Semana Santa di Larantuka bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengajak setiap peziarah masuk lebih dalam ke dalam misteri iman, pengorbanan, dan kasih. Saat kaki pertama kali menjejakkan tanah di kota kecil ini, suasana hening yang sarat makna langsung terasa seolah waktu melambat, memberi ruang bagi hati untuk mendengar hal hal yang kerap terabaikan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari hari.
Perjalanan ini berawal dari sebuah perjumpaan sederhana pada Juli 2025. Saat itu, saya bertemu dengan Kak Tesa Tukan, seorang guru agama Katolik dari Lewotala, di sela kegiatan Perpas. Ia memberikan oleh-oleh berupa gambar Tuan Ma. Lebih dari sekadar pemberian, Kak Tesa juga berbagi kisah tentang pengalaman imannya saat berdoa di kapela Tuan Ma setiap sore. Cerita hidupnya begitu membekas, diam-diam menggerakkan hati saya untuk suatu hari datang dan mengalami sendiri kedalaman iman di Larantuka.
Bersama keluarga Lewotala
Sejak saat itu, niat tersebut saya bawa dalam doa setiap malam. Sebulan menjelang Paskah, saya mulai menjalin komunikasi rutin dengan Kak Tesa dan beberapa teman yang menetap di Larantuka untuk mendapatkan informasi pendaftaran sebagai peserta ziarah. Ketika akhirnya link pendaftaran dibuka, saya menjadi peserta pertama yang mendaftar, disusul Ayu di urutan kelima. Awalnya, cukup banyak teman yang berencana ikut, namun satu per satu harus mengurungkan niat karena berbagai tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan.
Setelah melalui berbagai pertimbangan dan persiapan, kami memutuskan untuk menginap di rumah seorang teman, Ano, yang kini menjadi pegiat literasi di Kabupaten Mappi, Papua. Ano dan keluarganya dengan tulus mempersilakan rumah mereka kami tempati selama seminggu. Letaknya yang strategis di Kelurahan Larantuka menjadi anugerah tersendiri, karena berada di jalur prosesi Jumat Agung dan dekat dengan berbagai fasilitas umum. Katedral, toko, ATM, hingga kapela Tuan Ma dan Tuan Ana dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Bahkan, doa dari kapela Tuan Ma dapat kami dengar dengan jelas dari rumah.
Kapela Tuan Berdiri
Selasa sore, 31 Maret 2026, saya bersama Ayu, Ruth, dan Bibi Monika tiba di Larantuka. Kami disambut oleh Bapak Yos, bapak dari Ano, yang merupakan pensiunan guru STM Larantuka. Kehadiran beliau menjadi berkat tersendiri bagi kami. Dengan penuh perhatian, Bapak Yos telah menyiapkan banyak hal sebelum kedatangan kami. Meski kini menetap di Kupang, beliau pulang ke Larantuka untuk merayakan Paskah sekaligus memastikan kami mendapatkan tempat tinggal yang nyaman.
Hal-hal kecil yang beliau lakukan mencerminkan ketulusan hati yang besar. Meski tidak tinggal serumah karena memiliki rumah lain di Lebao,Bapak Yos selalu meluangkan waktu untuk datang dan memastikan kami dalam keadaan baik. Setiap pertemuan dengannya selalu diisi dengan cerita-cerita tentang pelayanan yang ia jalani. Kisah kisah itu sederhana, namun sarat makna, dan tanpa disadari menumbuhkan inspirasi yang mendalam dalam diri kami.
Bersama Bapak Yos
Meskipun telah pensiun, semangat hidup dan kerja Bapak Yos tidak pernah surut. Ia tetap giat bekerja, terutama demi mendukung anak bungsunya yang sedang menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan di Kupang. Semua mereka merupakan perantau. Bapak Yos di kupang bersama anak laki-laki bungsunya sedangkan dua lainnya menetap di Lembata. Kami bahkan sempat bertemu dengan putrinya yang bertugas di Lembata dan pulang untuk merayakan Paskah bersama keluarga di Larantuka.
Dari awal perjalanan ini, saya mulai menyadari bahwa ziarah bukan hanya tentang tempat yang dituju, tetapi juga tentang orang-orang yang dihadirkan Tuhan di sepanjang jalan. Dalam kebaikan sederhana, dalam keramahan, dan dalam cerita-cerita kehidupan yang dibagikan, saya merasakan bahwa Tuhan sudah bekerja bahkan sebelum prosesi Semana Santa itu sendiri dimulai.
