PELUANG USAHA KAIN TENUN IKAT TRADISIONAL ENDE LIO
DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN
Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan
Dosen Pengampu: Hillary Fridolin Lupikuni, S.Pd.,M.Pd
Disusun
YOHANES SERGIUS LOKO | 240101045 |
ATRIANAN BANA | 240101008 |
NOVIA B. HERE | 240101033 |
MARIA S. NDEU | 240101027 |
nofiahere@gmail.com | Dhianabana335@gmail.com ,sofindeu47@gmail.com, lokoilus@gmail.com
UNIVERSITAS SAN PEDRO KUPANG
Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Tahun 2026
ABSTRAK
Kain tenun merupakan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas unggulan Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang usaha kain tenun dalam perspektif kewirausahaan melalui pendekatan observasi pada masyarakat pengrajin dan pelaku usaha di Kota Kupang. Metode yang digunakan adalah studi observasi kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan pengamatan langsung terhadap sentra-sentra produksi kain tenun, pasar tradisional, dan gerai oleh-oleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain tenun Kota Kupang memiliki peluang usaha yang sangat besar, baik dari sisi produksi, pemasaran digital, maupun pengembangan produk turunan berbasis motif lokal. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan modal, minimnya akses teknologi, serta lemahnya jaringan pemasaran. Dengan pendekatan kewirausahaan berbasis kearifan lokal, kain tenun Kota Kupang berpotensi menjadi industri kreatif yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan pengrajin.
Kata Kunci: kain tenun, kewirausahaan, Kota Kupang, peluang usaha, industri kreatif
I. PENDAHULUAN
Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya adalah seni tenun. Kain tenun bukan sekadar pakaian adat, melainkan identitas budaya yang mengandung nilai filosofis, simbol, dan keindahan seni yang tinggi. Seiring perkembangan zaman, kain tenun tidak lagi hanya digunakan untuk keperluan adat atau acara tertentu saja, tetapi sudah mulai diminati sebagai busana sehari-hari, oleh-oleh khas, hingga produk kerajinan yang bernilai jual tinggi.
Ditinjau dari sisi ekonomi, kain tenun merupakan komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin tenun di Kota Kupang masih berproduksi dalam skala rumah tangga, dengan cara yang sederhana, dan pemasaran yang meski sudah ada jaringan, namun pengelolaan biaya produksi masih menjadi tantangan. Belum banyak yang mengelola pembuatan dan penjualan kain tenun ini dengan prinsip-prinsip kewirausahaan yang benar, yaitu melihatnya sebagai peluang bisnis yang harus dikelola, dikembangkan, dan diinovasikan agar menghasilkan keuntungan yang maksimal.
Kewirausahaan dalam sektor kerajinan tenun sangat diperlukan agar warisan budaya ini tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan utama yang menyejahterakan masyarakat, sebagaimana yang dibuktikan oleh para pengrajin yang sudah lama berkecimpung di dunia ini. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk melihat seberapa besar peluang usaha kain tenun di Kota Kupang berdasarkan pengalaman nyata pelaku usaha dan bagaimana pandangan kewirausahaan dalam mengembangkan potensi tersebut.
Artikel ini disusun berdasarkan hasil observasi langsung di lapangan, dengan tujuan mengidentifikasi peluang usaha kain tenun di Kota Kupang, menganalisis tantangan yang dihadapi para pelaku usaha, serta merumuskan strategi kewirausahaan yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan potensi industri kain tenun lokal.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kewirausahaan dan Peluang Usaha
Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan proses dinamis dalam menciptakan nilai tambah melalui dedikasi dan upaya keras dengan mempertimbangkan risiko finansial, psikologis, dan sosial yang sepadan dengan imbalan berupa kepuasan dan kebebasan ekonomi (Hisrich & Peters, 2002). Dalam perspektif modern, kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan pendirian usaha baru, tetapi juga mencakup kemampuan mengidentifikasi peluang, mengorganisasi sumber daya, dan menciptakan inovasi.
Peluang usaha menurut Drucker (1985) adalah celah antara kebutuhan pasar yang belum terpenuhi dengan kemampuan seorang wirausahawan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Identifikasi peluang usaha memerlukan kepekaan terhadap tren pasar, kemampuan analisis lingkungan bisnis, dan kreativitas dalam mengombinasikan sumber daya yang tersedia. Dalam konteks industri kreatif berbasis budaya, peluang usaha sering kali muncul dari perpaduan antara nilai tradisi dan tuntutan modernitas.
