Sepa Api Doko Ritual Tendang Bara Api di Langa

Malam ini ( Sabtu,  20 Juni 2020) cukup heboh dikalangan pemuda Langa.  Sejak jam enam sore,mereka saling kontak untuk berangkat ke kampung Langagedha, desa Langagedha kecamatan Bajawa, Flores Indonesia.

                      Foto : Fan Nua


Saya salah satu yang turut heboh namun dengan berat hati untuk tidak masuk dalam tim mereka. Karena saya Perempuan.  Perempuan tidak diperbolehkan untuk menyaksikan secara langsung ritual malam ini.

Malam ini,  sama dengan malam setiap tahun yang lalu di bulan Juni.  Dan akan terus sama di bulan Juni yang akan datang.

"Sepa Api Doko" merupakan ritual wajib yang dilakukan malam ini.  Ritual ini adalah salah satu bagian dari acara Ngede Doko.
Ngede Doko itu sendiri juga merupakan bagian dari tahap-tahap menuju ritual Reba.
Tentunya publik sangat tau dengan yang namanya "Reba Langa", karena kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih seminggu di setiap bulan Januari ini sangat menghebohkan jagad raya 😃.



Kembali lagi ke Sepa Api Doko.
Sepa : Tendang
Api : Api
Doko : Nama jenis hama yang kehadirannya sangat merusak kelangsungan hidup dari tanaman Ubi ( Uwi).

Ritual Sepa Api Doko berarti ritual untuk mematikan Doko dengan cara Api di tendang layaknya menendang Bola.
Di zaman para leluhur,  Ubi/ Uwi merupakan makanan pokok. Jadi untuk menjaga ubi tetap dalam keadaan baik hingga masa panen harus dilakukan ritual Sepa Api Doko untuk menghalau hama tersebut.

Sebelumnya,  acara ini diawali dengan Pase Sala Doko atau menggantikan bilah bambu yang telah di anyam setinggi kurang lebih 4 meter yang menurut penuturan warga bahwa anyaman menyerupai pagar tersebut disimbolkan sebagai pagar.
Pagar setinggi 4 meter tersebut berada di kampung Langagedha,tepatnya di sebelah barat pintu masuk menuju kampung Bo Kolo.
Setiap tahun diganti dengan bilah yang baru. Sedangkan bilah atau pagar yang lama tersebut dibongkar dan dibakar menjadi arang di tengah kampung pada malam harinya, kemudian arang tersebut di tendang oleh para lelaki dalam kampung itu.
Ini seperti bermain api,  tapi uniknya tak satupun yang terbakar.
Sebelum api di tendang,  para lelaki yang akan menendang api akan mengawali dengan pantun / Soka Doko yang saling bersahutan sambil mengelilingi bara api.

Begini kira - kira pantun dalam soka Doko :
Doko toro zeta sobo... 
 oo nio tu'u ...
o reta tolo nio tu'u reta tolo..
ooo nio tu'u....
 Ooo beru e raba o
 o raga jawa jawa..
 beru raga raga jawa..
miu bani gho bhai..
bani ai bhai ai  jao tii miu topo..
tii topo  papa boro...
 Tii miu gala tii gala papa  tara...
Tii miu bedi tii bedi papa zengi...
 Tii miu sau tii sau papa zawu...
Meze bara zeta mala....
Tudhi rumi gete lua doko...
sai pau telu..
rei rei... .
Kau me doko doko loe soghe meze..




Setelah mengelilingi bara api,  para lelaki bisa menendang api sebagai tanda siap melawan atau memusnahkan Doko atau hama yang merusak tanaman ubi ini.



Usai kumpulan bara api ditendang,  tetua adat yang dipercaya akan melakukan acara Kela Nio/ Belah Kelapa di ambil airnya dan dioleskan ke setiap kaki para pria yang terlibat dalam ritual ini.
Konon,  dalam ritual ini dipercaya bila ada kaki yang melepuh berarti sebuah pertanda bahwa pria tersebut memiliki masalah pribadi yang masih disimpannya sendiri.