Prosesi Laut
Rabu 01 April 2026.
Meskipun kami berempat tinggal sendiri di rumah Bapak Yos, Kak Tesa selalu menjaga komunikasi, baik melalui pesan maupun telepon, untuk mengatur jadwal kami ke mana kami akan pergi dan apa yang akan kami lakukan.
Rabu pagi pukul enam, kami berangkat ke Pantai Palo bersama Kak Tesa dan adiknya, setelah membuat janji malam sebelumnya. Tujuan kami adalah berziarah ke Kapela Tuan Berdiri di Wureh, Pulau Adonara. Patung Tuan Berdiri, atau Yesus yang berdiri, menjadi pusat devosi umat di sana.
Sesampainya di pantai, ternyata ribuan peziarah sudah lebih dahulu datang dan mengantri untuk naik kapal. Kami segera melapor, dan setelah jumlah penumpang genap lima belas orang, kapal pun berangkat, menyeberangi Selat Gonzalu, sebuah pengalaman yang cukup menegangkan bagi saya yang tidak terbiasa dengan laut.
Bukit Doa Fatima
Namun perjalanan itu juga membahagiakan. Laut pagi yang tenang, kapal-kapal yang hilir mudik membawa peziarah, dan suasana yang hidup sejak pagi hingga sore menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.
Sekitar dua puluh menit kemudian, kami tiba. Ternyata, peziarah sudah datang sejak subuh, sehingga antrian menuju kapela Tuan berdiri sangat panjang. Di bawah terik matahari yang semakin meninggi, setiap langkah kecil ke depan menjadi bagian dari proses yang bukan hanya menguji kesabaran, tetapi juga mengajak hati untuk hening dan menyadari kehadiran Tuhan. Maju satu langkah, lalu berhenti hingga dua puluh menit,terus berulang, seperti berjemur di bawah matahari. Keringat, panas, dan rasa ingin menyerah bercampur menjadi satu. Kami mulai mengantri sejak pukul delapan pagi, dan baru bisa mencium kaki Tuan Berdiri hampir pukul satu siang.
Misa kamis Putih- Katedral
Lapar, lelah, sekaligus berdebar menanti momen perjumpaan itu. Sebelumnya kami mendengar berbagai kisah dari para peziarah, ada yang melihat mata patung berkedip, ada yang merasakan seolah patung itu hidup dan bernapas, bahkan ada yang datang dengan niat tidak tulus lalu pulang dalam keadaan gelisah atau sakit.
Namun ada pula yang kembali berkali-kali karena doa-doanya dikabulkan, ada yang disembuhkan dari penyakit berat, dan ada yang pulang dengan hati penuh sukacita.
Antrian itu sendiri menjadi ruang refleksi. Tidak ada perbedaan status, usia, atau latar belakang. Semua berdiri sejajar sebagai peziarah yang merindukan sentuhan kasih Ilahi. Wajah-wajah lelah justru memancarkan ketulusan. Dalam diam, doa dipanjatkan, harapan diserahkan, dan beban hidup perlahan dilepaskan.
Antrean itu mengajarkan bahwa perjalanan iman bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang bagaimana kita setia melangkah.
Ketika akhirnya tiba di hadapan Tuan Berdiri, waktu seolah berhenti. Hanya ada diri, keheningan, dan kehadiran yang terasa begitu dekat. Mencium kaki Tuan Berdiri bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah perjumpaan batin penuh haru, syukur, dan air mata yang tak tertahan.
Dalam momen singkat itu, segala pergumulan hidup terasa dipeluk tanpa syarat.Pengalaman ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu hadir dalam kata-kata panjang, tetapi dalam gestur sederhana yang penuh makna. Mencium Tuan Berdiri menjadi simbol penyerahan diri, mengakui keterbatasan sebagai manusia dan percaya bahwa kasih Tuhan selalu cukup.Setelah itu, langkah terasa lebih ringan. Bukan karena semua masalah hilang, tetapi karena ada keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendiri.
Dari kapela, kami menerima air suci dan minyak suci yang dibagikan panitia yang oleh banyak orang dipercaya membawa kesembuhan dan perlindungan.