2.2 Industri Kreatif Berbasis Kearifan Lokal
Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang bersumber dari kreativitas, keterampilan, dan bakat individu, serta memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui eksploitasi kekayaan intelektual (DCMS, 2001). Di Indonesia, pemerintah telah mengidentifikasi 17 subsektor industri kreatif, di antaranya kriya (kerajinan tangan) dan fashion yang menjadi wadah bagi industri kain tenun.
Kearifan lokal dalam konteks kewirausahaan dapat menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh pesaing. Motif-motif tenun NTT yang khas dan autentik, proses pembuatan yang membutuhkan keahlian khusus, serta nilai budaya yang melekat pada setiap lembar kain tenun merupakan aset tak berwujud (intangible asset) yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global.
2.3 Kain Tenun NTT sebagai Komoditas Budaya
Kain tenun NTT, yang dikenal dengan sebutan kain ikat (tais), merupakan produk tekstil tradisional yang dibuat dengan teknik menenun menggunakan benang yang telah diwarnai dengan pewarna alami maupun sintetis. Setiap daerah di NTT memiliki motif khas yang mencerminkan filosofi, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakatnya. Kota Kupang sebagai pusat perdagangan menampung kain tenun dari berbagai kabupaten seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Rote Ndao, Sabu Raijua, Flores, dan lain-lain.
Nilai ekonomi kain tenun NTT terus meningkat seiring meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap produk lokal dan tren fashion yang mengadaptasi motif tradisional. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, ekspor kain tenun NTT mengalami pertumbuhan rata-rata 15-20% per tahun dalam lima tahun terakhir, dengan pasar utama di Pulau Jawa, Bali, dan mancanegara.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau memaparkan fakta-fakta yang ada di lapangan mengenai peluang usaha kain tenun dan penerapan kewirausahaan pada masyarakat Kota Kupang sesuai dengan apa yang diamati dan didapatkan dari narasumber.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Perumahan Belo Prima, Kota Kupang. Lokasi ini dipilih karena merupakan tempat tinggal dan lokasi usaha dari narasumber utama, yaitu Ibu Oliva, yang merupakan pelaku usaha tenun yang sudah berpengalaman bertahun-tahun.
3.3 Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah Ibu Oliva, seorang pengrajin dan pelaku usaha kain tenun yang sudah menekuni usaha ini sejak usia dini hingga mampu menjadikan tenun sebagai tumpuan hidup ekonomi keluarga.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan menggunakan metode observasi (pengamatan langsung) dan wawancara tidak terstruktur. Peneliti melihat dan mencatat sejarah usaha, proses pembuatan, cara pengelolaan usaha, harga jual, hingga kendala yang dihadapi. Selain itu, dilakukan pencatatan data pendapatan dan pengeluaran usaha berdasarkan keterangan narasumber.
3.5 Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, penyederhanaan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis kemudian disusun secara naratif untuk menjawab rumusan masalah penelitian.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara mendalam yang dilakukan kepada Ibu Oliva di Perumahan Belo Prima, diperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana usaha tenun dijalankan dan seberapa besar peluangnya bagi masyarakat lokal.
1. Sejarah dan Pengalaman Usaha
Ibu Oliva mengaku telah menekuni dunia tenun sejak usia yang sangat muda, yaitu sekitar umur 12 atau 13 tahun, saat beliau masih duduk di bangku kelas 4 SD di kampung halamannya di Flores. Keterampilan ini sudah dijalani sejak kecil dan kemudian dibawa serta dikembangkan hingga beliau menetap dan berusaha di Kota Kupang. Pengalaman panjang ini menjadikan Ibu Oliva sangat mahir dalam teknik pembuatan tenun dan memahami selera pasar.
2. Kapasitas Produksi dan Harga Jual
Dalam satu bulan, Ibu Oliva mampu menyelesaikan dan menjual sekitar 3 hingga 4 helai kain tenun ikat utuh. Harga jual untuk satu helai kain tenun ikat tersebut adalah Rp1.200.000,-. Selain kain ukuran besar, Ibu Oliva juga memproduksi kain ukuran kecil seperti selendang dengan harga jual Rp150.000,- per buah.
Dari hasil usaha ini, dampak ekonominya sangat nyata. Ibu Oliva menuturkan bahwa seluruh kebutuhan hidup keluarga, biaya pendidikan kedua putranya, hingga aset berupa rumah tempat tinggal di Perumahan Belo Prima mampu dibeli dan dipenuhi sepenuhnya dari hasil jerih payah usaha tenun ini. Hal ini membuktikan bahwa usaha tenun bukan sekadar hobi atau kerja sampingan, melainkan usaha utama yang sangat menjanjikan.
