,  jao akan baca sampe abis.
Selanjutnya Hadiah buku yang luar biasa juga saya terima siang ini dari kae yang menyempatkan untuk kunjung Langa disela -sela tugasnya.  Kae Yeris Meka membagikan saya sebuah buku miliknya yang saya yakin ini adalah salah satu dari sekian banyak buku yang dia paling suka.  Buku ini beliau beli di Oesapa pada Desember 2015. 5 tahun buku ini tinggal bersama dia namun hari ini sudah pindah domisili di Langa dan akan tinggal bersama saya untuk selamanya 😃.
Buku yang kae Yeris bawa ini Judulnya Ibunda.  Sebelumnya saya belum pernah dengar tentang buku ini. Setelah baca sekilas ternyata buku ini hasil terjemahannya Opa Pramoedya.
Novel Ibunda ditulis oleh Maxim Gorki pada tahun 1906 ketika nama dan reputasi sastra Gorki sudah dikenal di negerinya maupun di manca negara. Sebagaian besar naskah novel ini diselesaikan di Amerika Serikat, ketika Gorki sedang berkampanye mengumpulkan dana bagi perjuangan revolusioner di negerinya. Novel Ibunda dianggap oleh para kritikus sebagai novel yang revolusioner, dan pada tahun 1946 saja telah diterjemahkan dalam 28 bahasa dan difilmkan dalam beberapa versi. Novel Ibunda merupakan salah satu novel yang paling populer di Amerika Serikat.
Gambaran suram kehidupan rakyat Rusia yang miskin dan dipenuhi ketakutan di bawah kekuasaan Tsar menjadi latar belakang dari kisah dalam novel ini.
Baru pada kalimat pembuka di bab pertama  kita seakan langsung dihadirkan pada ruang dan waktu tersebut:  “Setiap hari, suling pabrik menjerit-jerit. Bunyinya yang menggigil itu menembus udara kotor, lembab yang berada di atas perkampungan buruh.” Orang-orang yang dibangunkan suara pluit itu merengutkan wajah, dipaksa bergegas dan berlari-lari dari rumah mereka masing-masing. Berbondong-bondong seperti ikan- ikan menuju pabrik tempat mereka bergantung hidup. Sungguh keren sekali gaya penulisannya. Sekali lagi,  tima tii woso untuk kebaikan hati yang boleh saya terima..

Bagi yang mau pinjam diperbolehkan mulai minggu depan setelah saya membacanya.
Saya memulai menikmati setiap halaman buku ditemani segelas teh sambil nizu api. Karena kabut tipis mulai menyelimuti Langa dan tentunya sangat Ja.....☕☕☕ 💭💭💭☁☁☁🍜

Tima Tii Woso Seminari St. Paulus Mataloko




Saya Mertin Lusi,  adalah perempuan yang paling beruntung dari sekian banyak perempuan yang ada.
Mungkin bagi sebagian orang yang akan saya ceritakan ini merupakan hal yang biasa saja tapi sejujurnya saya hanya ingin menyimpan rasa dan kenangan yang sempat tertanam dalam hati saya selama kurang dari 50 jam bersama dengan para seminaris St. Paulus Mataloko angkatan 30.
Sejak Minggu pagi,  saya bergabung dengan 26 siswa Kelas Persiapan Atas Seminari St. Paulus Mataloko untuk sharing bersama terkait Jurnalistik.
Sebenarnya bukan mereka yang belajar dari saya tapi Sayalah yang banyak belajar dari lembaga ini dan segala isinya.
Aktivitas kami sesuai jadwal harian mereka.  Hanya saja setiap materi lebih fokus pada bagian menulis. Kami saling berbagi tentang pengalaman hidup juga cara untuk survive dengan hidup dimasa yang akan datang.
Disela materi,  selalu diselipkan dengan cuplikan video pendek dan tidak sedikit dari kami yang hampir meneteskan air mata.  Namun saya yakin,  diantara para pria ini tertanam rasa gengsi yang tinggi untuk sekadar mengekspresikan perasaan haru dan sedih di hadapan yang lain.  Yah,  kalian pasti tau umumnya para pria jika ada yang meneteskan air mata pasti tak lama lagi akan menjadi bahan ejekan.