Semua tahapan sejak Pase Sala ini dipimpin oleh kepo wesu dari Sao Mai Mole dan Suri Zia dari Woe Langa Ebu Wuda.
Ritual ini kemudian dilanjutkan kembali keesokan harinya yakni tahapan Ngede Doko.
Sebanyak dua lelaki atau lebih dari Kepo Wesu mengenakan pakaian Adat Sapu Lue dan Boku akan mengelilingi seluruh kampung di Langa untuk Ngede Doko.
Semua rumah/Sao yang mereka datangi wajib memberikan Uwi / Ubi. Dan apabila tidak memiliki Ubi bisa digantikan dengan Sirih Pinang.
Seluruh masyarakat Langa percaya bila tidak memberikan Uwi atau Sirih pinang, pertanda bahwa hasil panenan  lebih khusus Uwi akan buruk di musim ini.
Unik dari ritual ini adalah Perempuan dilarang terlibat sejak acara tendang api.  Padahal menarik sekali untuk saya sebagai perempuan.  Tapi saya sebagai Isi Langa wajib dan dengan tulus hati menaati larangan ini.

Para leluhur kami percaya dan kami pun percaya kalau Perempuan yang terlibat menyaksikan ritual Sepa Api Doko ini akan mendapatkan musibah. Musibahnya adalah akan melahirkan anak kelak yang mirip seperti Doko / Hama tersebut.
Ini sungguh menarik sekaligus menakutkan.
Tapi inilah kebanggaan sebagai Isi Langa.
Demikian kira kira cerita yang saya kumpulkan malam ini.
Mohon maaf bila ada kekeliruan dari tahapan diatas, saya sangat mengharapkan masukan untuk perbaikan.
Sungguh,  saya hanya ingin cerita ini di ketahui banyak orang dan lebih khusus generasi muda Langa.

Tima tii woso,  salam hangat
Mertin Lusi.



Kisah Menganyam Jiwa dari daun Gebang

"Kopi yang ada pohonnya e... Kalau yang ada tugu mama tidak mau",kata mama Fransiska ketika saya menawarkan untuk dibuatkan segelas kopi. 
Awalnya saya bingung tapi setelah dijelaskan oleh mama Betran saya baru "ngeh", ternyata kopi yang beredar di pasaran seputar kecamatan Riung itu bukan kopi Arabika Bajawa yang sudah mendunia sejak beberapa tahun lalu ini. Tapi kopi yang ada tugunya.   Aih,  Saya boleh bangga dengan AFB yang sudah banyak dikenal dunia luar tapi ternyata saudara saya yang domisili di kecamatan tentangga belum sepenuhnya tau tentang AFB.  Mestinya sih, fokus penyebaran produk lokal ini merata dulu disegala penjuru kabupaten dengan kemasan yang menjadi brand khusus sebagai andalan. Eh malah dibiarkan punya brand masing masing, alih alih sedikit membingungkan konsumen luar.  Ini pendapat saya sih 😉😉.
Kita kembali lagi ke kisah mama Fransiska.  Saya ingin mengisahkan sedikit tentang 40 menit saya duduk bersamanya di dapur yang bersebalahan dengan muara tempat tinggalnya dinosaurus terakhir spesies khusus asli Riung. - Mr. Mbou namanya. ( Banyak orang belum mengenal sih,  karena menurut saya tidak diperhatikan secara khusus).

