Aku hanya ingin Hidup Dan tak ingin Kaya Aku ingin melihat banyak Tempat Mendengar banyak suara Dan menghirup banyak Bau Kehidupan. Alangkah mengerikan terpenjara dalam satu Tempat,karena sangat menjemukan. Aku mesti pindah tempat setiap saat, Meski cuma selangkah, Tak ada yang lebih dan tidak Kurang Aku Perempuan.... Meski banyak suara berbondong
Orang Muda, Mari tanam Bambu
Sebagai bentuk pertobatan Ekologis, OMK Jerebuu dan Ruto diajak untuk melakukan aksi bersama yakni menanam bambu jenis apa saja. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Nicolaus NoyWuli,S.Pt.M.Si dalam kuliah umumnya yang berlangsung di kampung Batajawa - Jerebuu Minggu 12 Januari 2020.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh Orang muda Katolik paroki St. Paulus Jerebuu dan OMK Paroki St. Martinus Ruto ( 435 orang) juga pastor paroki, moderator OMK, dan para tokoh masyarakat kecamatan Jerebuu.
Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan temu OMK ( Persahabatan) lintas TPAPT yang berlangsung selama dua hari yakni 11-12 januari 2020 yang di pusatkan di Stasi Dona - paroki St. Paulus Jerebuu. Sebelumnya, pada hari pertama kedatangan, OMK kedua paroki ini juga melakukan pertandingan sepak bola wanita dan voly putra untuk saling mengeratkan persahabatan dan diakhiri dengan rekoleksi bertema " Ah Tuhan, Saya ini Masih Muda".
Di hari kedua usai perayaan ekaristi bersama umat Stasi Dona, acara dilanjutkan dengan kuliah umum bersama Dr. Nicolaus Noywuli yang juga merupakan Staf Ahli Bupati Ngada bidang Kemasyarakatan, SDM dan Litbang.
Menurut Dr. Nico demikian dia biasa disapa, saat ini kita sedang mengalami Krisis Ekologis yang sangat parah yakni kerusakan terhadap alam terjadi dimana mana, terjadi perubahan iklim, masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial, serta ketimpangan global lainnya. Sedangkan untuk di kabupaten Ngada itu sendiri, kita menghadapi masalah yang sangat serius baik akibat kondisi alamiah, maupun perbuatan manusia. Secara umum curah hujan di Ngada dan NTT cukup rendah, musim kemarau panjang tirak merata sepanjang tahun, sehingga mengakibatkan produktivitas lahan rendah, penutupan vegetasi kurang, tanah mudah erosi dan bahan organik untuk menyuburkan tanah kurang. Kondisi alamiah lainnya adalah topografi yakni wilayah daratan sebagian besar terdiri atas gunung dan perbukitan, dengan tingkat kemiringan terjal dan tanah dangkal, sehingga menyebabkan sebagian besar lahan memiliki kegunaan terbatas untuk pertanian. Selain itu, kesadaran masyarakat rendah untuk menjaga lingkungan, dan ini merupakan rangkaian masalah serius yang tengah dihadapi pemerintah dan masyarakat. Akibat keterbatasan lahan, manusia membangun permukiman pada lahan miring, kawasan rawan longsor dan sekitar daerah aliran sungai, sehingga menyebabkan sering terjadi banjir, meningkatnya erosi dan pendangkalan sungai.
Aktivitas konversi (alih fungsi) lahan, perambahan hutan dan kemerosotan kualitas lingkungan alam, lahan kritis semakin meningkat, serta terjadi penurunan debit mata air. Menghadapai berbagai krisis ekologi ini, telah berbagai upaya pelestarian sudah dilakukan untuk memulihkan keadaan bumi. Gambaran kerusakan bumi yang semakin parah juga menjadi perhatian bagi para pemimpin Gereja Katolik.
Oleh karena itu, menanam bambu menjadi salah satu kegiatan dalam perwujudan pertobatan ekologis ini. Karena Bambu mempunyai sejarah sosial yang panjang di Kabupaten Ngada. Praktek olah bambu dalam berbagai sendi kehidupan di Ngada juga merentang panjang dari sejak zaman prakolonial hingga saat ini. Begitu dekatnya bambu dengan ruang-ruang hidup manusia di Ngada membuatnya termanifestasikan dalam banyak hal, tidak hanya yang terkait dengan rancang bangun, namun juga dalam dongeng, kepercayaan, hingga falsafah hidup.