Bagi mereka,  nangis dihadapan banyak orang apalagi dihadapan wanita itu adalah hal yang "sesuatu". Sesuatu yang bisa membuat pamor turun seketika.  Hihi
Sepanjang saya hadir bersama mereka, entah mengapa, alampun sangat tidak bersahabat.  Kabut tebal dan hujan sepanjang waktu bahkan listrikpun padam beberapa kali. Tapi,  pagi ini ketika saya akan berpamitan,  matahari terlihat malu malu untuk menunjukan dirinya.  😔😔 Bahkan motor supra tua yang selalu menjadi sahabat seperjalananku juga ikut mogok.  Puji Tuhan ada lelaki ugal dari Malanuza yang telah lama insaf ini siap mendorongnya hingga di bengkel pertigaan jalan Mataloko-Bajawa.  Pria baik hati dan suka komedi ini namanya Manto dan sebentar lagi akan melanjutkan study di Maumere.
Saya selalu ingat setiap tapak jalan yang dilalui baik dari kamar menuju ruang kelas,  ruang makan juga menuju kapel. Juga setiap karakter orang yang saya jumpai.
Setiap tingkah mereka selalu terekam dengan jelas dan baik. Ada Zaldy si anak Mataloko yang bersedia menjadi admin blog seminari,  si Emilianus dengan alamat mukabukunya lirik jauh,  Maxi yang mengaku Mex kaka awor,  ada pria Waerana Oktavianus A. D. yang sebentar lagi akan melanjutkan di biara Stikmata,  ada Ino dari Sano Nggoa yang siap mengetik semua tulisan kawan kawannya dna sebentar lagi akan melanjutkan menjadi imam Projo,  ada Yoland pria kelahiran paroki Kurubhoko,  Eus dari Maunori yang siap lanjut di CSsR,  Mikhael Riba dari pulau tentangga Palue akan melanjutkan di Carmel,  Gerry dari Soe yang hurufnya paling gaga dan rapi dari semua sebentar lagi mo jadi imam Projo,  Orland yang saya kenal paling pertama saat memimpin goyangan ayam, asal dari Palue yang memilih CSsR,  Fandris Seka asal Menge yang memilih Carmel,  Konstant dari Maukeli yang selalu jadi andalan untuk menyalakan Proyektor, sebentar lagi akan melanjutkan di Stikmata,  Ancys dari Riung yang dalam tulisan feature hiperbolanya yang mengulas antara diriku dan gubug bambu 😂😂, Eman dari Borong yang menjatuhkan pilihannya di CSsR,  Vanlith kelahiran Nebe Mof dengan alamat mukabukunya Om Ef Er, Falentius dari Rendu dengan nama mukabukunya Ini Dia Manest, Lius, Ferdin Wendy dan Inuz dari SMA Thomas, umbu Jefri dari Sumba Barat yang memilih Carmel, Elvan dari Boawae yang memilih Carmel, Herarkius dari Nanga Panda dengan sapaan andalan Retakh Slow,  juga Didi dari Kodi Sumba Barat yang selalu riang gembira dan meskipun selalubjadi bahan bully dari sahabatnya tapi beliau sangat ramah dan selalu tersenyum.

Rasanya pendek waktu ini untuk bersama mereka tapi saya sungguh percaya bahwa semua yang saya lewati dan akan terjadi ini atas penyelenggaraan Ilahi.
Saya hanya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa hanya mampu berkata Ya dan siap sedia untuk menjalani perintahNya.
Terimakasih Romo Aloysius dan Romo Rano juga Frater Aris yang dengan segala keramahan memberikan waktu terbaik bagi saya untuk belajar banyak dari lembaga Seminari St. Paulus.
Terimakasih untuk hadiah yang luar biasa bagi saya yakni boleh mengikuti perayaan ekaristi dan doa bersama juga mendengar nyanyian kudus yang menentramkan jiwa.
Lembaga St. Paulus Mataloko menjadikan saya segar kembali,  mengisi kembali energi rohani, memberikan warna baru, dan tentunya menjadikan saya satu satunya Perempuan yang terpuji berada diantara kaum adam.
Semoga semua kalian para seminaris angakatan 30 selalu dalam naungan roh Kebajikan untuk tetap setia dengan panggilan iman sesuai dengan pilihannya masing - masing.
Tuhan memberkati langkah kalian.
Salam hormat
Mertin Lusi