3. Proses Produksi dan Kendala
Meskipun berada di Kota Kupang, dalam proses produksi Ibu Oliva masih harus mengirimkan bahan kain ke daerah asalnya di Flores untuk proses pewarnaan. Alasannya, harga bahan dan biaya jasa pewarnaan di Kupang dinilai jauh lebih mahal dibandingkan di Flores. Selain itu, kualitas hasil pewarnaan di daerah asal dianggap lebih bagus, awet, dan sesuai dengan standar tenun tradisional.
Kendala lain yang dirasakan adalah naiknya harga bahan baku utama yaitu benang. Peningkatan harga benang yang tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual yang setara membuat keuntungan yang diterima menjadi sedikit berkurang atau menipis. Meski demikian, usaha ini tetap dijalankan karena permintaan pasar yang terus ada dan stabil.
4. Sistem Pemasaran dan Penjualan
Dari sisi pemasaran, Ibu Oliva sudah memiliki jaringan yang cukup kuat dan luas. Kain tenun hasil karya beliau disuplai ke toko-toko penjual kain tenun di Kota Kupang, salah satunya adalah Toko Cinta Kasih serta beberapa toko langganan lainnya. Strategi penjualan yang dilakukan Ibu Oliva adalah menjual kainnya dengan harga sedikit di bawah harga pasaran atau harga sesungguhnya. Strategi ini terbukti efektif membuat produknya cepat laku dicari pembeli dan membuat para pemilik toko tetap setia mengambil pasokan dari beliau.
5. Dokumentasi Kegiatan dan Hasil Penelitian
Berikut adalah dokumentasi nyata dari kegiatan observasi, wawancara, proses pembuatan, hingga hasil produk kain tenun milik Ibu Oliva di lokasi penelitian:
Gambar 1.
Suasana wawancara dan diskusi bersama Ibu Oliva selaku pelaku usaha, yang sedang menjelaskan sejarah dan pengalaman beliau menekuni seni tenun sejak usia muda hingga menjadi sumber penghidupan.
Gambar 2
Proses awal pembuatan kain tenun, yaitu kegiatan merangkai dan menyusun benang menggunakan alat tenun tradisional sederhana yang masih digunakan hingga saat ini.
Gambar 3
Tahap penataan benang pada kerangka alat tenun sebagai persiapan pembentukan motif dan corak kain, memerlukan ketelitian dan kesabaran tinggi.
Gambar 4
Ibu Oliva menjelaskan tantangan dalam usaha, seperti kendala biaya bahan baku dan proses pewarnaan yang masih harus dikirim ke daerah asal di Flores demi menjaga kualitas warna.
Gambar 5
Foto bersama tim peneliti dengan Ibu Oliva, memperlihatkan berbagai hasil karya kain tenun ikat dengan motif khas yang memiliki nilai jual tinggi hingga Rp1.200.000,- per helai.
Gambar 6
Beragam jenis produk kain tenun yang dihasilkan, mulai dari kain ukuran besar hingga selendang, dengan corak dan warna yang bervariasi sesuai permintaan pasar dan selera pembeli
Gambar 7
Detail keindahan motif dan kerapian tenunan hasil karya Ibu Oliva, yang menjadi keunggulan utama dan alasan mengapa produk ini selalu dicari dan memiliki nilai jual tinggi.
4.2 Analisis Data & Identifikasi Masalah
Berdasarkan data yang dikumpulkan di atas, dilakukan analisis mendalam untuk melihat faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat usaha menggunakan metode Analisis SWOT:
FAKTOR INTERNAL (Kondisi dari dalam usaha)
Kekuatan (Strength)
1. Pengalaman dan keahlian sangat tinggi, sudah puluhan tahun menekuni bidang ini.
2. Kualitas produk sangat baik, motif khas, warna awet, dan kerapian tenunan terjaga.
3. Memiliki jaringan pemasaran yang sudah pasti dan pelanggan tetap yang percaya.
4. Modal usaha sudah mandiri, murni dari hasil usaha sendiri, tidak bergantung pinjaman.
Kelemahan (Weakness)
1. Belum efisien biaya: Proses pewarnaan harus dikirim ke Flores → menambah biaya transportasi dan memperlama waktu pengerjaan.
