Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan


 

 

 

 

 

 PELUANG USAHA KAIN TENUN IKAT TRADISIONAL ENDE LIO 

DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN

Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang

 

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan

Dosen Pengampu: Hillary Fridolin Lupikuni, S.Pd.,M.Pd

Disusun

YOHANES SERGIUS LOKO

240101045

ATRIANAN BANA

240101008

NOVIA B. HERE

240101033

MARIA S. NDEU

240101027

 

E-MAIL

nofiahere@gmail.com Dhianabana335@gmail.com ,sofindeu47@gmail.comlokoilus@gmail.com

 

 

UNIVERSITAS SAN PEDRO KUPANG

Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Tahun 2026

 

ABSTRAK

Kain tenun merupakan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu komoditas unggulan Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Kota Kupang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peluang usaha kain tenun dalam perspektif kewirausahaan melalui pendekatan observasi pada masyarakat pengrajin dan pelaku usaha di Kota Kupang. Metode yang digunakan adalah studi observasi kualitatif dengan teknik wawancara mendalam dan pengamatan langsung terhadap sentra-sentra produksi kain tenun, pasar tradisional, dan gerai oleh-oleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain tenun Kota Kupang memiliki peluang usaha yang sangat besar, baik dari sisi produksi, pemasaran digital, maupun pengembangan produk turunan berbasis motif lokal. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan modal, minimnya akses teknologi, serta lemahnya jaringan pemasaran. Dengan pendekatan kewirausahaan berbasis kearifan lokal, kain tenun Kota Kupang berpotensi menjadi industri kreatif yang berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan pengrajin.

Kata Kunci: kain tenun, kewirausahaan, Kota Kupang, peluang usaha, industri kreatif

 

I. PENDAHULUAN

Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, salah satunya adalah seni tenun. Kain tenun bukan sekadar pakaian adat, melainkan identitas budaya yang mengandung nilai filosofis, simbol, dan keindahan seni yang tinggi. Seiring perkembangan zaman, kain tenun tidak lagi hanya digunakan untuk keperluan adat atau acara tertentu saja, tetapi sudah mulai diminati sebagai busana sehari-hari, oleh-oleh khas, hingga produk kerajinan yang bernilai jual tinggi.

Ditinjau dari sisi ekonomi, kain tenun merupakan komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin tenun di Kota Kupang masih berproduksi dalam skala rumah tangga, dengan cara yang sederhana, dan pemasaran yang meski sudah ada jaringan, namun pengelolaan biaya produksi masih menjadi tantangan. Belum banyak yang mengelola pembuatan dan penjualan kain tenun ini dengan prinsip-prinsip kewirausahaan yang benar, yaitu melihatnya sebagai peluang bisnis yang harus dikelola, dikembangkan, dan diinovasikan agar menghasilkan keuntungan yang maksimal.

Kewirausahaan dalam sektor kerajinan tenun sangat diperlukan agar warisan budaya ini tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mampu menjadi sumber pendapatan utama yang menyejahterakan masyarakat, sebagaimana yang dibuktikan oleh para pengrajin yang sudah lama berkecimpung di dunia ini. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk melihat seberapa besar peluang usaha kain tenun di Kota Kupang berdasarkan pengalaman nyata pelaku usaha dan bagaimana pandangan kewirausahaan dalam mengembangkan potensi tersebut.

Artikel ini disusun berdasarkan hasil observasi langsung di lapangan, dengan tujuan mengidentifikasi peluang usaha kain tenun di Kota Kupang, menganalisis tantangan yang dihadapi para pelaku usaha, serta merumuskan strategi kewirausahaan yang dapat diterapkan untuk mengoptimalkan potensi industri kain tenun lokal.

 

 

 

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kewirausahaan dan Peluang Usaha

Kewirausahaan (entrepreneurship) merupakan proses dinamis dalam menciptakan nilai tambah melalui dedikasi dan upaya keras dengan mempertimbangkan risiko finansial, psikologis, dan sosial yang sepadan dengan imbalan berupa kepuasan dan kebebasan ekonomi (Hisrich & Peters, 2002). Dalam perspektif modern, kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan pendirian usaha baru, tetapi juga mencakup kemampuan mengidentifikasi peluang, mengorganisasi sumber daya, dan menciptakan inovasi.

Peluang usaha menurut Drucker (1985) adalah celah antara kebutuhan pasar yang belum terpenuhi dengan kemampuan seorang wirausahawan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Identifikasi peluang usaha memerlukan kepekaan terhadap tren pasar, kemampuan analisis lingkungan bisnis, dan kreativitas dalam mengombinasikan sumber daya yang tersedia. Dalam konteks industri kreatif berbasis budaya, peluang usaha sering kali muncul dari perpaduan antara nilai tradisi dan tuntutan modernitas.

 

 

2.2 Industri Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang bersumber dari kreativitas, keterampilan, dan bakat individu, serta memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui eksploitasi kekayaan intelektual (DCMS, 2001). Di Indonesia, pemerintah telah mengidentifikasi 17 subsektor industri kreatif, di antaranya kriya (kerajinan tangan) dan fashion yang menjadi wadah bagi industri kain tenun.

Kearifan lokal dalam konteks kewirausahaan dapat menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh pesaing. Motif-motif tenun NTT yang khas dan autentik, proses pembuatan yang membutuhkan keahlian khusus, serta nilai budaya yang melekat pada setiap lembar kain tenun merupakan aset tak berwujud (intangible asset) yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global.