Kelas Inspirasi Bajawa Kunjungi MAS Muhammadiyah Riung


Menginspirasi itu tidak mesti menunggu kita jadi Hebat dalam perspektif sebagai orang, namun seberapa mampunya kita memiliki hati yang tulus untuk berbagi dari apa yang kita miliki.
Seperti yang terjadi di SMA Muhammadiyah Riung pada 9 maret 2019 lalu. ini untuk pertama kalinya komunitas Kelas Inpirasi Bajawa menyelenggarakan kegiatan " Sehari Menginspirasi Selamanya Memberi Arti" untuk siswa tingkat SMA.  Memang awalnya, Kelas Inspirasi Bajawa dibentuk sesuai panduan yang ada berlaku secara nasional adalah menyediakan wadah untuk menginspirasi anak- anak tingkat Sekolah dasar.
Namun dalam perjalanan, Komunitas ini kemudian berkreasi untuk memberikan inspirasi kepada semua tingkatan siswa sesuai kebutuhan. Sehingga tidak hanya SD Jeru, SD Bena, SD Gurusina dan SD Tude saja yang dikunjungi pada 10 Agustus 2018 lalu, namun ada juga SMPK Regina Pacis Bajawa pada Desember 2018 dan pada 9 Maret kemarin di SMA Muhammadiyah Riung.

Untuk yang tingkat lokal, komunitas Kelas Inspirasi Bajawa ini menyediakan ruang bagi mereka yang memiliki profesi selain guru untuk bisa berbagi dengan siswa - siswi di sekolah. Dan para relawan Pengajar ini terlibat secara sukarela dan tanpa paksaaan.
Dan mereka percaya, bahwa ruang ini sungguh sangat bermanfaat.

untuk kali ini yang terlibat sebagai Relawan faslilitator, Pengajar dan Dokumentator diantaranya :

Anjelina Lalu ( Merlin ) - PNS sekaligus Penyiar Radio RSPD Ngada
Rinny Maghi  - Aktivis
Alle Walterius - Perawat Bedah
Muim Wego - Pengusaha Muda
Yancen Tena - Perasa Kopi
Yoskar Panggo - CIS Timor
Kiki Abas - Aktivis
Ayu Nau - Aktivis
Cindy - Bidan
Jejey Daga - Pebisinis
Nafa Abubakar - Aktivis
Erik Siba - Dosen
Takim - Wakasek MAS MUhammadiyah Riung
Awi Seno - Penyanyi
Mertin Lusi - Koordinator Kelas Inspirasi Bajawa

Tima tii wowo kae semuanya...
tima tii woso juga untuk Tuan Rumah...

 untuk tahun 2019 ini, kita sedang menyiapkan untuk KI Bajawa II yang lokasi sekolahnya sedang dalam tahap survey. Namun tetap membuka ruang bagi sekolah tingkat SMP Maupun SMA untuk terus bersinergi.

semoga Kelas Inspirasi Bajawa semakin Jaya dan mantap kedepannya.