Setelah kembali ke Larantuka, kami langsung menuju Kapela Tuan Meninu. Di sini, kami hanya boleh masuk dengan membawa lilin. semua barang lain ditinggalkan di luar. Kami kembali mengantri untuk mencium dan berdoa. Kali ini cukup singkat karena tidak sebnyak di Wureh.
Usai berdoa, kami mendapat pasir putih dalam bungkusan kecil. Banyak peziarah percaya bahwa pasir itu membawa berkat untuk kesembuhan, perlindungan, bahkan keselamatan.
Pasir itu menjadi simbol hidup manusia seperti butiran pasir, kecil, rapuh, dan terbatas. Namun justru dalam keterbatasan itulah Tuhan berkarya.
Perjalanan berlanjut ke Kapela Mgr. Gabriel Manek di Lebao. Di sana terdapat peti jenazah beliau yang masih utuh setelah penggalian ulang beberapa tahun lalu. Ribuan orang datang berziarah, dan banyak yang bersaksi doanya dikabulkan.
Hari itu kami jalani dengan penuh rasa syukur, terlebih karena Kak Tesa yang dengan tulus mengatur dan menemani perjalanan kami.
Malam harinya, kami mengikuti Lamentasi di Katedral. Setelah itu, suasana berubah drastis. Bunyi-bunyian seng yang diseret dan dipukul, teriakan “Trewas… Trewas…”, menggema di seluruh kota selama lima belas menit tanda dimulainya masa perkabungan.
Setelah itu, Larantuka menjadi sunyi. Jalan prosesi diberkati, kendaraan tidak lagi diperbolehkan melintas. Malam itu terasa mencekam bagi kami berempat yang baru pertama kali mengalami Semana Santa.
Kamis 02 April 2026
Pukul tujuh pagi, kami berempat berjalan kaki menuju Gereja Katedral untuk mengikuti misa pemberkatan minyak suci dan pembaruan janji imamat bersama Bapa Uskup dan para imam Keuskupan Larantuka. Sepanjang perjalanan, terlihat bapak dan mama dari masing-masing suku dengan penuh kesungguhan mempersiapkan Armida mereka. Ada pula yang merapikan turo, tempat menggantung lilin yang akan digunakan saat prosesi Jumat Agung. Pemandangan ini sungguh mengharukan, penuh ketulusan dan pengabdian.
Usai misa, sekitar pukul sepuluh, kami bergegas mengantri di depan Kapela Tuan Ma. Bersama ribuan peziarah lainnya, kami menanti saat pintu kapela dibuka, momen langka ketika sosok Tuan Ma dapat dilihat secara langsung. Kesempatan ini hanya terjadi sekali dalam setahun, tepat pada perayaan Tri Hari Suci. Sebuah momen yang sakral dan sangat dinantikan.
Panas, haus, dan lapar bercampur menjadi satu. Berjam-jam kami berdiri dalam antrian.. Tua dan muda, semua setia menunggu giliran. Sama seperti pengalaman di Kapela Tuan Berdiri, air mata kembali tumpah saat berhadapan dengan Tuan Ma. Patung Bunda Maria ini bukan sekadar simbol, melainkan warisan iman yang hidup dan diwariskan turun-temurun.
Rasa haru tak terbendung saat menatap wajah bunda Tuan Ma. Segala pergumulan, harapan, dan doa diserahkan sepenuhnya seperti seorang anak yang akhirnya kembali bertemu ibunya setelah sekian lama. Ada rasa merinding sekaligus lega. Sebuah perjumpaan yang sangat pribadi, seolah hanya terjadi antara diri dan Bunda.
Di kapela ini, kami juga memperoleh air suci. Banyak orang yang kami temui bersaksi tentang kesembuhan dan pertolongan yang mereka alami, termasuk para ibu yang dipermudah dalam proses persalinan.
Setelah itu, kami bergegas menuju Kapela Tuan Ana yang letaknya tidak jauh. Namun antrian yang sangat panjang membuat kami memutuskan untuk tidak melanjutkan. Kami memilih kembali, mempertimbangkan waktu untuk mempersiapkan diri mengikuti misa Perjamuan Tuhan pada malam Kamis Putih, yang dilanjutkan dengan adorasi malam. Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana sendiri akan kembali dibuka setelah misa.