2.3 Kain Tenun NTT sebagai Komoditas Budaya

Kain tenun NTT, yang dikenal dengan sebutan kain ikat (tais), merupakan produk tekstil tradisional yang dibuat dengan teknik menenun menggunakan benang yang telah diwarnai dengan pewarna alami maupun sintetis. Setiap daerah di NTT memiliki motif khas yang mencerminkan filosofi, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakatnya. Kota Kupang sebagai pusat perdagangan menampung kain tenun dari berbagai kabupaten seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Rote Ndao, Sabu Raijua, Flores, dan lain-lain.

Nilai ekonomi kain tenun NTT terus meningkat seiring meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap produk lokal dan tren fashion yang mengadaptasi motif tradisional. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, ekspor kain tenun NTT mengalami pertumbuhan rata-rata 15-20% per tahun dalam lima tahun terakhir, dengan pasar utama di Pulau Jawa, Bali, dan mancanegara.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau memaparkan fakta-fakta yang ada di lapangan mengenai peluang usaha kain tenun dan penerapan kewirausahaan pada masyarakat Kota Kupang sesuai dengan apa yang diamati dan didapatkan dari narasumber.

 

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Perumahan Belo Prima, Kota Kupang. Lokasi ini dipilih karena merupakan tempat tinggal dan lokasi usaha dari narasumber utama, yaitu Ibu Oliva, yang merupakan pelaku usaha tenun yang sudah berpengalaman bertahun-tahun.

3.3 Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Ibu Oliva, seorang pengrajin dan pelaku usaha kain tenun yang sudah menekuni usaha ini sejak usia dini hingga mampu menjadikan tenun sebagai tumpuan hidup ekonomi keluarga.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan menggunakan metode observasi (pengamatan langsung) dan wawancara tidak terstruktur. Peneliti melihat dan mencatat sejarah usaha, proses pembuatan, cara pengelolaan usaha, harga jual, hingga kendala yang dihadapi. Selain itu, dilakukan pencatatan data pendapatan dan pengeluaran usaha berdasarkan keterangan narasumber.

 

3.5 Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dianalisis melalui tahapan pengumpulan data, penyederhanaan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis kemudian disusun secara naratif untuk menjawab rumusan masalah penelitian.

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara mendalam yang dilakukan kepada Ibu Oliva di Perumahan Belo Prima, diperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana usaha tenun dijalankan dan seberapa besar peluangnya bagi masyarakat lokal.

1. Sejarah dan Pengalaman Usaha

Ibu Oliva mengaku telah menekuni dunia tenun sejak usia yang sangat muda, yaitu sekitar umur 12 atau 13 tahun, saat beliau masih duduk di bangku kelas 4 SD di kampung halamannya di Flores. Keterampilan ini sudah dijalani sejak kecil dan kemudian dibawa serta dikembangkan hingga beliau menetap dan berusaha di Kota Kupang. Pengalaman panjang ini menjadikan Ibu Oliva sangat mahir dalam teknik pembuatan tenun dan memahami selera pasar.

2. Kapasitas Produksi dan Harga Jual

Dalam satu bulan, Ibu Oliva mampu menyelesaikan dan menjual sekitar 3 hingga 4 helai kain tenun ikat utuh. Harga jual untuk satu helai kain tenun ikat tersebut adalah Rp1.200.000,-. Selain kain ukuran besar, Ibu Oliva juga memproduksi kain ukuran kecil seperti selendang dengan harga jual Rp150.000,- per buah.

Dari hasil usaha ini, dampak ekonominya sangat nyata. Ibu Oliva menuturkan bahwa seluruh kebutuhan hidup keluarga, biaya pendidikan kedua putranya, hingga aset berupa rumah tempat tinggal di Perumahan Belo Prima mampu dibeli dan dipenuhi sepenuhnya dari hasil jerih payah usaha tenun ini. Hal ini membuktikan bahwa usaha tenun bukan sekadar hobi atau kerja sampingan, melainkan usaha utama yang sangat menjanjikan.

3. Proses Produksi dan Kendala

Meskipun berada di Kota Kupang, dalam proses produksi Ibu Oliva masih harus mengirimkan bahan kain ke daerah asalnya di Flores untuk proses pewarnaan. Alasannya, harga bahan dan biaya jasa pewarnaan di Kupang dinilai jauh lebih mahal dibandingkan di Flores. Selain itu, kualitas hasil pewarnaan di daerah asal dianggap lebih bagus, awet, dan sesuai dengan standar tenun tradisional.

Kendala lain yang dirasakan adalah naiknya harga bahan baku utama yaitu benang. Peningkatan harga benang yang tidak diimbangi dengan kenaikan harga jual yang setara membuat keuntungan yang diterima menjadi sedikit berkurang atau menipis. Meski demikian, usaha ini tetap dijalankan karena permintaan pasar yang terus ada dan stabil.

4. Sistem Pemasaran dan Penjualan

Dari sisi pemasaran, Ibu Oliva sudah memiliki jaringan yang cukup kuat dan luas. Kain tenun hasil karya beliau disuplai ke toko-toko penjual kain tenun di Kota Kupang, salah satunya adalah Toko Cinta Kasih serta beberapa toko langganan lainnya. Strategi penjualan yang dilakukan Ibu Oliva adalah menjual kainnya dengan harga sedikit di bawah harga pasaran atau harga sesungguhnya. Strategi ini terbukti efektif membuat produknya cepat laku dicari pembeli dan membuat para pemilik toko tetap setia mengambil pasokan dari beliau.

 

5. Dokumentasi Kegiatan dan Hasil Penelitian

Berikut adalah dokumentasi nyata dari kegiatan observasi, wawancara, proses pembuatan, hingga hasil produk kain tenun milik Ibu Oliva di lokasi penelitian:

Gambar 1.



Suasana wawancara dan diskusi bersama Ibu Oliva selaku pelaku usaha, yang sedang menjelaskan sejarah dan pengalaman beliau menekuni seni tenun sejak usia muda hingga menjadi sumber penghidupan.