2. Manajemen keuangan masih sederhana, belum ada pencatatan rinci untung dan rugi secara tertib.
3. Variasi produk masih terbatas, hanya membuat kain besar dan selendang, belum ada produk turunan yang bernilai tambah tinggi.
FAKTOR EKSTERNAL (Pengaruh dari luar usaha)
Peluang (Opportunity)
1. Permintaan pasar masih sangat tinggi dan stabil setiap bulannya.
2. Potensi pasar wisatawan dan pasar oleh-oleh khas yang belum digarap secara maksimal.
3. Kain tenun makin dicari masyarakat karena menjadi identitas budaya Nusa Tenggara Timur.
Ancaman (Threat)
1. Kenaikan harga bahan baku utama (benang dan pewarna) yang tidak menentu.
2. Munculnya produk tenun pabrikan yang dijual lebih murah meski kualitas dan kerumitan berbeda jauh.
Identifikasi Masalah Utama (Paling Berdampak ke Pendapatan):
Dari hasil analisis di atas, ditemukan 2 masalah utama yang paling besar pengaruhnya terhadap penurunan keuntungan:
1. Biaya Produksi Tinggi: Pengiriman bahan ke luar daerah membuat biaya membengkak dan keuntungan bersih menjadi menipis.
2. Nilai Tambah Rendah: Masih menjual produk dalam bentuk kain mentah, sehingga keuntungan besar justru diambil oleh pengecer atau toko penjual.
4.3 Perancangan Solusi
Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, dirancang solusi yang sederhana, murah, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kemampuan serta kebiasaan Ibu Oliva:
1. Solusi Bidang Produksi & Efisiensi Biaya
Masalah: Pewarnaan mahal dan lama karena harus dikirim ke Flores.
Solusi: Mencari alternatif pemasok bahan baku dan pewarna berkualitas di wilayah Kota Kupang.
Meskipun harga bahan di Kupang mungkin sedikit lebih mahal, namun biaya kirim, ongkos angkut, dan waktu tunggu ke Flores bisa dihapus total. Secara hitungan akhir, pengeluaran akan jauh lebih hemat dan proses produksi jadi jauh lebih cepat selesai.
2. Solusi Bidang Produk & Nilai Tambah
Masalah: Hanya menjual kain mentah, keuntungan yang diterima sangat sedikit.
Solusi: Pengembangan Variasi Produk Sederhana. Mulai membuat produk turunan kecil seperti tas kain, dompet, atau baju jadi sederhana.
Nilai jual produk jadi bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat lebih tinggi dibanding sekadar kain mentah. Ditambah dengan kemasan sederhana menggunakan plastik bening dan label tulisan tangan bertuliskan "Karya Asli Tenun Kupang", produk akan terlihat jauh lebih berharga dan istimewa.
3. Solusi Bidang Pemasaran & Keuangan
Pemasaran: Memanfaatkan telepon genggam biasa untuk memotret hasil karya, lalu dibagikan ke kontak pembeli atau media sosial. Tanpa biaya, jangkauan pasar jadi lebih luas.
Keuangan: Menggunakan buku tulis biasa untuk mencatat pengeluaran beli bahan dan pemasukan hasil jual, supaya pemilik usaha tahu persis berapa keuntungan bersih yang didapat.
Validasi Solusi:
Solusi ini sudah disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan keterampilan pengrajin, tidak mengubah cara kerja tradisional, dan langsung bisa dicoba diterapkan kapan saja.
4.4 Pembahasan
Ditinjau dari perspektif kewirausahaan, pengelolaan usaha kain tenun yang dilakukan oleh Ibu Oliva memberikan gambaran nyata bahwa usaha ini memiliki peluang yang sangat besar dan sangat menjanjikan. Berikut adalah analisisnya:
1. Peluang Usaha dan Nilai Ekonomi
Data menunjukkan bahwa dalam satu bulan, omzet yang bisa didapatkan dari penjualan kain besar saja bisa mencapai Rp3.600.000 hingga Rp4.800.000 belum termasuk penjualan selendang atau aksesoris lain. Angka ini sangat signifikan dan membuktikan bahwa kain tenun adalah komoditas bernilai tinggi. Kemampuan Ibu Oliva menyekolahkan anak dan membeli rumah murni dari hasil tenun adalah bukti nyata bahwa kewirausahaan di bidang budaya mampu mengangkat taraf hidup masyarakat. Keunikan motif dan kualitas tenun menjadi keunggulan kompetitif utama yang tidak bisa digantikan oleh produk lain.