Komodo


Deburan ombak menggulung pelan ke arah Komodo yang sedang menikmati menu yang sangat lezat di atas meja bersama kawan-kawannya. Malam ini mereka berpesta di pinggir pantai. Tempat itu indah menurut mereka, karena di sana hawa laut menyejukkan. Komodo dengan serius melahap makannannya. Dia sangat lapar. Dengan rakusnya dia menikmati hidangan tersebut. Para hewan lainnya memakan sambil menikmati konser musik dari jangkrik yang melantunkan melodi-melodi indah. Ayam melepas makanannya dan mulai menari diikuti oleh Srigala yang meliuk-liukkan badannya.
“ Hai Komodo, ayo kita menari” Ajak Ayam mulai mendekati Komodo.
“ Ah...saya masih makan, engkau mengganggu saja” Kata Komodo kesal. Ayam menjadi malu saat dibentak seperti itu.
“ mengapa akhir-akhir ini engkau tidak ingin bergabung dengan kami? Engkau makin menyendiri, makin menjauh?” Tanya Srigala penuh keingintahuan.
“ Aku tidak ingin berteman dengan kalian, aku malu punya teman seperti kalian” Kata Komodo mulai meninggalkan meja makannya.
“ Apa kesalahan kami komodo, selama ini kita bersahabat baik, tetapi mengapa engkau berkata seperti itu?” Protes Ayam.
“Perlu kalian tahu, aku sangat malu punya sahabat seperti kalian. Tidak berguna.” Komodo melangkah dengan angkuh mulai meninggalkan dua sahabatnya.
“ Apakah karena sekarang kamu sudah terkenal oleh dunia sehingga kamU melupakan kami komodo?”Tanya srigala. Dengan santai Komodo membalikkan badannya.
“ Hahahahha...itu engkau tahu. Mengapa masih bertanya?” Kata Komodo dengan suara yang meledak-ledak. Entah apa yang membuatnya begitu marah.
“ Sombong sekali kau komodo, mentang-mentang sekarang engkau menjadi terkenal di pelosok dunia, engkau mengabaikan kami sahabat-sahabatmu.”Kata Srigala dengan kecewa.
“ Sudahlah, saya mau istirahat. Besok pasti ada yang akan mengunjungiku. Aku harus tampil menawan besok.” Komodo meninggalkan sahabatnya yang masih terpaku menatap kepergiannya. Mereka pun kembali ke tempat mereka dengan langkah yang tak menentu. Mereka sangat kecewa dengan sikap komodo belakangan ini. Ini mulai angkuh saat dia mulai dikunjungi banyak orang dari pelosok dunia.
Malam semakin larut, pesta yang diadakan di pinggir laut mulai sepi. Semua yang menikmati pesta mulai pulang ke rumah beristirahat. Tidak terkecuali Srigala dan Ayam. Mereka kembali ke rumah mereka untuk beristirahat. Saat akan beristirahat, ayam mulai memikirkan perilaku sahabatnya komodo yang mulai angkuh. Ketika matanya terpejam...tiba-tiba dia mendengar gemerisik dedaunan di samping rumahnya. Dia takut, jangan-jangan ada yang berniat jahat padanya malam ini. Dia bangun perlahan dan mencari potongan kayu di samping tempat istihatnya.
Suara gemerisik itu semakin jelas terdengar, menimbulkan keributan yang membuatnya makin takut. Dia melongok keluar dan melihat ada bayangan hitam dari kejauhan yang mendekati rumahnya. “ Siapa di sana? Jalannya seperti terseok-seok” Kata Ayam pelan. Bayangan itu makin lama makin dekat. Dia mulai resah dan mulai merinding. Apakah di sana hantu? Bayangan itu mendekat, yang dilihat adalah kepalanya, kepala yang begitu dikenalnya. Itu kan Komodo. Dia seperti kesakitan saat berjalan. Ada apa? Dia mulai mendekati sahabatnya yang kesakitan.
“ Ada apa Komodo, apakah engkau sakit?” Tanya Ayam yang mulai mengabaikan sikap pongah dari komodo di pesta tadi.
“ Aku terperosok tadi, dan kakiku mengenai batang kayu tajam di ujung jalan di sana.” Kata Komodo dengan perasaan tidak enak.
“ Ayo, mari aku bantu mengobati lukamu. Aku akan membangunkan srigala agar dia dapat mencari ramuan obat untukmu.” Kata Ayam mulai berdiri ingin memanggil srigala.
“ Tidak usah ayam. Aku sudah kasar pada kalian berdua. Mengapa engkau mau menolongku?”
Kata komodo sambil merintih kesakitan akibat darah yang terus merembes di kakinya.
“ Jangan berkata seperti itu. Dari dulu kita adalah sahabat. Sampai kapanpun kita tetap sahabat.” Ayam berkata sambil meninggalkan komodo dan membangunkan srigala yang tempatnya tidak jauh dari situ.
“ Hai srigala, ayo bangun...bangun” Kata Ayam sambil menggoncangkan tubuh Srigala.
“ Hemmmmm...hemmmm...ada apa Ayam?” Tanya srigala yang masih ngantuk.
“ komodo sedang terluka. Ayo kita bantu dia. Kamu kan ahli meracik obat. Ayolah...”
“ Ahhhh...mengapa kita harus membantunya, dia sudah bersikap kasar pada kita.” Protes Srigala.
“ Jangan seperti itu srigala. Dulu dia sahabat baik kita,mungkin karena ketenarannya dia gelap mata. Kamu tidak boleh dendam.”
“ Aku tidak akan membantunya, dia sudah membuat kita malu di hadapan teman lainnya di pesta tadi” Srigala bermaksud melanjutkan tidurnya.
“ Tidakkah engkau ingat dahulu teman, komodo pernah membantu engkau saat engkau dikejar oleh pemburu yang ingin memusnahkanmu? Dia berjuang sampai dia terluka.”
Srigala terdiam mendengar apa yang disampaikan ayam. Mungkin benar juga. Ahhhhh.....ayam mampu membuatnya luluh. Dia pun bangkit dan mulai mendekati komodo yang masih kesakitan.
“ Komodo, mari kuobati lukamu.” Tawar srigala.
“ Srigala, maafkan sikapku yang kasar tadi. Aku janji tidak akan mengulanginya.” Kata komodo merangkul srigala.
“ ya...aku memaafkan engkau. Mulai sekarang kita tidak boleh saling mencela lagi.”
“ ya, aku janji” kata komodo.
Akhirnya ketiga sahabat itupun berpelukan dan srigala mulai mengobati kaki komodo yang tertusuk potongan kayu.