 

Gambar 2



Proses awal pembuatan kain tenun, yaitu kegiatan merangkai dan menyusun benang menggunakan alat tenun tradisional sederhana yang masih digunakan hingga saat ini.

 

 

 

 

Gambar 3



Tahap penataan benang pada kerangka alat tenun sebagai persiapan pembentukan motif dan corak kain, memerlukan ketelitian dan kesabaran tinggi.

Gambar 4



Ibu Oliva menjelaskan tantangan dalam usaha, seperti kendala biaya bahan baku dan proses pewarnaan yang masih harus dikirim ke daerah asal di Flores demi menjaga kualitas warna.

Gambar 5



Foto bersama tim peneliti dengan Ibu Oliva, memperlihatkan berbagai hasil karya kain tenun ikat dengan motif khas yang memiliki nilai jual tinggi hingga Rp1.200.000,- per helai.

Gambar 6



Beragam jenis produk kain tenun yang dihasilkan, mulai dari kain ukuran besar hingga selendang, dengan corak dan warna yang bervariasi sesuai permintaan pasar dan selera pembeli

Gambar 7



Detail keindahan motif dan kerapian tenunan hasil karya Ibu Oliva, yang menjadi keunggulan utama dan alasan mengapa produk ini selalu dicari dan memiliki nilai jual tinggi.

4.2 Analisis Data & Identifikasi Masalah

Berdasarkan data yang dikumpulkan di atas, dilakukan analisis mendalam untuk melihat faktor apa saja yang menjadi pendukung dan penghambat usaha menggunakan metode Analisis SWOT:

 

FAKTOR INTERNAL (Kondisi dari dalam usaha)

Kekuatan (Strength)

1. Pengalaman dan keahlian sangat tinggi, sudah puluhan tahun menekuni bidang ini.

2. Kualitas produk sangat baik, motif khas, warna awet, dan kerapian tenunan terjaga.

3. Memiliki jaringan pemasaran yang sudah pasti dan pelanggan tetap yang percaya.

4. Modal usaha sudah mandiri, murni dari hasil usaha sendiri, tidak bergantung pinjaman.

Kelemahan (Weakness)

1. Belum efisien biaya: Proses pewarnaan harus dikirim ke Flores → menambah biaya transportasi dan memperlama waktu pengerjaan.

2. Manajemen keuangan masih sederhana, belum ada pencatatan rinci untung dan rugi secara tertib.

3. Variasi produk masih terbatas, hanya membuat kain besar dan selendang, belum ada produk turunan yang bernilai tambah tinggi.

FAKTOR EKSTERNAL (Pengaruh dari luar usaha)

 Peluang (Opportunity)

1. Permintaan pasar masih sangat tinggi dan stabil setiap bulannya.

2. Potensi pasar wisatawan dan pasar oleh-oleh khas yang belum digarap secara maksimal.

3. Kain tenun makin dicari masyarakat karena menjadi identitas budaya Nusa Tenggara Timur.

Ancaman (Threat)

1. Kenaikan harga bahan baku utama (benang dan pewarna) yang tidak menentu.

2. Munculnya produk tenun pabrikan yang dijual lebih murah meski kualitas dan kerumitan berbeda jauh.

 

Identifikasi Masalah Utama (Paling Berdampak ke Pendapatan):

Dari hasil analisis di atas, ditemukan 2 masalah utama yang paling besar pengaruhnya terhadap penurunan keuntungan: 

1. Biaya Produksi Tinggi: Pengiriman bahan ke luar daerah membuat biaya membengkak dan keuntungan bersih menjadi menipis. 

2. Nilai Tambah Rendah: Masih menjual produk dalam bentuk kain mentah, sehingga keuntungan besar justru diambil oleh pengecer atau toko penjual.

 

 

 

4.3 Perancangan Solusi 

Berdasarkan masalah yang telah diidentifikasi, dirancang solusi yang sederhana, murah, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kemampuan serta kebiasaan Ibu Oliva:

1. Solusi Bidang Produksi & Efisiensi Biaya 

Masalah: Pewarnaan mahal dan lama karena harus dikirim ke Flores. 

Solusi: Mencari alternatif pemasok bahan baku dan pewarna berkualitas di wilayah Kota Kupang.

Meskipun harga bahan di Kupang mungkin sedikit lebih mahal, namun biaya kirim, ongkos angkut, dan waktu tunggu ke Flores bisa dihapus total. Secara hitungan akhir, pengeluaran akan jauh lebih hemat dan proses produksi jadi jauh lebih cepat selesai.

2. Solusi Bidang Produk & Nilai Tambah 

Masalah: Hanya menjual kain mentah, keuntungan yang diterima sangat sedikit. 

Solusi: Pengembangan Variasi Produk Sederhana. Mulai membuat produk turunan kecil seperti tas kain, dompet, atau baju jadi sederhana.

Nilai jual produk jadi bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat lebih tinggi dibanding sekadar kain mentah. Ditambah dengan kemasan sederhana menggunakan plastik bening dan label tulisan tangan bertuliskan "Karya Asli Tenun Kupang", produk akan terlihat jauh lebih berharga dan istimewa.

3. Solusi Bidang Pemasaran & Keuangan

 Pemasaran: Memanfaatkan telepon genggam biasa untuk memotret hasil karya, lalu dibagikan ke kontak pembeli atau media sosial. Tanpa biaya, jangkauan pasar jadi lebih luas.

Keuangan: Menggunakan buku tulis biasa untuk mencatat pengeluaran beli bahan dan pemasukan hasil jual, supaya pemilik usaha tahu persis berapa keuntungan bersih yang didapat.