Pagi itu,  mama Fransiska datang ke Eco Eden membawa beberapa buah keranjang anyam dari daun Gebang dengan berbagai ukuran.  Niatnya untuk bertemu pemilik Eco Eden, namun karena tertarik dengan barang bawaannya saya menghadang dia untuk duduk di dapur sambil menikmati kopi.
Kami berkenalan dan berbicara panjang lebar tentang urusan ibu ibu dapur.  Awalnya,  biasanya saja. Tapi setelah mendengar cerita spesifiknya tentang latarbelakang kehidupan ekonomi juga rumah tanggannya,  saya jadi merasa perlu menulis tentang ini meskipun bahasa yang saya gunakan tidak semenarik para pencerita lainnya.  
Mama Fransiska Dhema begitu nama lengkapnya.  Wanita ini berusia 60 tahun bertahan hidup dengan mengayam keranjang dari daun Gebang.  Hasil anyaman dijual dengan harga yang relatif murah ini juga digunakan untuk menghidupi adik iparnya yang sedikit mengalami keterbelakangan mental. Dirumah sederhana berdinding bambu dan berlantai tanah,  mereka hidup berdua saja.  Suaminya telah lama meninggal,  sedangkan ke enam anaknya tinggal diluar pulau Flores demi menyambung hidup. 
Beruntungnya,  di tahun 2020 ini,  dirinya mendapat sumbangan dana desa untuk perehaban rumah senilai 17,5 juta. Sehingga bisa meringankan beban penderitaannya di kala hujan karena atap rumahnya sudah mulai bocor. 
Kesehariannya menganyam Kombu, ( keranjang dengan  berbagai ukuran), sape ( tas samping untuk pria)  Nendos ( tas untuk wanita). Ketiga jenis anyaman tersebut adalah tas tradisional khas Riung namun dikalangan orang Riung sendiri  sudah tidak populer. 
Selain sudah sangat sedikit orang yang giat menganyam,  juga saingan pasar modern telah menggeser posisi anyaman lokal, hingga tertelan bumi dan menghilang.  
                    Fransisika dan Philip

Kisaran harga Kombu dengan diameter 40,tinggi 30 dikenai harga 30 ribu rupiah,  Sape harganya standar 100 ribu rupiah,  dan Nendos harganya 50 ribu rupiah.  Semuanya terbuat dari daun Gebang. 
Menurut mama Fransisika, untuk menghasilkan sebuah anyaman dibutuh waktu sehari bahkan lebih. Karena anyam itu  mengerjakan dengan  hati juga harus fokus.
Kafe Eco Eden

" Membuat anyaman ini mesti tabah,  mulai dari mengambil daun Gebang,  merangkainya menjadi sebuah karya itu butuh perhatian khusus dan hatimu juga harus ikut menggenggam setiap lembar daun,  karena kau tidak hanya menganyam daun tapi kau menganyam jiwa dan membentuk karakter dari tradisi yang kau jalani, "Katanya dengan tatapan tajam. 
Kata -kata ini seperti tersirat sebuah makna mendalam bahwa sebagai anak kampung yang tinggal di kampung dan menjalani ritual tradisi leluruh harus mempertahankan semua kearifan lokal.  Dan mama Fransiska sedang menjalani proses mempertahankan kearifan lokal dalam bidang menganyam ini.  

Selain mama Fransiska,  masih ada beberapa ibu lainnya yang jumlahnya tidak lebih dari lima orang yang juga sedang menekuni anyaman ini.  Selain mereka tidak ada lagi. Bahkan orang mudapun pernah ditawarkan untuk berlatih tapi rupanya menjadi pengrajin anyaman ini sudah tergeser posisi dengan youtuber dan kawan kawan lainnya. 
Ketika ditanya harapannya, mama Fransiska tidak menginginkan kehidupannya menjadi sejahtera sebagai pengarjin anyaman daun tapi dia sangat ingin agar kearifan lokal ini tidak punah dan terus terjaga hingga generasi berikutnya, karena baginya mempertahankan kearifan loka berarti menjaga relasi dengan alam. 
Sementara itu,  Philipus Neri pemilik penginapan Eco Eden Flores mengatakan dirinya sangat tertarik dengan anyaman tangan mama Fransiska karena selain alamiah namun sangat rapih dan eksotis.  
" Saya secara pribadi sangat menyukai hal hal yang berbau alamiah,  sehingga siapapun yang menjual karya dari alam saya akan membelinya karena itu sebagai bentuk dukungan saya terhadap pelestarian alam dan kearifan lokal"katanya.
Semoga saja kedepannya banyak orang muda Riung yang menjadi pengrajin Anyaman.  