Kupersembahkan tulisan ini untuk dua pengeran tampanku dan anak-anak kecil siapa saja.
“Jika cerita anak mulai mati tergerus zaman, maka aku akan kembali menghidupkannya”

Penulis : Agustina Bate
Guru SMPK. St. Agustinus Langa
Tinggal di Langa

Yohanes


Nama itu...
Ya, nama itu...
Yang tidak peduli pada peluh yang berkejaran mengalir melekat pada pakayan merah yang lusuh
Nama itu...
Yang telah mengukir senyum di bibir
Nama itu
Yang tidak peduli pada petang yang menggiring malam...
Nama itu...
Yang tidak peduli pada kaki yang ditusuki bayi ilalang yang menerobos lewat induknya...
Nama itu yang tidak peduli pada goresan luka di jemari, yang tidak peduli pada cucuran darah yang menetes dan mengental....
Nama itu...
Nama ayahku, ayah yang tlah mengisi jejak di di tiap barisan perjuangan...
Nama itu....
Yohanes...
Trimakasih tlah jadi inspirasi yang tak pernah usang dimakan usia...


Penulis : Agustina Bate
Guru SMPK St. Agustinus Langa
Tinggal di Langa

Hilang



Ayam jantan mengusikku dari buaian mimpi. Masih dingin, rasanya tidak sanggup berdiri karena dinginnya udara pagi ini. Mungkin bukan hanya pagi ini. Setiap hari dingin itu selalu menghantui insan yang menetap di kota kecil yang dikenal dengan Bajawa. Yah, julukan kota dingin, memang tepat, aku rasa itu benar. Saat aku berusaha membuka mata, kedua cicak dengan pongahnya berjalan begitu angkuh, mungkin mereka meledekku atau mungkin karena mereka telah mendapatkan nyamuk yang tadi malam bernyayi dengan suara sopran  tinggi di telingaku? Ah entahlah...
“ Bangun, sudah pagi” Sapaan yang khas dari wanita hebat sepanjang masa yang kupanggil mama.
“ Ia Mama, sedikit lagi.” Kataku dengan malas. Ayam-ayam ku dengar berebutan mencotok biji jagung yang diberikan oleh mama. “Ah ayam, masih pagi engkau begitu rakus” Kataku dalam hati.
Aku bangun dan merapikan tempat tidurku. Jarum jam seolah berlari, saling berkejaran. Saat aku keluar, aku berharap mentari sudah memancarkan sinarnya yang gagah, namun aku makin kesal saat aku tahu awan sengaja menghalangi cantiknya mentari pagi ini.
Pagi ini, meski agak berat aku tetap pada rencanaku untuk mendaki bukit. Sudah lama aku tidak ke sana. Empat tahun kuhabiskan waktu mengejar mimpi di kota pelajar Ende. Kini rasa rinduku pada aroma rerumputan, pada desiran air yang mengalir, pada kicauan pipit yang bersembunyi di balik semak, pada Ibu gunung yang ku sebut Inerie. Aku rindu semuanya.
“ mau ke mana?” Tanya mama.
“ ke Watunariwowo mama, rindu mau ke sana” kataku pelan.
“ Tidak minum dulu?” tawaran yang menggiurkan. Apalagi aroma kopi Bajawa yang menggoda masuk ke hidungku. Tetapi segera ku tepis. Aku putuskan mengisi kopi yang sudah dibuatkan mama ke termos kecil yang bisa di bawa kemana-mana. Ku pakai ransel, dan akupun segera pergi. Mamapun tak lagi berkata banyak. Dia tahu aku suka ke sana, karena di sana aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Kadang ku duduk menulis sambil memandangi sapi-sapi yang memakan rumput segar dengan rakusnya.