 Validasi Solusi:

Solusi ini sudah disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan keterampilan pengrajin, tidak mengubah cara kerja tradisional, dan langsung bisa dicoba diterapkan kapan saja.

 

4.4 Pembahasan

Ditinjau dari perspektif kewirausahaan, pengelolaan usaha kain tenun yang dilakukan oleh Ibu Oliva memberikan gambaran nyata bahwa usaha ini memiliki peluang yang sangat besar dan sangat menjanjikan. Berikut adalah analisisnya:

 

1. Peluang Usaha dan Nilai Ekonomi

Data menunjukkan bahwa dalam satu bulan, omzet yang bisa didapatkan dari penjualan kain besar saja bisa mencapai Rp3.600.000 hingga Rp4.800.000 belum termasuk penjualan selendang atau aksesoris lain. Angka ini sangat signifikan dan membuktikan bahwa kain tenun adalah komoditas bernilai tinggi. Kemampuan Ibu Oliva menyekolahkan anak dan membeli rumah murni dari hasil tenun adalah bukti nyata bahwa kewirausahaan di bidang budaya mampu mengangkat taraf hidup masyarakat. Keunikan motif dan kualitas tenun menjadi keunggulan kompetitif utama yang tidak bisa digantikan oleh produk lain.

 

2. Strategi Pemasaran

Secara kewirausahaan, strategi yang diterapkan Ibu Oliva sudah sangat tepat. Beliau telah menerapkan prinsip keunggulan biaya, yaitu menjual dengan harga yang sedikit lebih murah dibandingkan harga pasaran. Hal ini membuat produknya memiliki daya saing tinggi, langganan tetap, dan produk yang cepat terjual. Memiliki koneksi dengan toko-toko besar seperti Toko Cinta Kasih juga menunjukkan bahwa jaringan pemasaran sudah terbangun dengan baik, meskipun masih berpusat di pasar lokal Kota Kupang.

 

3. Kendala dan Tantangan Pengelolaan

Meskipun peluangnya besar, masih terdapat aspek yang perlu diperbaiki agar keuntungan lebih maksimal. Masalah utama yang ditemukan adalah Efisiensi Produksi. Masih harus mengirim bahan ke Flores untuk pewarnaan menambah biaya transportasi dan waktu pengerjaan. Secara manajemen usaha, hal ini adalah biaya tambahan yang sebaiknya bisa diminimalisir jika di Kupang tersedia bahan pewarna dengan harga bersaing atau jika pengrajin sendiri menguasai teknik pewarnaan.

Selain itu, kenaikan harga benang adalah risiko usaha yang harus dihadapi. Di sini dibutuhkan inovasi wirausaha, misalnya melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap atau mencari pemasok bahan baku baru yang harganya lebih stabil namun kualitas tetap terjaga. Saat ini, Ibu Oliva masih menanggung penurunan keuntungan sendiri tanpa menaikkan harga jual demi menjaga langganan, yang berarti nilai tambah usaha masih banyak terserap oleh biaya produksi.

 

4. Potensi Pengembangan

Kewirausahaan menuntut kreativitas. Saat ini Ibu Oliva sudah berhasil, namun pasarnya masih terbatas pada toko-toko di Kupang. Peluang usaha bisa diperluas lagi jika produknya tidak hanya dijual ke toko, tetapi juga dikemas lebih menarik untuk dijual ke wisatawan atau dikembangkan lewat media sosial. Produk juga bisa divariasikan, tidak hanya kain, tapi juga produk jadi baju atau tas, agar nilai jualnya semakin bertambah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa industri kain tenun di Kota Kupang memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai usaha yang berkelanjutan dalam kerangka kewirausahaan berbasis kearifan lokal. Keunikan motif, nilai budaya yang tinggi, dan meningkatnya permintaan pasar nasional maupun internasional merupakan modal dasar yang kuat bagi pengembangan industri ini.

Lima peluang usaha utama yang teridentifikasi—yaitu produksi kain tenun premium, pengembangan fashion berbasis motif tenun, usaha souvenir dan dekorasi, pemasaran digital, dan wisata edukatif—dapat menjadi fondasi bagi tumbuhnya wirausahawan-wirausahawan baru yang mampu mengangkat kain tenun NTT ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekatan kewirausahaan yang inovatif, didukung oleh strategi diferensiasi, transformasi digital, pengembangan kemitraan, dan peningkatan kapasitas SDM, merupakan kunci keberhasilan pengembangan industri kain tenun Kota Kupang.

5.2 Saran

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran dapat disampaikan kepada berbagai pihak yang berkepentingan:

• Bagi pengrajin dan pelaku usaha: Aktif mengikuti pelatihan kewirausahaan dan literasi digital, memanfaatkan platform e-commerce untuk memperluas pasar, serta membangun branding yang kuat berbasis nilai budaya dan autentisitas produk.
• Bagi pemerintah daerah: Memperkuat program pemberdayaan pengrajin tenun, memfasilitasi akses pembiayaan melalui lembaga keuangan, melindungi HKI motif tenun lokal, serta mengintegrasikan kain tenun dalam paket wisata budaya NTT.
• Bagi perguruan tinggi dan lembaga pendidikan: Mengembangkan kurikulum kewirausahaan berbasis industri kreatif lokal, membuka program studi atau konsentrasi yang mendukung pengembangan industri kain tenun, serta aktif melakukan riset dan pengabdian masyarakat di bidang ini.
• Bagi investor dan lembaga keuangan: Mengembangkan produk pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha pengrajin kain tenun, termasuk skema kredit mikro dengan persyaratan yang tidak memberatkan pelaku usaha kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drucker, P. F. (1985). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Harper & Row.