Isu perubahan iklim yang sangat update adalah peningkatan jumlah tumbuhan penyerap karbon dioksida, karena karbon dioksida merupakan salah satu penyebab utama efek rumah kaca.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa bambu merupakan tumbuhan yang merupakan penyerap karbon dioksida nomor dua terbesar setelah Trembesi. Bambu mampu menyerap CO2 mencapai 12 ton per hektar per tahun. Dengan demikian penanaman bambu merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka mereduksi emisi gas rumah kaca. Secara umum, manfaat ekonomis bambu antara lain, bila dibandingkan dengan komoditas kayu, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dalam waktu relatif cepat, yaitu 4-5 tahun. Manfaat ekonomis lainnya adalah pemasaran produk bambu baik berupa bahan baku sebagai pengganti kayu maupun produk jadi antara lain berupa sumpit (chop stick), barang kerajinan (furniture), bahan lantai (flooring), bahan langit-langit (ceiling) masih sangat terbuka untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.
Dia juga melanjutkan bahwa Sebagai bentuk Pertobatan ekologis bukan hanya sekedar rasa penyesalan, melainkan sebuah gerakan positif guna menjalin relasi yang beradab dengan alam. Baginya, dengan menanam bambu kita sudah berupaya untuk menyelamatkan Dunia.
Sementara itu secara terpisah, pastor paroki St. Paulus Jerebuu dan pastor paroki St. Martinus Ruto ( RD.Tomy Lele dan RD. Ayub ) Ninung mengatakan sangat puas dengan kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut. Meski demikian, pihaknya masih sangat berharap bahwa euforia yang terjadi tidak hanya sebatas senang senang namun bisa diimplementasikan secara pribadi sebagai orang muda.
Sedangkan dalam gerakan bersama menanam bambu, akan direncanakan waktu yang cocok usai melakukan survey lokasi dan kesediaan bubit tanaman bambu.
" Secara Tim kami bersama OMK dua paroki ini, siap untuk tanam bambu" kata RD. Tomy dan RD. Ayub.
( Mertin Lusi)
Bahaya Selundup Ikan Segar ke Langa sejak 26 Desember
Bahaya Selundup Ikan segar ke Langa sejak 26 Desember - Februari.
Di Zaman ini, sudah banyak generasi muda maupun generasi tua yang sudah tidak memahami Adat istiadat ataupun secara sadar meninggalkan tradisi yang telah lama di percaya oleh leluhur.
Salah satunya adalah tradisi tidak membawa Ikan segar ke Langa dan mengkonsumsinya selama kurun waktu yang telah ditetapkan oleh Mori Kepo Wesu.
Di Langa, pada setiap 26 Desember selalu dimulai dengan ritual Bui Bheri Maghi yang ditandai dengan sekelompok pemuda berburu Ayam di semua kampung di Langa, kemudian di bakar di Loka Bhe Riwu ( Sebelah Barat kampung Langagedha).
Keseluruhan proses ini menandai bahwa Reba akan segera dimulai dan masyarakat dihimbau untuk mempersiapkan hati,batin dan segala hal yang berkaitan dalam memaknai upacara Reba yang sesungguhnya.
Pada upacara Bui Bheri Maghi ini, akan dilihat Proses Masak Nasi bambu. Ini yang paling inti. Segala hal yang berhubungan dengan proses ini mengandung banyak arti. Misalkan Nasi yang meluap, Air yang mendidih hingga meluap dan lain sebagainya.
Juga yang tidak kalah penting adalah Sejak saat itu yang namanya Ikan Mentah, Lontar dan semua barang barang yang berasal dari laut tidak diperbolehkan masuk Langa hingga Reba usai.
Reba di Langa akan dimulai pada 15 Januari setiap tahunnya. Setiap orang ( Langa) wajib mengikuti seluruh tahap ritual Reba yang terjadi setahun sekali ini dan memaknai segala prosesnya.
Meskipun hari - hari ini Reba yang esensinya merupakan proses kumpul bersama keluarga,bersyukur, evaluasi dan perencanaan untuk kerja dan kehidupan keluarga selanjutnya, mulai pelan pelan dilupakan.
Yang ada hanya makan, minum, mabok dan tertawa bersama.
Oh ia, kembali lagi ke topik Ikan segar. Selama beberapa tahun terakhir ini saya selalu berusaha mendekatkan diri dengan para tetua adat di hampir semua kampung di Langa untuk sekedar berbagi tentang adat istiadat.
Hampir semua mereka bicara kalau ada yang diam diam membawa Ikan segar atau barang barang dari laut maka alam akan murka. Dengan cara kabut sepanjang waktu, hujan disertai angin. Meskipun hari hari ini banyak yang lebih percaya pada BMKG.