Aku percepat langkahku, sepertinya sepi. Mungkin masih pagi. Langkahku semakin ku percepat. Aku tak peduli pada lelah, aku tak peduli pada letihnya tanjakan ini. Rasa rinduku mempercepat langkahku pada tempat yang telah memberiku inspirasi.
Saat langkahku semakin ku percepat, rasanya ada keanehan. Rasanya semua telah berubah. Bahagia  seketika berubah menjadi duka. Saat ku lihat pepohonan yang telah mengering, rerumputan menghitam, tanah menjadi panas meski masih pagi.
“ Siapa yang melakukan ini?” Kataku dalam hati
Seketika air mataku mengalir  perlahan. Kupegangi rerumputan yang tlah berubah menjadi abu. Ini baru dibakar tadi malam, karena rerumputan ini masih hangat di tanganku.
Aku termangu, duduk tak bersuara. Seolah aku jadi bisu sementara waktu. Keindahan ini, apakah mereka tak menyadarinya? Tanyaku dalam hati. Aku seolah mengutuk perbuatan mereka yang sengaja merusak tempat favoritku saat aku pulang dari tempat yang jauh.
Hembusan angin tak terasa segar, asap yang masih mengepul membawaku pada perasaan kecewa. Aku hanya mendekat, dan mematikan api yang tersisa. Lama aku berdiri. Tak ada yang bisa kutulis di diary yang biasanya kubawa di tempat ini. Aku melangkah mencoba mencari tempat yang nyaman. Aku tak menemukannya. Pepohonan kering, rumput yang menghitam, asap yang masih mengepul menjadi pemandangan yang sungguh menyakitkan.
Ku keluarkan ponsel dari dalam ranselku, dengan kesal dan air mata yang menetes ku ambil gambar di sekelilingku dan ku posting ke facebook. Ku sengaja menamai unggahanku dengan derai air mata.
Baru satu menit kuposting, sebuah komentar muncul di sana “ kasihan” Itu saja. Kalimat itu seolah membuatku bertanya-tanya atau mungkin juga meledekku. Kasihan pada semua yang lenyap oleh si jago merah, atau kasihan padaku yang kehilangan tawa saat menyaksikan ini semua?”
“ Apa makdunya?” Balasku.
“ Hanya kasihan saja, pada kamu dan pada tempat favoritmu.” Kalimat balasan ini membuatku tak mampu menahan gejolak amarah yang tidak bisa kubendung.
“ Aneh! “ Jawabku singkat. Tak ada balasan lagi. Apa mereka tertawa di sana melihat ini? Atau mereka berpura-pura simpati terhadap ini? Ah...entahlah, akupun meninggalkan bukit yang menjadi tempat favoritku itu. Dengan langkah gontai, aku menapaki rerumputan yang tlah lenyap menjadi abu. Di sana tapak kakiku seolah mulai tersapu duka. Angin sesekali menggoda dedaunan yang tlah berubah warna menjadi coklat, sementara burung pipit terbang meninggalkan pepohonan dan mulai berkelana mencari persinggahan yang baru.