Mama Fransiska ini tinggal di Dusun Watulajar 01 Desa Lengkosambi Utara - Riung - Ngada Flores. 

Salam Hangat, 
Mertin Lusi
14/03/2020

Keindahan Air Terjun Langa - Bajawa -Flores

Lokasi ini terdapat di desa Langa Gedha Kecamatan Bajawa - Ngada - Flores Indonesia.  Jalur tempuh cukup ekstrim namun setibanya disana ada banyak keindahan yang mampu memanjakan mata.  Butuh waktu 2 jam untuk bisa sampai ke Lokasi ini. 

Toa Kaba neku RD.Lukas Nong Baba siap dilaksanakan Rabu 22 Januari 2020

Toa Kaba neku RD.Lukas Nong Baba siap dilaksanakan Rabu 22 Januari 2020.


              Foto : Rapat DPP Paroki Langa

DPP Paroki Langa siap melancarkan acara Pemakaman Romo Lukas Nong Baba yang diawali dengan upacara Toa Kaba kemudian dilanjutkan dengan Misa Requem di Gereja Maria Ratu Semesta Alam pada pukul 10 pagi.  Kemudian almarhum RD. Lukas diarak menuju Mataloko untuk dimakamkan tepat di pemakaman umum para Imam projo Kevikepan Bajawa.
RD. Lukas Nong Baba tutup usia pada umur 80 tahun di rumah sakit Siloam Manggarai barat pada Minggu 19 Januari 2020 tetap pada acara penutupan Reba Langa ( Kobe Sui).

RD.Lukas Nong Baba merupakan imam senior Keuskupan Agung Ende yang lebih dikenal dengan pastor Komoditi.  Selama menjadi imam,  beliau berugas sebagai pastor paroki Jerebuu, MBC dan Langa dengan karya utamanya adalah komoditas pertanian. Beliau selalu mengajak umat untuk menanam pohon dan tanaman lainnya.

Hampir semua orang yang pernah dekat dengannya, lebih khusus para pemerhati Lingkungan tentu akan selalu ingat dengan ungkapan "SELAMA MANUSIA MASIH HIDUP KONFLIK AKAN  TETAP ADA".
Dengan spirit mengadvokasi pendekatan tanpa kekerasan bersama lembaga advokasi dan penguatan masyarakat sipil (LAPMAS ) Ngada dan tim kolaborasi pengelolaan kawasan cagar alam watu Ata, Romo Lukas sangat gigih memperjuangkan, menyuarakan aspirasi masyarakat agar bisa keluar dari tekanan dan terbebas dari belenggu diskriminasi, demikian tulisan di dinding facebook milik pak Rikardus Nuga.

"Romo Lukas telah menginspirasi banyak orang walaupun telah tutup usia, banyak yang kami berkaca padamu bagaimana memperjuangkan hak - hak orang kecil,"kata Rikardus.
Sejak menghembuskan nafas terakhir di RS.Siloam, jenazah Romo Lukas langsung dihantar ke Paroki Langa.


Selamat Jalan opa romo Lukas.

Orang Muda wajib tau Makna Reba

Anak-anak dan orang muda wajib tau makna Reba.