DCMS. (2001). Creative Industries Mapping Document 2001. Department for Culture, Media and Sport, United Kingdom.

Hisrich, R. D., & Peters, M. P. (2002). Entrepreneurship. McGraw-Hill.

Noor, M. (2013). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Ekonomi Kreatif. Jurnal Ilmu Administrasi dan Sosial, 2(1), 45–58.

Pemerintah Provinsi NTT. (2023). Laporan Tahunan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kupang: Pemprov NTT.

Purnomo, R. A. (2016). Ekonomi Kreatif: Pilar Pembangunan Indonesia. Ziyad Visi Media.

Schumpeter, J. A. (1934). The Theory of Economic Development. Harvard University Press.

Soedjono, E. S. (2019). Tenun Ikat Nusantara: Warisan Budaya yang Hidup. Balai Pelestarian Nilai Budaya.

Suryana. (2013). Kewirausahaan: Kiat dan Proses Menuju Sukses (Edisi 4). Salemba Empat.

Tambunan, T. T. H. (2012). Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Indonesia: Isu-Isu Penting. LP3ES.

Wibowo, A., & Pramudyo, A. (2020). Strategi Pengembangan UMKM Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 22(1), 1–12.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Perjalanan Refleksi Mengikuti Semana Santa di Larantuka 2026

 

Semana Santa di Larantuka bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengajak setiap peziarah masuk lebih dalam ke dalam misteri iman, pengorbanan, dan kasih. Saat kaki pertama kali menjejakkan tanah di kota kecil ini, suasana hening yang sarat makna langsung terasa seolah waktu melambat, memberi ruang bagi hati untuk mendengar hal hal yang kerap terabaikan dalam hiruk-pikuk kehidupan sehari hari.


Perjalanan ini berawal dari sebuah perjumpaan sederhana pada Juli 2025. Saat itu, saya bertemu dengan Kak Tesa Tukan, seorang guru agama Katolik dari Lewotala, di sela kegiatan Perpas. Ia memberikan oleh-oleh berupa gambar Tuan Ma. Lebih dari sekadar pemberian, Kak Tesa juga berbagi kisah tentang pengalaman imannya saat berdoa di kapela Tuan Ma setiap sore. Cerita hidupnya begitu membekas, diam-diam menggerakkan hati saya untuk suatu hari datang dan mengalami sendiri kedalaman iman di Larantuka.

         Bersama keluarga Lewotala

Sejak saat itu, niat tersebut saya bawa dalam doa setiap malam. Sebulan menjelang Paskah, saya mulai menjalin komunikasi rutin dengan Kak Tesa dan beberapa teman yang menetap di Larantuka untuk mendapatkan informasi pendaftaran sebagai peserta ziarah. Ketika akhirnya link pendaftaran dibuka, saya menjadi peserta pertama yang mendaftar, disusul Ayu di urutan kelima. Awalnya, cukup banyak teman yang berencana ikut, namun satu per satu harus mengurungkan niat karena berbagai tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan persiapan, kami memutuskan untuk menginap di rumah seorang teman, Ano, yang kini menjadi pegiat literasi di Kabupaten Mappi, Papua. Ano dan keluarganya dengan tulus mempersilakan rumah mereka kami tempati selama seminggu. Letaknya yang strategis di Kelurahan Larantuka menjadi anugerah tersendiri, karena berada di jalur prosesi Jumat Agung dan dekat dengan berbagai fasilitas umum. Katedral, toko, ATM, hingga kapela Tuan Ma dan Tuan Ana dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Bahkan, doa dari kapela Tuan Ma dapat kami dengar dengan jelas dari rumah.

             Kapela Tuan Berdiri


 Selasa sore, 31 Maret 2026, saya bersama Ayu, Ruth, dan Bibi Monika tiba di Larantuka. Kami disambut oleh Bapak Yos, bapak dari Ano, yang merupakan pensiunan guru STM Larantuka. Kehadiran beliau menjadi berkat tersendiri bagi kami. Dengan penuh perhatian, Bapak Yos telah menyiapkan banyak hal sebelum kedatangan kami. Meski kini menetap di Kupang, beliau pulang ke Larantuka untuk merayakan Paskah sekaligus memastikan kami mendapatkan tempat tinggal yang nyaman.

Hal-hal kecil yang beliau lakukan mencerminkan ketulusan hati yang besar. Meski tidak tinggal serumah karena memiliki rumah lain di Lebao,Bapak Yos selalu meluangkan waktu untuk datang dan memastikan kami dalam keadaan baik. Setiap pertemuan dengannya selalu diisi dengan cerita-cerita tentang pelayanan yang ia jalani. Kisah kisah itu sederhana, namun sarat makna, dan tanpa disadari menumbuhkan inspirasi yang mendalam dalam diri kami.

        Bersama Bapak Yos

Meskipun telah pensiun, semangat hidup dan kerja Bapak Yos tidak pernah surut. Ia tetap giat bekerja, terutama demi mendukung anak bungsunya yang sedang menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan di Kupang. Semua mereka merupakan perantau. Bapak Yos di kupang bersama anak laki-laki bungsunya sedangkan dua lainnya menetap di Lembata. Kami bahkan sempat bertemu dengan putrinya yang bertugas di Lembata dan pulang untuk merayakan Paskah bersama keluarga di Larantuka.

Dari awal perjalanan ini, saya mulai menyadari bahwa ziarah bukan hanya tentang tempat yang dituju, tetapi juga tentang orang-orang yang dihadirkan Tuhan di sepanjang jalan. Dalam kebaikan sederhana, dalam keramahan, dan dalam cerita-cerita kehidupan yang dibagikan, saya merasakan bahwa Tuhan sudah bekerja bahkan sebelum prosesi Semana Santa itu sendiri dimulai.