Penulis : Agustina Bate
Guru SMPK St. Agustinus Langa
Tinggal di Langa

Selamat Jalan paman Stefanus Laja Kury

Akan tiba saatnya dimana ingatan kita akan semakin pudar tentang sebuah kenangan indah yang pernah dilalui. Akan semakin banyak ruang itu diisi dengan aktivitas baru, orang orang baru dan rindu yang baru. Rindu yang lama akan hadir secuil saja karena kau tak mampu mengingat secara  akurat.  Makanya menulis adalah sebuah tindakan baik untuk keabadian.  Dan saya melakukan ini untuk mengabadikan bahwa sosok Pria Dewasa bernama Stefanus Laja Kury pernah ada di bumi ini dan tinggal bersama dengan orang orang yang bahagia selama 43 tahun.
Atau juga, tulisan ini minimal akan berguna kalau Onel Neto, Liana Ripo, Nadin anu, Melati Anu, Delon Bota, Elkin Raja dan kawan sebayanya membaca kembali di puluhan tahun yang akan datang. Bahwa Stef Laja pernah sangat mencintai mereka dengan sepenuh jiwa. Dan saya percaya mereka akan percaya bahwa ini bukan hoax.
Saya memulai dengan potongan lirik lagu Letto yang berjudul  “Memiliki Kehilangan”.
Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
 jika kau pernah merasa memilikinya