Sedangkan bagi pribadi yang diam diam membawa Ikan segar tersebut maka segala upaya, perencanaan hidup yang dilakukannya maupun keluarganya akan mengalami banyak hambatan.
Yah, Tradisi ini lebih menekankan bahwa setiap pribadi harus bisa menekan perasaan akan keinginannya terhadap sesuatu.
Mampu mengolah rasa.
Dan bila mampu melewati ini maka akan ada spirit dan energi baru yang secara positif dirasakan.
Semoga 2020 ini, semakin banyak generasi yang memaknai Reba sepenuh jiwa dan hati.
Walaupun para pedagang ikan segar sudah sangat menghormati tradisi ini namun ada pergerakan bawah tanah dari orang Lang itu sendiri yang membawa Ikan segar ke dapur yang notabene dapur itu menyatu dengan Sao Ngaza.
Mari kita semua, mengolah rasa dan mengolah hati untuk bisa memaknai Reba dengan penuh gembira.
Salam hangat di musim hujan yang penuh dengan arak.
Mertin Lusi.
Sudahkah kamu makan Kinga Kanga?
Jika di Ibukota kau bilang Hujan adalah Bencana
Maka di Langa kami bilang Hujan adalah Berkah
Jika di Ibukota yang meluap adalah sampah Kering, sampah mayarakat dan sampah basah
Maka di Langa yang meluap adalah Peliloa,Singa songo dan Kinga Kanga.
Kamu boleh menertawakan luapan cinta di Langa yang kau bilang kampungan
Tapi yang meluap di Langa kala musim hujan itu Original dari Tuhan
Peliloa berhamburan mewarnai langit menjemput senja hingga gugur jadi camilan unggas
Singasongo dengan anggun menempel di batang kayu lapuk menanti tangan ayu siap membawa pulang ke dapur
Kinga Kanga mekar ditengah tanah hitam bekas terbakar musim panas lalu
Kau tidak perlu tanam, kau tidak perlu merawat tapi kau hanya perlu berbaik hati dengan semesta maka akan banyak lebih yang kau terima.
Sesederhana itu.
Kamipun tidak berharap banyak untuk disapa seperti mereka yang di Ibukota
Kami hanya berharap tanah kami tidak menjadi tempat pelarian mereka yang dari Ibukota
Dengan dalih untuk lebih mencerdaskan
Karena kami takut lupa
Lupa menikmati Arak ditemani Singa songo, Peliloa dan Kinga Kanga yang tidak akan tumbuh lagi di tanah kami.
Mertin Lusi
Fenomena Dhomi Le Bhe
Bahasa Lokal yang disematkan kepada Perempuan / Laki laki di kampung yang kedengaran kasar namun sering digunakan setiap hari.
Kalau perempuan sok rajin Kau panggil Pio Riso
Kalau perempuan tidak tau malu kau sapa dia Mado Rado
Kalau Perempuan sok Cantik kau panggil dia Mido Tegha
Kalau perempuan super aktif kau panggil Karo Kaso
Kalau perempuan bekerja tidak sesuai pemahaman kau panggil dia Lio Diro
Kalau perempuan suka menarik perhatian orang kau panggil dia Fedhi Repa
Kalau perempuan suka menosok kau panggil dia Tomo roso dan Soti Roy
Kalau laki laki pemalas kau sapa dia Leba Wolo
Kalau laki laki gerak halus dan lembut kau sapa dia Inge Ange
Kalau laki laki suka menghindar dari pekerjaan kau sapa Mr. Ghele Gheso
Kalau laki laki terlihat centil panggil dia Pomi Lai
Kalau laki laki dan perempuan suka berhalusinasi kau panggil dia Bhanga Langa
Kalau Laki laki dan perempuan kerja lamban kau panggil dia Ange Dhae
Kalau laki laki dan perempuan terlihat bodoh kau panggil dia Guba Guta
Kalau laki laki dan perempuan suka omong besar kau sapa dia Hou Tebho
Kalau kau sayang laki laki/ perempuan kau sapa dia Senu
Kalau kau cinta laki laki /perempuan kau sapa dia Guba.
Kalau ada yang sapa namamu dan terdengar berulang ulang jangan cepat bangga dan malu malu karena pasti mereka hanya bilang " Dhomi Le Bhe"
Jangan lupa kau harus jawab " Dhomi Le Tengo "
Sesudah itu kita jadi karib.
( Mohon maaf tulisan ini mungkin tidak berkenan di hati pembaca tapi ini nyata dari hasil saya duduk ngopi di deker-deker maupun gang di kampung kita)
Salam hangat,
Mertin
9
Bahasa Lokal yang disematkan kepada Perempuan / Laki laki di kampung yang kedengaran kasar namun sering digunakan setiap hari.