Semua tahapan ritual Reba yang berlangsung wajib diikuti dan dimaknai oleh masyarakat Langa.
Pemerintah desa Bomari merupakan salah satu lembaga yang sedang memperjuangkan agar anak anak, orang muda dan semua masyarakat desa Bomari lebih memahami tentang ritual Reba itu sendiri.
Salah satu kegiatan yang sudah dilakukan yakni seminar tentang Makna Reba yang menghadirkan Lembaga Pemangku Adat dengan pesertanya yakni Siswa SMP dan OMK. Hal ini akan berlangsung setiap tahun.  Selain itu juga anak - anak dan orang muda mesti terlibat dalam tarian O Uwi dan memaknai setiap sajak sajak yang dilantunkan.
Salut dengan pak Kades Pius Liu.
Semua akan mencapai sempurna kalau semua kita turut ambil bagian dalam mendukung cita cita ini.

Mulai sekarang,  saat kumpul keluarga dalam Sao mesti ada omong omong yang penting tidak hanya sekedar makan, minum,mabok dan foto foto saja...



Selamat Reba...
Awas Kolesterol...
😃😃
Salam
Mertin

3,8 Miliard Pengeluaran Reba Langa 2020

Prediksi Pengeluaran selama Reba Langa sejak 14 - 20 Januari 2020 sebanyak 3,8 miliard.
 Reba merupakan syukuran adat masyarakat Bajawa.  Bagi Isi Langa sendiri,  Reba menjadi sebuah perayaan syukuran yang paling di tunggu - tunggu.
Foto: Deri Bani

Meskipun dalam setahun ada hari Raya Keagamaan ( Natal, Paskah) juga tahun baru,  tapi bagi orang Langa dan saya secara pribadi Hari Raya Adat Reba menjadi yang paling berkesan.
Semua tahapan Wula Reba ( Bulan Reba)  dilalui dengan penuh sukacita.  Dari anak anak sampai orangtuapun menyiapkan hati dan batin menanti moment berjumpa sanak saudara yang datang.
Mulai dari pakaian adat.  Untuk yang perempuan ( Lawo, Keru, Marangia, Butu, Lega),  yang Laki - laki ( Sapu, Lue, Boku, Marangia, Keru, Lega). Untuk pakaian adat itu sendiri, harganya cukup mahal. Setiap orang wajib memiliki pakaian adat tanpa mengenal usia saat mengikuti ritual adat Reba ini.  Harga normal pakaian adat Wanita 2 juta rupiah dan pakaian adat laki laki 3 juta rupiah.  Warga Langa sendiri sebanyak 4 ribuan jiwa.
Setiap rumah wajib memiliki Daging Babi,  Ayam,  Arak, Beras dan perlengkapan masak lainnya.
Selain untuk diberikan kepada leluhur pada perjamuan keluarga,  juga untuk menjamu tamu yang datang sebagai ucapan syukur selama setahun.
Saya hanya ingin menghitung pengeluaran masyarakat Langa sejak 14 -20 Januari 2020.
Pertama,  Pakaian adat. Pada saat misa Reba di kampung Bela 15 Januari 2020 jumlah yang hadir sekitar seribu orang dengan rata rata  pakaian adat yang dipakai seharga 2 juta rupiah.  Sehingga total uang yang dikeluarga sebesar 2 miliard rupiah. Ini belum terhitung dengan Isi Langa yang tidak hadir misa. Jumlah warga Langa sebanyak 4 ribu orang.
Kedua,  hari ini 16 Januari merupakan hari leis Babi 😃. Malam nanti adalah Kobe Dheke.  Babi yang akan dipotong di Langa hari ini sekitar 100 ekor dengan harga rata rata perekor  6 juta rupiah. Sehingga total pengeluaran untuk Babi sebesar 600 juta rupiah.
Ketiga,  Beras dan bumbu juga keperluan lainnya selama perayaan Reba diprediksi setiap rumah dihitung rata rata menghabiskan 2 juta rupiah. Total Sao ( Rumah pokok)  di Langa 600 rumah sehingga pengeluaran beras sebesar 1,2 miliard rupiah.
Ini belum yang lain lainnya,karena ritual ini dimulai sejak 15 januari dan bisa berakhir kapan saja tergantung kesepakatan keluarga masing-masing.
Toal keseluruhan pengeluaran selama Reba Langa 2020 sebesar 3.800.000.000.
Ini hitungan saya,  maaf bila tidak sesuai.
Mali inu tua, inu kura kura tuku sobhe liki, kobe koe leza latu  😃😃

Selamat Reba Langa.
"Mai kita jadhi Ghili Modhe "
Reba menjadi sahabat bagi semua orang.

