Belajar menjadi Pasien di Nagekeo

 Perjalanan ke Nagekeo awalnya hanyalah perjalanan tugas. Namun kabar tentang hadirnya dokter spesialis di sana membuat saya berpikir,mumpung sudah sampai, kenapa tidak langsung memeriksakan diri. Kesehatan, toh, sering kali kita tunda dengan berbagai alasan.



Saya berangkat keesokan paginya, usai menyelesaikan tugas utama. Keluarga sempat menyarankan agar saya menghubungi kerabat yang bekerja di RSUD Aeramo supaya urusan lebih mudah. Tapi saya memilih jalan lain. Saya ingin datang seperti pasien pada umumnya. Mengantri, menunggu, dan merasakan sendiri bagaimana pelayanan rumah sakit itu bekerja.

Saya mencoba memposisikan diri sebagai bapak atau mama dari pelosok. Mereka yang datang tanpa siapa-siapa, bingung harus mulai dari mana, bahkan takut bertanya karena khawatir salah langkah.

Sesampainya di pintu masuk rumah sakit, saya berdiri cukup lama. Mata saya menyapu sekitar, membaca petunjuk arah, mencari loket pendaftaran, mencoba memahami alur pelayanan. Beberapa menit berlalu. Lalu seorang pria berkulit hitam dengan seragam biru menghampiri saya. Senyumnya ramah.

“Ibu… ale bagaimana ada yang bisa saya bantu?

Sapaan sederhana itu seperti membuka pintu besar. Ia menjelaskan dengan detail, lalu tidak sekadar menunjuk arah, tetapi mengantar saya berjalan hingga benar-benar bertemu dokter spesialis. Lokasi yang memang agak rumit, dengan plang petunjuk yang belum lengkap, terasa jauh lebih mudah karena kehadirannya.

Di sepanjang lorong rumah sakit, saya memperhatikan satu hal yang menarik, warna seragam yang sama. Saya tidak bisa membedakan mana dokter, perawat, bidan, atau petugas keamanan. Semua tampak setara. Semua menyapa. Ada yang tersenyum lebar, ada juga yang wajahnya terlihat lelah, mungkin asam, mungkin capek, dan itu sangat saya maklumi. Mereka manusia.

Beberapa jam kemudian, seorang perempuan muncul di lorong. Ia mengenakan seragam yang sama persis dengan pria di pintu masuk tadi. Ia menyapa pasien dan keluarga yang menunggu di setiap sudut lorong. Belakangan saya tahu, dialah ibu dokter Candra Kepala RSUD Aeramo.

Kami saling menyapa, lalu tanpa rencana duduk dan mengobrol di lorong antrean. Sesekali ia mengangkat ponsel, mengecek staf yang belum datang karena pasien sudah banyak menunggu. Sebuah tanggung jawab yang dijalankan tanpa jarak, tanpa sekat jabatan.

Obrolan kami mengalir dan terasa cepat. Terpaksa disudahi karena giliran saya bertemu dokter sudah tiba, sementara beliau punya tugas lain. Sebelum berpisah, ia berpesan, bila urusan saya selesai, silakan bertemu dirinya di ruang kerja.

   Sempat Jepret di Lorong antrean

Saya sempat tersenyum sendiri. Siapalah saya, pikir saya. Tapi mungkin justru itulah kehangatan yang tulus, tidak ada yang merasa lebih tinggi.

Usai bertemu dokter dan saat mengantri obat di apotek, pria berkulit hitam yang sama kembali menghampiri saya. Kami mengobrol. Ia menyarankan agar saya mengurus BPJS karena berobat lewat jalur mandiri. Bukan hanya kepada saya tetapi kepada hampir semua orang yang ia temui, ia bertanya, mengarahkan, tertawa lebar, dan membuat suasana lebih ringan.

Dia juga  yang kemudian menunjukan arah ke  ruang kerja Ibu Dokter Candra di lantai dua.



Seorang bapak baru keluar dari ruangan itu. Ia menyapa saya dengan ramah, tertawa lebar, seperti kami sudah pernah bertemu lama sebelumnya. Saya masuk, dan obrolan pun berlanjut. Isinya padat, penuh gagasan, penuh keprihatinan, sekaligus harapan.

Tidak berhenti di situ. Obrolan berlanjut lagi di kantin mama Mia , tepat di samping rumah sakit. Siang itu terasa sederhana, tapi hangat.

           Kantin Mama Mia

Salah satu hal paling unik yang saya dengar dari dokter Candra yakni gagasannya tentang program layanan Bahagia. RSUD Aeramo menyediakan mobil gratis bagi pasien yang hendak pulang, dengan radius hingga 15 kilometer. Entah diantar ke terminal atau langsung ke rumah. Sebuah solusi sederhana, tapi sangat berarti karena memang tidak ada angkutan umum yang menghubungkan rumah sakit dengan terminal atau wilayah sekitar. Karena belakangan ini banyak dia temukan pasien yang menunggu jemputan yang datang cukup lama sehingga bisa membuat pasien bisa sakit lagi karena jenuh dan cemas menunggu lama.

Usai makan siang, pertemuan yang tak direncanakan ini harus berakhir. Ibu dokter harus ke terminal mengambil titipan. Saya harus melanjutkan perjalanan ke Roe, menjenguk teman yang sedang membanting setir mengerjakan sawah lima hektar.

            Sawah di Roe

Saya meninggalkan RSUD Aeramo dengan satu pelajaran penting. Bahwa kesembuhan tidak selalu dimulai dari obat,  tapi dari sapaan, senyum, dan rasa diperlakukan sebagai manusia.

 Bertemu Teman SMA - Voni Daines

Dan kemarin itu, saya belajar banyak, bukan sebagai tamu, bukan sebagai kerabat, tetapi sebagai pasien biasa.

Aeramo,07/02/2026


1 comment:

Belajar menjadi Pasien di Nagekeo

  Perjalanan   ke Nagekeo awalnya hanyalah perjalanan tugas. Namun kabar tentang hadirnya dokter spesialis di sana membuat saya berpikir,mum...