        Prosesi Laut


Rabu 01 April  2026.

Meskipun kami berempat tinggal sendiri di rumah Bapak Yos, Kak Tesa selalu menjaga komunikasi, baik melalui pesan maupun telepon, untuk mengatur jadwal kami ke mana kami akan pergi dan apa yang akan kami lakukan.

Rabu pagi pukul enam, kami berangkat ke Pantai Palo bersama Kak Tesa dan adiknya, setelah membuat janji malam sebelumnya. Tujuan kami adalah berziarah ke Kapela Tuan Berdiri di Wureh, Pulau Adonara. Patung Tuan Berdiri, atau Yesus yang berdiri, menjadi pusat devosi umat di sana.

Sesampainya di pantai, ternyata ribuan peziarah sudah lebih dahulu datang dan mengantri untuk naik kapal. Kami segera melapor, dan setelah jumlah penumpang genap lima belas orang, kapal pun berangkat, menyeberangi Selat Gonzalu, sebuah pengalaman yang cukup menegangkan bagi saya yang tidak terbiasa dengan laut.

           Bukit Doa Fatima

Namun perjalanan itu juga membahagiakan. Laut pagi yang tenang, kapal-kapal yang hilir mudik membawa peziarah, dan suasana yang hidup sejak pagi hingga sore menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami tiba. Ternyata, peziarah sudah datang sejak subuh, sehingga antrian menuju kapela Tuan berdiri  sangat panjang. Di bawah terik matahari yang semakin meninggi, setiap langkah kecil ke depan menjadi bagian dari proses yang bukan hanya menguji kesabaran, tetapi juga mengajak hati untuk hening dan menyadari kehadiran Tuhan. Maju satu langkah, lalu berhenti hingga dua puluh menit,terus berulang, seperti berjemur di bawah matahari. Keringat, panas, dan rasa ingin menyerah bercampur menjadi satu. Kami mulai mengantri sejak pukul delapan pagi, dan baru bisa mencium kaki Tuan Berdiri hampir pukul satu siang.

     Misa kamis Putih- Katedral

Lapar, lelah, sekaligus berdebar menanti momen perjumpaan itu. Sebelumnya kami mendengar berbagai kisah dari para peziarah, ada yang melihat mata patung berkedip, ada yang merasakan seolah patung itu hidup dan bernapas, bahkan ada yang datang dengan niat tidak tulus lalu pulang dalam keadaan gelisah atau sakit.

Namun ada pula yang kembali berkali-kali karena doa-doanya dikabulkan, ada yang disembuhkan dari penyakit berat, dan ada yang pulang dengan hati penuh sukacita.

Antrian  itu sendiri menjadi ruang refleksi. Tidak ada perbedaan status, usia, atau latar belakang. Semua berdiri sejajar sebagai peziarah yang merindukan sentuhan kasih Ilahi. Wajah-wajah lelah justru memancarkan ketulusan. Dalam diam, doa dipanjatkan, harapan diserahkan, dan beban hidup perlahan dilepaskan.



Antrean itu mengajarkan bahwa perjalanan iman bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang bagaimana kita setia melangkah.

Ketika akhirnya tiba di hadapan Tuan Berdiri, waktu seolah berhenti. Hanya ada diri, keheningan, dan kehadiran yang terasa begitu dekat. Mencium kaki Tuan Berdiri bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah perjumpaan batin penuh haru, syukur, dan air mata yang tak tertahan.

Dalam momen singkat itu, segala pergumulan hidup terasa dipeluk tanpa syarat.Pengalaman ini mengajarkan bahwa iman tidak selalu hadir dalam kata-kata panjang, tetapi dalam gestur sederhana yang penuh makna. Mencium Tuan Berdiri menjadi simbol penyerahan diri, mengakui keterbatasan sebagai manusia dan percaya bahwa kasih Tuhan selalu cukup.Setelah itu, langkah terasa lebih ringan. Bukan karena semua masalah hilang, tetapi karena ada keyakinan bahwa kita tidak berjalan sendiri.

             

Dari kapela, kami menerima air suci dan minyak suci yang dibagikan panitia yang oleh banyak orang dipercaya membawa kesembuhan dan perlindungan.

Setelah kembali ke Larantuka, kami langsung menuju Kapela Tuan Meninu. Di sini, kami hanya boleh masuk dengan membawa lilin. semua barang lain ditinggalkan di luar. Kami kembali mengantri untuk mencium dan berdoa. Kali ini cukup singkat karena tidak sebnyak di Wureh.

Usai berdoa, kami mendapat pasir putih dalam bungkusan kecil. Banyak peziarah percaya bahwa pasir itu membawa berkat untuk kesembuhan, perlindungan, bahkan keselamatan.

Pasir itu menjadi simbol hidup manusia seperti butiran pasir, kecil, rapuh, dan terbatas. Namun justru dalam keterbatasan itulah Tuhan berkarya.

Perjalanan berlanjut ke Kapela Mgr. Gabriel Manek di Lebao. Di sana terdapat peti jenazah beliau yang masih utuh setelah penggalian ulang beberapa tahun lalu. Ribuan orang datang berziarah, dan banyak yang bersaksi doanya dikabulkan.



Hari itu kami jalani dengan penuh rasa syukur, terlebih karena Kak Tesa yang dengan tulus mengatur dan menemani perjalanan kami.

Malam harinya, kami mengikuti Lamentasi di Katedral. Setelah itu, suasana berubah drastis. Bunyi-bunyian seng yang diseret dan dipukul, teriakan “Trewas… Trewas…”, menggema di seluruh kota selama lima belas menit tanda dimulainya masa perkabungan.