Salam Hangat bersama Ebu Nusi
Mertin Lusi


Main Tali Merdeka sampai celana Sobek dan Kalau mau nonton TV harus bawa Labu Jepang dan Kayu Bakar

 Saya bersyukur dilahirkan di kampung dan saya sangat fasih berbicara bahasa Bajawa. Dan saya bertumbuh bersama kisah kasih unik di Kampung yang menempa hidup menjadi perempuan Out of the Box.

Dulu, waktu belum menemukan jati diri ( aih, apa sih jati diri itu? 😉😉😉) saya merasa malu memiliki dialek Bajawa yang kental. Bahkan saya sering di bully sesama saya yang juga dari kampung, namun bersama orangtuanya hijrah ke tempat yang sedikit lebih ramai.  Biasanya mereka menyebut kami " Anak Kampong ". Yah,  maklum setiap hari kami makan jagung goreng, ditemani daun katuk, Soy, daun pepaya,  Kigo,  Tai Wawi ( upps bukan Tai Babi ya 😂😂 ) dan meneguk tua bhara yang rasanya sedikit asam itu. Entah kata apa yang mau kalian bicarakan,  tapi itu surga yang sesungguhnya untuk kami anak kampong.


   (Foto adikdi perbatasan kampung Langagedha dan Bokolo)

Terlepas dari itu,  saya mau cerita sedikit pengalaman Anak Kampong yang tidak dimiliki atau dirasakan oleh anak anak yang tinggal di kota itu.
Saya memulai dari zaman sekolah dasar.  Biasanya di musim seperti ini ( Desember - Februari )  kami sangat bangga dengan yang namanya cuaca buruk (hujan angin). Meskipun atap dapur terangkat angin,  tapi kami tetap bangga.  Bangga air hujan datang setiap hari dan kami tidak perlu ke kali untuk ambil air dengan cerigen bekas minyak goreng. Mandipun kami tunggu saat hujan lebat, biasanya pas hujan lebat, kami berbaris di rumah yang ada talang airnya. Manri air hujan itu serasa mendapat berkat langsung dari Tuhan. Bangga sekali.

Sumpah,  angkat air dari Kali itu agak ngeri ngeri sedap. Ramai-ramai dengan anak tetangga yang juga sama sama jarang mandi, bau terasi,  baju putih yang berubah warna menjadi cokelat,celana seragam yang diikat tali rafia karena longgar dan tanpa alas kaki. Kalaupun ada alas kaki,  saya pastikan ada paneti yang dipasang dibalik alasnya ataupun ada bekas api yang mencoba menyatukan kembali kedua sisi yang sudah berpisah.
 Ah.. Andai cinta kita bisa disatukan kembali seperti sandal yang putus ya... 😂😂😂.