Hari itu sepenuhnya diisi dengan doa. Makan dan minum seolah bukan lagi prioritas. Waktu terasa dipersembahkan seluruhnya untuk hening dan berjumpa dengan Tuhan. Kami hanya pulang sebentar untuk mandi dan minum, lalu kembali lagi ke kapela. Jika kami sebagai peziarah saja sudah merasa begitu padat, apalagi panitia dan anggota suku yang terlibat langsung tentu jauh lebih menguras tenaga karena seluruh waktu mereka dipenuhi oleh rangkaian ritual.
Jumad,03 April 2026
Sebagian peziarah bahkan belum sempat tidur setelah misa Kamis Putih. Banyak yang tetap mengantri untuk mencium Tuan Ma maupun Tuan Ana. Sejak dini hari, suasana sudah ramai oleh lalu lalang peziarah.
Pukul tujuh pagi, kegiatan dilanjutkan dengan Jalan Salib di Taman Doa Pieta, yang terletak di depan Kapela Tuan Ana. Ada yang mengikuti Jalan Salib, ada yang tetap mengantri di kapela, semua larut dalam cara masing-masing untuk berdoa.
Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi laut. Sebuah tradisi yang sangat khas. Prosesi ini dimulai dari Kapela Tuan Meninu menuju Pantai Kuce, mengantar Tuan Meninu, yaitu Salib Yesus tersalib, melalui jalur laut. Ribuan peziarah turut serta menggunakan kapal dan perahu, menyusuri Selat Gonzalu sambil berdoa dan bernyanyi. Sementara itu, peziarah lainnya menanti di Pantai Kuce dengan doa yang sama.
Selat Gonzalu, yang terletak di antara Pulau Adonara dan Flores, tampak tenang di permukaan, namun memiliki arus yang kuat dan berbahaya. Meski pernah memakan korban, setiap tahun ribuan orang tetap datang dengan iman yang teguh.
Sekitar pukul sebelas siang, prosesi dimulai. Perahu utama yang membawa tuan meninu berada di barisan terdepan, diikuti perahu-perahu kecil yang didayung, dan kapal mesin di bagian belakang. Tidak ada satu pun yang boleh mendahului perahu utama.
Kami yang menanti di tepi pantai tak sabar menunggu. Di kejauhan, prosesi bergerak perlahan melawan arus. Panas dan lelah tidak menghentikan doa dan nyanyian mereka.
Tak lama kemudian, Pulau Adonara tampak mulai gelap dan hujan turun. Beberapa warga mengatakan bahwa itu pertanda Tuan Meninu akan segera tiba karena diyakini Ia datang bersama hujan.
Burung-burung mulai terbang rendah. Awan putih menggumpal turun perlahan. Laut yang semula tenang mulai beriak. Awan gelap mendekat.
Saya yang duduk di tepi pantai mulai diliputi rasa takut sekaligus takjub. Suara doa dari tengah laut mulai terdengar, disertai deru mesin kapal yang semakin mendekat.
Perahu utama kini terlihat jelas. Burung-burung beterbangan rendah, bahkan ikan-ikan melompat di sekitar para pendayung. Hujan turun sangat lebat.
Tanpa aba-aba, semua orang menutup payung, menanggalkan topi, dan larut dalam momen itu. Air mata tumpah tanpa bisa ditahan. Untuk pertama kalinya, saya tidak takut pada hujan.Sungguh, Tuhan berkuasa atas langit dan bumi.
Pengalaman ini begitu sakral, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan saat menulis ini, air mata kembali mengalir. Ada hal-hal yang melampaui logika manusia yang hanya bisa dipahami ketika dialami langsung. Inilah momen yang paling mengesankan, yang mengubah cara pandang saya terhadap Kristus yang tersalib.
Tuan Ma dirumah bpk Yos
Beberapa saat kemudian, Patung Tuan Ana keluar dari kapela, menyusul Tuan Ma, kemudian berarak menuju Gereja Katedral untuk ditahtakan, sebelum prosesi keliling kota dilakukan setelah upacara mengenang wafat Tuhan.