Kalau perempuan sok rajin Kau panggil Pio Riso
Kalau perempuan tidak tau malu kau sapa dia Mado Rado
Kalau Perempuan sok Cantik kau panggil dia Mido Tegha
Kalau perempuan super aktif kau panggil Karo Kaso
Kalau perempuan bekerja tidak sesuai pemahaman kau panggil dia Lio Diro
Kalau perempuan suka menarik perhatian orang kau panggil dia Fedhi Repa
Kalau perempuan suka menosok kau panggil dia Tomo roso dan Soti Roy
Kalau laki laki pemalas kau sapa dia Leba Wolo
Kalau laki laki gerak halus dan lembut kau sapa dia Inge Ange
Kalau laki laki suka menghindar dari pekerjaan kau sapa Mr. Ghele Gheso
Kalau laki laki terlihat centil panggil dia Pomi Lai
Kalau laki laki dan perempuan suka berhalusinasi kau panggil dia Bhanga Langa
Kalau Laki laki dan perempuan kerja lamban kau panggil dia Ange Dhae
Kalau laki laki dan perempuan terlihat bodoh kau panggil dia Guba Guta
Kalau laki laki dan perempuan suka omong besar kau sapa dia Hou Tebho
Kalau kau sayang laki laki/ perempuan kau sapa dia Senu
Kalau kau cinta laki laki /perempuan kau sapa dia Guba.
Kalau ada yang sapa namamu dan terdengar berulang ulang jangan cepat bangga dan malu malu karena pasti mereka hanya bilang " Dhomi Le Bhe"
Jangan lupa kau harus jawab " Dhomi Le Tengo "
Sesudah itu kita jadi karib.
( Mohon maaf tulisan ini mungkin tidak berkenan di hati pembaca tapi ini nyata dari hasil saya duduk ngopi di deker-deker maupun gang di kampung kita)
Salam hangat,
Mertin
Langa - Ruto Jalur Trekking dengan sejuta Panorama
Jalur ini ditempuh dengan waktu 6 jam. Menyusuri jalur barter para leluhur Langa dan Pesisir Pantai Ruto. Sunrise di lereng Inerie hingga sunset di pantai Lekoena menjadi pengalaman tersendiri bagi mata para pencinta trekking. Hutan yang masih lengkap dengan spesies burung langka juga spesies Lich yang menggelikan namun sensasinya cukup menantang. Berbagai jenis bunga dan pohon unik, juga patahan bukit yang menyatu dengan Bedhi me Luna juga menjadi pagar pembatas pandangan mata. Kuda liar yang berpasangan seakan dengan bangga mengiringi langkah kita. Pokoknya tidak akan kapok kalau pernah kesana. Apalagi menutup petualanganmu dengan bersandar di kursi rasta LekoEna sambil memandang Matahari yang jatuh dengan malu malu.
Mari kita cao......
Gila... Jalur trekking Langagedha-Wolokoro
Jam tujuh tepat kita sudah mulai. Demikian bunyi pesan yang dikirim salah satu anggota komunitas trekking Langa.
Dan sebelum jam itu, kami berempat sudah tiba dilokasi. Titik kumpul di kantor Desa Langagedha. Dua jam kemudian baru mulai berdatangan anggota lainnya. Setelah melewati pertemua singkat bersama pimpinan desa juga bidang destinasi wisata Dinspar Ngada, kami mulai bergerak melewati perkampungan Langagedha. Di ujung kampung sebelum berbelok keluar menuju hutan, ada sebuah pagar bambu yang dianyam dengan tinggi sekitar 10 meter dan lebar 8 meter. Ini menurut warga setempat merupakan pagar pembatas untuk mengusir hama. Setiap bulan Juni akan diadakan ritual "Sepa Api Doko". Belahan pagar bambu tersebut dibakar ditengah kampung Langagedha. Setelah menjadi arang,semua lelaki yang hadir wajib menendang layaknya sebuah bola. Ritual ini tidak diperbolehkan untuk wanita, sehingga saya yang menulispun tidak begitu tau detail situasi dilokasi karena tidak diperbolehkan untuk saya. Dan kalaupun saya bisa melihat ini jika saya sudah melewati fase ( berhenti haid). Aih, masih sangat lama le 🙆🙆. Bagian ini nanti di cerita yang berikutnya atau akan saya tulis detail setelah saya berhenti di satu fase itu. 😆
Kembali ke perjalanan yang tadi. Keluar dari kampung Langagedha melewati kampung Bokolo,langsung bertemu jalan setapak yang menghubungkan kesebuah perkampungan baru yang diberi nama kampung Surlo. Kampung baru ini untuk sementara baru dihuni oleh dua kepala keluarga bernama Suri dan Logo sehinggga Surlo itu berasal dari Suri Logo. Nama ini katanya diberikan dan disahkan tanpa surat oleh warga Langagedha.