2. Strategi Pemasaran
Secara kewirausahaan, strategi yang diterapkan Ibu Oliva sudah sangat tepat. Beliau telah menerapkan prinsip keunggulan biaya, yaitu menjual dengan harga yang sedikit lebih murah dibandingkan harga pasaran. Hal ini membuat produknya memiliki daya saing tinggi, langganan tetap, dan produk yang cepat terjual. Memiliki koneksi dengan toko-toko besar seperti Toko Cinta Kasih juga menunjukkan bahwa jaringan pemasaran sudah terbangun dengan baik, meskipun masih berpusat di pasar lokal Kota Kupang.
3. Kendala dan Tantangan Pengelolaan
Meskipun peluangnya besar, masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki agar keuntungan lebih maksimal. Masalah utama yang ditemukan adalah Efisiensi Produksi. Masih harus mengirim bahan ke Flores untuk pewarnaan menambah biaya transportasi dan waktu pengerjaan. Secara manajemen usaha, hal ini adalah biaya tambahan yang sebaiknya bisa diminimalisir jika di Kupang tersedia bahan pewarna dengan harga bersaing atau jika pengrajin sendiri menguasai teknik pewarnaan.
Selain itu, kenaikan harga benang adalah risiko usaha yang harus dihadapi. Di sini dibutuhkan inovasi wirausaha, misalnya melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap atau mencari pemasok bahan baku baru yang harganya lebih stabil namun kualitas tetap terjaga. Saat ini, Ibu Oliva masih menanggung penurunan keuntungan sendiri tanpa menaikkan harga jual demi menjaga langganan, yang berarti nilai tambah usaha masih banyak terserap oleh biaya produksi.
4. Potensi Pengembangan
Kewirausahaan menuntut kreativitas. Saat ini Ibu Oliva sudah berhasil, namun pasarnya masih terbatas pada toko-toko di Kupang. Peluang usaha bisa diperluas lagi jika produknya tidak hanya dijual ke toko, tetapi juga dikemas lebih menarik untuk dijual ke wisatawan atau dikembangkan lewat media sosial. Produk juga bisa divariasikan, tidak hanya kain, tapi juga produk jadi baju atau tas, agar nilai jualnya semakin bertambah.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa industri kain tenun di Kota Kupang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha yang berkelanjutan dalam kerangka kewirausahaan berbasis kearifan lokal. Keunikan motif, nilai budaya yang tinggi, dan meningkatnya permintaan pasar nasional maupun internasional merupakan modal dasar yang kuat bagi pengembangan industri ini.
Lima peluang usaha utama yang teridentifikasi—yaitu produksi kain tenun premium, pengembangan fashion berbasis motif tenun, usaha souvenir dan dekorasi, pemasaran digital, dan wisata edukatif—dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu mengangkat kain tenun NTT ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekatan kewirausahaan yang inovatif, didukung oleh strategi diferensiasi, transformasi digital, pengembangan kemitraan, dan peningkatan kapasitas SDM, merupakan kunci keberhasilan pengembangan industri kain tenun Kota Kupang.
5.2 Saran
Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran dapat disampaikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan:
DAFTAR PUSTAKA
Drucker, P. F. (1985). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Harper & Row.
DCMS. (2001). Creative Industries Mapping Document 2001. Department for Culture, Media and Sport, United Kingdom.
Hisrich, R. D., & Peters, M. P. (2002). Entrepreneurship. McGraw-Hill.
Noor, M. (2013). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekonomi Kreatif. Jurnal Ilmu Administrasi dan Sosial, 2(1), 45–58.
Pemerintah Provinsi NTT. (2023). Laporan Tahunan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang: Pemprov NTT.
Purnomo, R. A. (2016). Ekonomi Kreatif: Pilar Pembangunan Indonesia. Ziyad Visi Media.
Schumpeter, J. A. (1934). The Theory of Economic Development. Harvard University Press.
Soedjono, E. S. (2019). Tenun Ikat Nusantara: Warisan Budaya yang Hidup. Balai Pelestarian Nilai Budaya.
Suryana. (2013). Kewirausahaan: Kiat dan Proses Menuju Sukses (Edisi 4). Salemba Empat.
Tambunan, T. T. H. (2012). Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting. LP3ES.
Wibowo, A., & Pramudyo, A. (2020). Strategi Pengembangan UMKM Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 22(1), 1–12.


