Sepanjang perjalanan menuju sumber air,  tentu kami tidak akan melewatkan permainan andalan.  Luncuran dari tebing dengan menggunakan Sega ( Kulit bambu atau apa ya,  saya tidak tau Sega di bahasa Indonesia 😃pokoknya itu sudah). Kalau belum terluka artinya permainan belum selesai.
Sesudah tiba di mata air yang dituju,  kami tidak langsung mengisi cerigen dengan air tapi kami harus latihan menembak terlebih dahulu. Senjata yang kami gunakan cukup diakui pihak kepolisian bahwa bisa membunuh orang. Sepotong lidi yang ditajamkan dibagian ujungnya dan sebuah gelang karet sisa main bandar ataupun tali merdeka. Korban yang kami incar sejak lama dan sangat menggemaskan adalah mereka mereka yang selalu bernyanyi bersahut sahutan dibalik batu. Katak.
Kalau sudah dapat katak ataupun kodok, kami kuliti dan langsung bakar diperapian yang kami buat sebelum menembak.  Rasa dagingnya sangat lezat dan empuk, apalagi tulang tulangnya yang renyah.  Tapi sekarang sudah ada rasa jijik terhadap binatang air ini.
Setelah puas dan biasanya kami akan kembali kerumah kalau matahari sudah mulai tenggelam.  Air yang semula penuh cerigen akan tiba dirumah dalam kondisi separuh.  Separuhnya tumpah dijalan karena kami menggunakan kendaraan roda dua dan melewati jalan yang berliku.  Kami namai itu Oto Dada.  Sebuah bambu bulat dengan panjang sekitar satu meter di ujung depannya diselipkan sebuah besi atau kayu bulat sebagai roda dan di kedua sisinya menggunakan potongan kayu dadap yang dirancang mirip seperti ban.
Bayangkan, menanjak dari kali ke rumah sejauh 3 km dan dua buah cerigen  berisi air penuh menggantung pada bambu yang diletakkan di atas bahu. Kau harus mendorong lebih kuat agar rodanya berputar.  Saat itu, kau tidak sendiri. Kawan kawanmu ada di belakang juga di depan sambil meniru suara mobil sesungguhnya.
" Ngeng.... Ngeng.... Ngeng.... Bip... Bip.. "
Serius.  Memang menggelikan kalau di ingat ingat.  Tapi saya yakin kau bahagia untuk masa kecilmu yang pernah melakukan drama seperti ini.
Setiap pulang sekolah, jadwal kerja kita mengalahkan orang dinas.  Mama sudah buat catatan kecil disepotong kertas yang diselipkan di dinding bambu. Kamu harus melaksanakan semua tugas dari mama yang kadang bisa saja di sapa profos itu. Mulai dari cuci piring, siapkan dinner untuk babi, cari kayu bakar ataupun tumbuk jagung.  Aduh,  kalau sudah baca tulisan dari profos, makan siang yang semula enak jadi sangat hambar, apalagi makan siang yang sudah hancur,  nasi keras dari malam yang separuh hangus. 😣
Kaupun terburu buru untuk melakukan semua tugas itu karena diujung tugas, kau sudah janjian dengan kawan disekolah kalau akan main tali merdeka atau main bandar karet.
Mama e...,  karena keasyikan main tali merdeka, kau lupa mengawasi api didapur yang kau nyalakan untuk merebus jagung. Api mati.  Jagungpun tak berubah. Air dalam periuk tetap dingin. Mama sudah pulang dari kebun.
Lihat wajah profos serasa Mbou di Riung yang mau telan kepala ikan.
Mama,  ampun.... Mama ampun....
Sebilah bambu melayang di betis beberapa kali juga cacian ataupun omelan menusuk dada. Mama e.... Saya rindu itu semua.  Saya rindu profos le... Bae bae kah... 😢😢😢
Waktu mulai beranjak remaja, sudah mulai sedikit nakal. Kadang bapak punya rokok Djitoe yang biasa disebut Jitu ( Jual istri tutup utang) kau ambil sebatang dan dengan beberapa temanmu kau coba nikmati di belakang rumah yang sepi dengan gaya seperti orang frustrasi. Kadang juga,  batang labu jepang kering dibelakang rumah itu jadi mainan rokok andalanmu. Asap mengepul diikuti batuk panjang. Kau menelan asap yang banyak. Tapi ini keren. Anak anak milenial sekarang tidak tau tentang ini.
Saat sudah mengenal banyak teman,  kau mulai belajar mencuri labu jepang ataupun kayu bakar dirumah sebagai tiket masuk nonton bioskop di kampung sebelah. Dulu,  televisi masih sangat langka.  Hanya ada beberapa rumah saja yang memiliki dan kadang itu adalah televisi umum yang disumbangkan dari kantor penerangan.
TVRI menjadi chanel andalan. Tanpa iklan. Gambarnya hitam putih.  Bisa dibuat warna menjadi agak biru, hanya dengan menempelkan selembar kaca plastik di depan tv. Warna gambarnya akan sedikit berubah.
Untuk bisa melihat Midun,  Tania, Grasela Joni dan Ana Maria, Thunder Cats, Mumbra,  dan lainnya,  kau harus bawa buah labu jepang,  kayu bakar dan mandi yang bersih. Karena di depan rumah,  anak bungsu pemilik rumah yang menjaga dan menerima tiket masukmu. Tidak hanya itu saja,  di depan tv itu pemilik rumah sudah membentang tikar dan menumpuk kacang ataupun jagung di tengahnya. Matamu boleh melihat di layar kaca tapi tanganmu harus tetap bergerak. Kupas kacang ataupun memipil jagung. Sungguh ini serius.
Acara tv yang kamu nonton itu,  pasti akan diceritakan ulang bersama kawan-kawanmu. Suara, gerakan dan cara berpakaianpun bisa di buat ulang adegannya. Bahkan sampai membedah keburukan ataupun keunikan dari sinetron tersebut.