Sejak patung tuan Ma dan tuan Ana memasuki katedral, hujan kembali turun deras. Bahkan sempat muncul keraguan untuk mengikuti prosesi malam hari. Saat Lamentasi berlangsung, hujan semakin deras. Namun menjelang akhir, hujan tiba-tiba berhenti. Ketika kami keluar, langit begitu cerah bulan dan bintang tampak jelas, seolah hujan tdk pernah terjadi.
Prosesi keliling kota Larantuka dengan lilin bernyala adalah pengalaman yang tak tergambarkan. Tidak ada sekat. Tua, muda, kaya, miskin, melebur dalam doa dan harapan.
Lelah, lapar, dan ngantuk menyatu dalam kekhusyukan. Tubuh terasa sakit, kaki kram, bahkan batuk dan bersin pun terasa menyakitkan. Kami peziarah yang hanya membawa lilin saja sudah sangat lelah, bagaimana dengan Lakademu yang mengusung Tuan Ana, bagaimana dengan bapak bapak yang mengusung Tuan Ma, bagaimana dengan para petugas dan panitia lainnya.
Pukul tiga dini hari, prosesi berakhir. Kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Anehnya, sebelum tidur tubuh terasa sangat lelah, tetapi saat bangun pagi, semuanya hilang,tubuh terasa ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.Banyak peziarah merasakan hal yang sama.Sungguh, kasih Tuhan tak terselami.
Sabtu 05 April 2026
Sejak pagi, saya dijemput Kak Tesa untuk berkeliling Kota Larantuka sekaligus membeli oleh-oleh sebelum kembali ke Bajawa. Dalam perjalanan itu, kami juga mengunjungi seorang teman kuliah semasa di Malang, Parlan. Ia baru saja mengalami sebuah mukjizat selamat dari kecelakaan maut.
Mengunjungi Parlan
Kami lebih banyak mendengarkan kisahnya tentang bagaimana kasih Tuhan bekerja dalam hidupnya. Pertemuan itu terasa seperti kesimpulan dari seluruh perjalanan yang kami alami selama beberapa hari di Larantuka. Sebuah peneguhan bahwa Tuhan sungguh hadir dan berkarya dalam berbagai cara.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lewotala untuk bertemu keluarga Kak Tesa sekaligus makan siang. Dalam hati saya merasa, Tuan Ma sungguh menyiapkan segalanya dengan begitu sempurna termasuk menghadirkan Kak Tesa dan keluarganya yang menerima saya dengan ketulusan yang luar biasa.
Malam harinya, kami mengikuti perayaan Malam Paskah di Gereja Katedral. Perayaan berlangsung dengan meriah dan penuh sukacita. Kotbah imam malam itu terasa seperti penutup yang menyempurnakan seluruh perjalanan ziarah kami. Merangkum setiap pengalaman, rasa lelah, harapan, dan perjumpaan yang telah kami alami.
Minggu,05 April 2026
Usai misa Paskah misa kebangkitan, hujan turun cukup deras. Kami pun memilih tinggal di rumah dan makan siang bersama Bapak Yos.
Menu yang tersaji sangat sederhana nasi, marongge rebus, dan mi instan. Namun, justru di situlah letak maknanya. Di hari raya sebesar Paskah, kami tidak menikmati hidangan mewah, melainkan kebersamaan yang hangat dan penuh arti. Meskipun memang karena tidak ada waktu untuk berbelanja ke pasar.
Seolah alam mengatur waktu dengan tepat, memberi ruang bagi kami untuk berbagi cerita. Bapak Yos banyak bercerita tentang perjuangannya dalam bekerja dan menjalani hidup. Percakapan mengalir begitu saja, dengan topik yang beragam dan santai. Seperti antara seorang bapak dan anak anaknya.
Kami melihat ketulusan di wajah bapak Yos. sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat. Kami pun sadar, tidak ada hal berharga yang bisa kami tinggalkan untuknya. Bahkan jika kami mendoakan agar beliau panjang umur, rasanya doa kami tidak sebanding dengan kekuatan doa yang beliau miliki.
Bapak Yos adalah sosok yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ada seseorang yang dengan tulus meminta saya untuk terus menulis apa pun itu. Dan kata-kata itu keluar dari mulut Bapak Yos.Barangkali, itulah alasan tulisan ini ada.
Larantuka, April 2026
Mertin Lusi

