Setelah itu, Larantuka menjadi sunyi. Jalan prosesi diberkati, kendaraan tidak lagi diperbolehkan melintas. Malam itu terasa mencekam bagi kami berempat yang baru pertama kali mengalami Semana Santa.



Kamis 02 April 2026

Pukul tujuh pagi, kami berempat berjalan kaki menuju Gereja Katedral untuk mengikuti misa pemberkatan minyak suci dan pembaruan janji imamat bersama Bapa Uskup dan para imam Keuskupan Larantuka. Sepanjang perjalanan, terlihat bapak dan mama dari masing-masing suku dengan penuh kesungguhan mempersiapkan Armida mereka. Ada pula yang merapikan turo, tempat menggantung  lilin yang akan digunakan saat prosesi Jumat Agung. Pemandangan ini sungguh mengharukan, penuh ketulusan dan pengabdian.

Usai misa, sekitar pukul sepuluh, kami bergegas mengantri di depan Kapela Tuan Ma. Bersama ribuan peziarah lainnya, kami menanti saat pintu kapela dibuka, momen langka ketika sosok Tuan Ma dapat dilihat secara langsung. Kesempatan ini hanya terjadi sekali dalam setahun, tepat pada perayaan Tri Hari Suci. Sebuah momen yang sakral dan sangat dinantikan.



Panas, haus, dan lapar bercampur menjadi satu. Berjam-jam kami berdiri dalam antrian.. Tua dan muda, semua setia menunggu giliran. Sama seperti pengalaman di Kapela Tuan Berdiri, air mata kembali tumpah saat berhadapan dengan Tuan Ma. Patung Bunda Maria ini bukan sekadar simbol, melainkan warisan iman yang hidup dan diwariskan turun-temurun.

Rasa haru tak terbendung saat menatap wajah bunda Tuan Ma. Segala pergumulan, harapan, dan doa diserahkan sepenuhnya seperti seorang anak yang akhirnya kembali bertemu ibunya setelah sekian lama. Ada rasa merinding sekaligus lega. Sebuah perjumpaan yang sangat pribadi, seolah hanya terjadi antara diri dan Bunda.

Di kapela ini, kami juga memperoleh air suci. Banyak orang yang kami temui bersaksi tentang kesembuhan dan pertolongan yang mereka alami, termasuk para ibu yang dipermudah dalam proses persalinan.



Setelah itu, kami bergegas menuju Kapela Tuan Ana yang letaknya tidak jauh. Namun antrian yang sangat panjang membuat kami memutuskan untuk tidak melanjutkan. Kami memilih kembali, mempertimbangkan waktu untuk mempersiapkan diri mengikuti misa Perjamuan Tuhan pada malam Kamis Putih, yang dilanjutkan dengan adorasi malam. Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana sendiri akan kembali dibuka setelah misa.

Hari itu sepenuhnya diisi dengan doa. Makan dan minum seolah bukan lagi prioritas. Waktu terasa dipersembahkan seluruhnya untuk hening dan berjumpa dengan Tuhan. Kami hanya pulang sebentar untuk mandi dan minum, lalu kembali lagi ke kapela. Jika kami sebagai peziarah saja sudah merasa begitu padat, apalagi panitia dan anggota suku yang terlibat langsung tentu jauh lebih menguras tenaga karena seluruh waktu mereka dipenuhi oleh rangkaian ritual.

Jumad,03 April 2026

Sebagian peziarah bahkan belum sempat tidur setelah misa Kamis Putih. Banyak yang tetap mengantri untuk mencium Tuan Ma maupun Tuan Ana. Sejak dini hari, suasana sudah ramai oleh lalu lalang peziarah.



Pukul tujuh pagi, kegiatan dilanjutkan dengan Jalan Salib di Taman Doa Pieta, yang terletak di depan Kapela Tuan Ana. Ada yang mengikuti Jalan Salib, ada yang tetap mengantri di kapela, semua larut dalam cara masing-masing untuk berdoa.

Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi laut. Sebuah  tradisi yang sangat khas. Prosesi ini dimulai dari Kapela Tuan Meninu menuju Pantai Kuce, mengantar Tuan Meninu, yaitu Salib Yesus tersalib, melalui jalur laut. Ribuan peziarah turut serta menggunakan kapal dan perahu, menyusuri Selat Gonzalu sambil berdoa dan bernyanyi. Sementara itu, peziarah lainnya menanti di Pantai Kuce dengan doa yang sama.



Selat Gonzalu, yang terletak di antara Pulau Adonara dan Flores, tampak tenang di permukaan, namun memiliki arus yang kuat dan berbahaya. Meski pernah memakan korban, setiap tahun ribuan orang tetap datang dengan iman yang teguh.

Sekitar pukul sebelas siang, prosesi dimulai. Perahu utama yang membawa tuan meninu berada di barisan terdepan, diikuti perahu-perahu kecil yang didayung, dan kapal mesin di bagian belakang. Tidak ada satu pun yang boleh mendahului perahu utama.

Kami yang menanti di tepi pantai tak sabar menunggu. Di kejauhan, prosesi bergerak perlahan melawan arus. Panas dan lelah tidak menghentikan doa dan nyanyian mereka.

Tak lama kemudian, Pulau Adonara tampak mulai gelap dan hujan turun. Beberapa warga mengatakan bahwa itu pertanda Tuan Meninu akan segera tiba karena diyakini Ia datang bersama hujan.



Burung-burung mulai terbang rendah. Awan putih menggumpal turun perlahan. Laut yang semula tenang mulai beriak. Awan gelap mendekat.

Saya yang duduk di tepi pantai mulai diliputi rasa takut sekaligus takjub. Suara doa dari tengah laut mulai terdengar, disertai deru mesin kapal yang semakin mendekat.