                 
Di hari-hari lainnya,  usai membereskan pekerjaan rumah kau bersama teman temanmu berkumpul dibelakang kampung dan mengadakan kompetisi pacuan kuda. Kuda mainan dari batang bambu yang ditunggangi anak lelaki, sedangkan yang perempuan membuka rumah makan dengan menu makan tiruan di tempat pesta.  Semua bahannya dari bambu dan tanah.  Bayarannya menggunakan daun kopi. Ada yang berperan jadi suami, istri dan anak.  Suasananya sangat damai.  Dan bisa bubarpun kalau matahari sudah tenggelam atau ada salah satu orang tua yang tiba tiba nongol membawa sebilah bambu atau lidi. Matanya melotot kiri kanan mengincar anaknya yang menghilang dari rumah. Seketika tanpa komando, kau berlari pulang kerumah. Kompetisi selesai.
 Suatu ketika,  kau mulai berpikir sedikit lebih dewasa.  Kau mulai tertarik dengan lawan jenismu.  Kau sudah mulai sadar itu sedikit lebih bersih dan rapih. Minyak rambut Rita juga minyak rambut Tanco hampir setiap saat melekat di kulit kepalamu. Selalu suka bercermin walaupun di kaca jendela tentanggamu.
Biasanya kalau lagi suka dengan seorang gadis,teman teman akrabmu pasti heboh. Heboh untuk menyusun surat cinta.  Awalnya surat cinta yang dikirim itu berisi biodata dirimu. Itu seperti CV saat melamar kerja sekarang.  😂
Kertas surat itu kau beri sedikit parfum berharap nona yang terima bisa mendekap erat surat itu dan menciumnya.
Sebelumnya komunikasi lisan melalui orang ketiga sudah dijalankan.
" Mina,  Ada salam...
" Dari siapa?
" Oh dari si Lamber..

Mina sedikit tersipu malu dan bilang "balas"
Kemudian heboh dengan seluruh temannya bahkan semua satu ruang kelaspun tau itu.
Itu dulu sangat transparan.
Sehat pokoknya.


Cerita ini nyata LDR ( Lihat, Dengar, Rasakan) dan bertumbuh bersama saya sejak kecil.

Mana Ceritamu.
Kalau kamu juga anak Kampong.

Salam hangat,

Mertin Lusi



Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan

            PELUANG USAHA KAIN TENUN  IKAT TRADISIONAL  ENDE LIO  DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...