Potongan lagu ini sangat sesuai dengan semua mereka yang pernah memiliki sosok Stef Laja demikian dia sering disapa.
Dia putra asli Langa yang memiliki segudang talenta. Setiap pekerjaan yang melibatkan dirinya tentu akan berakhir dengan sangat sempurna. Stef akan sangat detail memperhatikan seluruh komponen yang berkaitan dengan suatu moment yang ia juga terlibat. Saya memulai dari rumah.  Di rumah, semua perkakas dapur  lebih lengkap dari perkakas dapur milik ibu ibu yang jago masak diseantero Langa. Bahkan perkakas itu didatangkan langsung dari luar Flores. Kalau masak? Soal ini jangan ragu. Perkakas saja elit apalagi menu masakannya. Mau lokal sampai luar negeri dia pasti bisa. Ini semua didukung karena dia suka baca dan suka juga untuk praktek.  Dan, saya tentunya yang  ambil bagian untuk mencoba setiap menunya. Tidak hanya orang rumah saja, tetanggapun diajak makan bersama. Dia tidak pelit untuk berbagi.  Itu tentang masak.  Ada lagi tentang seni memperindah dan mempercantik. Dia juga jagonya.  Setiap moment bahagia seperti Sambut baru, Nikah, Ulangtahun dan lainnya pasti dia yang jadi pemilkir sekaligus yang ketua pelaksana. Dan untuk hal yang satu ini, Stef sangat serius dan terperinci.  Jangan coba coba ajak dia untuk  melakukan yang seadanya. Kalaupun yang disiapkan seadanya, dialah yang akan berusaha untuk membuat menjadi luar biasa. Kaupun akan sangat puas begitu pula saya.  Selain itu, dia juga jago untuk jadi master of ceremony. Kalau kau suka pesta, lebih khusus di Langa kaupun tak akan asing dengan sosok beliau.kalau tidak jadi MC ya, dia juga hadir untuk pesta karena dia juga sangat suka pesta.
Stef juga mudah lemah jika ada orang yang datang kepadanya dengan leher miring memohon uluran tangan. Dia akan selalu bilang ada jika ada dan tidak bila tidak ada. Dan itu semua bisa terbaca oleh seluruh tetangganya bahkan umat KUBnya.  Untuk segala bidang yang meilbatkan banyak orang, disitu dia pasti ada. Dia selalu loyal. Untuk diwilayah rohani, Dia juga menjadi ketua, meskipun belum sempat dilantik hingga dia pergi.
Dunia tarik suara, lagi lagi ada dia. Sebuah kelompok paduan suara yang diberi nama ANGEL VOICE ini ada di Langa sudah cukup lama. Dia dan kawan kawan tidak hanya melayani seputar Langa saja namun sampai kebeberapa kabupaten di daratan Flores. Dia selalu tampil sebagai dirigennya. Mereka sangat aktif, selain diisi dengan nyanyian juga ada peningkatan ekonomi  yakni arisan mingguan.  Dan mereka terlihat sangat bahagia. Tapi entahlah, akankah kelompok ini akan tetap ada setelah beliau tak ada. Semua orang tanpa bicara masih mengharapkan mereka ini harus tetap ada.
Entah mengapa, stef seperti punya aura untuk menarik orang mendekat dengannya. Segala usia yang pernah mengenalnya pasti merasa sangat dekat meskipun baru bertemu sekali.  Selain itu, kau pasti pernah tersinggung dengan kata katanya. Dia sangat berani menegur jika kau salah dan itu dia sampaikan setulus hati dengan tujuan untuk membuatmu lebih baik. Dan itu kami merasakan dengan sungguh karena kamipun dia perlakukan sama. Karena dia marah, marah hanya pada moment itu saja dan tidak akan terbawa kemana mana. Setelah itu dia akan melupakan dan akan selalu bahagia dengan kita.
kalau soal berbuat lebih banyak untuk orang lain, memang banyak orang melakukan itu, tapi dia juga selalu lebih banyak juga. Dia  tidak melakukan hanya semampunya tapi lebih.
Apa yang dia sentuh selalu berubah dan indah.
Dengan anak anak seperti yang saya sebutkan satu persatu diatas.  Mereka seperti lebih mencintai stef daripada orangtuanya. Mereka selalu menyapanya “ Opa Fanus”. Karena memang opa Fanus membuat mereka sangat nyaman.  Mereka selalu menanti Opa fanus akan pulang bawa buah tangan dan itu selalu ditepati.  Yang tidak bisa diatasi orangtuanya pasti ditangan Opa Fanus semuanya beres. Bahkan setiap barang milik opa Fanus sangat mereka hafal. Ketika mereka menangispun bisa didiamkan dengan cara pura pura memanggil nama Opa Fanus. Sungguh. Kadang tidak mudah percaya tapi ini nyata. Anak anak lainpun, dia perlakukan sama tanpa memandang siapa mereka.
Orang muda juga tidak sedikit  yang dekat dengan dia. Kadang diam diam mereka sangat mengaguminya. Dan dia juga sangat benci dengan orang muda yang mati gaya alias tidak suka bergabung dengan orang lain. Apalagi kalau orang muda tersebut memiliki pendidikan tinggi. Kadang dia selalu mengingatkan bahwa “ selagi kamu masih muda, lakukanlah banyak hal untuk orang lain, karena orang tidak akan lihat wajahmu cantik, ganteng, jelek, keriting atau buruk lainnya tapi orang akan melihat karyamu . Jadi orang muda harus kreatif.
Menjelang kepergianya, Stef tidak banyak mengeluh tentang sakitnya. Bahkan kepada keluargapun. Di  Rumah sakitpun, dia berusaha tampil baik baik saja. Sampai nafas terakhirnyapun dia seperti tidak menginginkan.
Ini kisah tentang dia yang saya tulis dan maaf tidak sedetail  yang diinginkan. Tapi lebih dari itu banyak kisah yang ada disetiap masing masing pribadi yang pernah mengenalnya. Karena hanya paman Stef dan saya begitupula hanya paman Stef dan dirimu yang menorehkan lebih banyak kisah yang tak mampu dilukiskan dengan kata kata.
Kita semua sama sama percaya bahwa Hidup paman Stef itu hanyalah diubah bukan dilenyapkan. Meskipun kita hanya memiliki rasa kehilangan.
Paman Stefanus Laja Kury meninggal di RSUD Bajawa 28 Agustus 2018.
Selamat jalan paman Stef, kami akan selalu merindukanmu.

Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan

            PELUANG USAHA KAIN TENUN  IKAT TRADISIONAL  ENDE LIO  DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...