Perahu utama kini terlihat jelas. Burung-burung beterbangan rendah, bahkan ikan-ikan melompat di sekitar para pendayung. Hujan turun sangat lebat.

Tanpa aba-aba, semua orang menutup payung, menanggalkan topi, dan larut dalam momen itu. Air mata tumpah tanpa bisa ditahan. Untuk pertama kalinya, saya tidak takut pada hujan.Sungguh, Tuhan berkuasa atas langit dan bumi.

Pengalaman ini begitu sakral, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan saat menulis ini, air mata kembali mengalir. Ada hal-hal yang melampaui logika manusia yang hanya bisa dipahami ketika dialami langsung. Inilah momen yang paling mengesankan, yang mengubah cara pandang saya terhadap Kristus yang tersalib.

        Tuan Ma dirumah bpk Yos

Beberapa saat kemudian, Patung Tuan Ana keluar dari kapela, menyusul Tuan Ma,  kemudian berarak menuju Gereja Katedral untuk ditahtakan, sebelum prosesi keliling kota dilakukan setelah upacara mengenang wafat Tuhan.

Sejak patung tuan Ma dan tuan Ana memasuki katedral, hujan kembali turun deras. Bahkan sempat muncul keraguan untuk mengikuti prosesi malam hari. Saat Lamentasi berlangsung, hujan semakin deras. Namun menjelang akhir, hujan tiba-tiba berhenti. Ketika kami keluar, langit begitu cerah bulan dan bintang tampak jelas, seolah hujan tdk  pernah terjadi.

Prosesi keliling kota Larantuka dengan lilin bernyala adalah pengalaman yang tak tergambarkan. Tidak ada sekat.  Tua, muda, kaya, miskin, melebur dalam doa dan harapan.

Lelah, lapar, dan ngantuk  menyatu dalam kekhusyukan. Tubuh terasa sakit, kaki kram, bahkan batuk dan bersin pun terasa menyakitkan. Kami peziarah yang hanya membawa lilin saja sudah sangat lelah, bagaimana dengan Lakademu yang mengusung Tuan Ana, bagaimana dengan bapak bapak yang mengusung Tuan Ma, bagaimana dengan para petugas dan panitia lainnya. 

Pukul tiga dini hari, prosesi berakhir. Kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Anehnya, sebelum tidur tubuh terasa sangat lelah, tetapi saat bangun pagi, semuanya hilang,tubuh terasa ringan, seolah tidak terjadi apa-apa.Banyak peziarah merasakan hal yang sama.Sungguh, kasih Tuhan tak terselami.

Sabtu 05 April 2026

Sejak pagi, saya dijemput Kak Tesa untuk berkeliling Kota Larantuka sekaligus membeli oleh-oleh sebelum kembali ke Bajawa. Dalam perjalanan itu, kami juga mengunjungi seorang teman kuliah semasa di Malang, Parlan. Ia baru saja mengalami sebuah mukjizat selamat dari kecelakaan maut.

        Mengunjungi Parlan

Kami lebih banyak mendengarkan kisahnya tentang bagaimana kasih Tuhan bekerja dalam hidupnya. Pertemuan itu terasa seperti kesimpulan dari seluruh perjalanan yang kami alami selama beberapa hari di Larantuka. Sebuah peneguhan bahwa Tuhan sungguh hadir dan berkarya dalam berbagai cara.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Lewotala untuk bertemu keluarga Kak Tesa sekaligus makan siang. Dalam hati saya merasa, Tuan Ma sungguh menyiapkan segalanya dengan begitu sempurna termasuk menghadirkan Kak Tesa dan keluarganya yang menerima saya dengan ketulusan yang luar biasa.

Malam harinya, kami mengikuti perayaan Malam Paskah di Gereja Katedral. Perayaan berlangsung dengan meriah dan penuh sukacita. Kotbah imam malam itu terasa seperti penutup yang menyempurnakan seluruh perjalanan ziarah kami. Merangkum setiap pengalaman, rasa lelah, harapan, dan perjumpaan yang telah kami alami.

Minggu,05 April 2026

Usai misa Paskah misa kebangkitan, hujan turun cukup deras. Kami pun memilih tinggal di rumah dan makan siang bersama Bapak Yos.

Menu yang tersaji sangat sederhana  nasi, marongge rebus, dan mi instan. Namun, justru di situlah letak maknanya. Di hari raya sebesar Paskah, kami tidak menikmati hidangan mewah, melainkan kebersamaan yang hangat dan penuh arti. Meskipun memang karena tidak ada waktu untuk berbelanja ke pasar.

Seolah alam mengatur waktu dengan tepat, memberi ruang bagi kami untuk berbagi cerita. Bapak Yos banyak bercerita tentang perjuangannya dalam bekerja dan menjalani hidup. Percakapan mengalir begitu saja, dengan topik yang beragam dan santai. Seperti antara seorang bapak dan anak anaknya.



Kami melihat ketulusan di wajah bapak Yos. sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat. Kami pun sadar, tidak ada hal berharga yang bisa kami tinggalkan untuknya. Bahkan jika kami mendoakan agar beliau panjang umur, rasanya doa kami tidak sebanding dengan kekuatan doa yang beliau miliki.



Bapak Yos adalah sosok yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ada seseorang yang dengan tulus meminta saya untuk terus menulis apa pun itu. Dan kata-kata itu keluar dari mulut Bapak Yos.Barangkali, itulah alasan tulisan ini ada.


Larantuka, April 2026

Mertin Lusi






Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan

            PELUANG USAHA KAIN TENUN  IKAT TRADISIONAL  ENDE LIO  DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...