Disepanjang jalan melewati kampung Surlo ini, terdapat beberapa lokasi sakral yang biasa digunakan untuk upacara adat. Masyarakat suku di Langagedha merupakan pemegang adat utama di Langa secara keseluruhan. Sehingga ada beberapa ritual adat yang harus mereka memulai lebih awal kemudian yang lainnya mengikuti.
Selain tempat ritual adat, pemandangan alam berupa barisan bukit berjejer disekitar lembah yang ditumbuhi sayur kangkung,selada,paku dan Leda. Disini bisa menjadi titik pemandangan untuk matahari terbenam dan kearah selatan ada pemandangan bukit dan gunung Inerie. Perjalanan masih ditempuh dengan ringan dan santai. Jalan tanahpun sudah diperlebar sehingga kendaraan roda dua bisa melaju dengan cepat. Hampir disetiap tikungan pasti ada pahatan alam yang berbeda pula.
30 menit berlalu. Jalur tempuh perlahan mulai menurun. Semakin menurun. Melewati kebun sayur kangkung. Jalur warga selesai disitu. Selanjutnya jalur kami yang atur sendiri. Berlawanan arah, kami menyusuri jalur sepanjang aliran sungai. Tepat dibawah pohon jambu air, sebuah sumber mata air panas dengan kolam selebar ember pakaian dirumah. Tanpa bau belerang sebagaimana biasanya air panas. Tidak jauh dari tempat itu, ada juga beberapa buah sumber air panas dengan ukuran kolam melingkar alamiah,selebar lingkaran tangan orang dewasa. Kami menyempatkan untuk membasuh wajah dengan air panas yang menurut warga Langagedha disebut Wae Bua.
Segar rasanya. Air terjun Wae Selo dengan ketinggian sekitar 7 meter berada dekat kami. Ini destinasi wisata indah yang perlu sesegera mungkin dikembangkan.
Berbagai impian tentang pengembangan lokasi ini, hingga jalur tempuh yang nyaman bagi pengunjungpun kami diskusikan secara lepas. Apalagi dalam tim kami kali ini juga termasuk Kepala Desa Langagedha. Kami yakin beliau mencatat semua perbincangan ringan hingga berat ini.
Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, beberapa menit kemudian kami menjumpai sebuah kolam besar berbentuk lingakaran alami. Namanya Tiwu Kako. Ini sangat cocok untuk berenang, namun tidak dianjurkan untuk berenang dimusim hujan karena debit airnya akan sangat meningkat dan cukup berbahaya.
Ke arah kanan, kami melewati hutan kaliandra dan ampupu. Jalurnya sangat menanjak. Butuh banyak energi untuk mendaki. Dipuncak bukit, padang savana terhampar luas. Matahari tepat diatas kepala. Panas. Tanpa pohon. Titik pemandangan keberbagai penjuru sangat indah. Barisan bukit watunariwowo dan dibelakangnya ada gunung Inerie sangat jelas diarah selatan. Ke arah timur dan utara juga masih sejauh mata memandang terbentang hamparan savana yang menguning.
Langkah kaki terus mengayuh kearah barat. Semakin menurun. Jalur ini melewati semak semak yang banyak ditumbuhi gelagah dan anggur hutan berduri. Menunduk, duduk ataupun jongkok melewati jalur ini. Kadang jatuh tergulingpun tidak bisa dihindari. Juga duri tertinggal dalam dagingpun tak mampu ditolak.
Dari sinilah perjalanan mulai berat. Medan perang melawan diri sendiri. Kembali pulang sudah terlalu jauh, maju terus sudah lelah juga gugup melihat jalur didepannya. Menurun dengan kemiringan hampir 180 derajad. Peralatan perang kami apa adanya. Tanpa tali dan lainnya. Yang diandalkan hanyalah kaki, tangan dan hati yang besar.
Sudah melewati jalan turun cukup jauh, tapi kadang diarahkan untuk kembali karena didepannya jalan buntu. Ingin marah tapi bingung pada siapa, karena ini adalah pilihan. Tanpa ada yang memaksa.
Usai sudah melewati jalan turun dengan pijakan pada tanah yang rapuh juga bebatuan rapuh yang sewaktu waktu jatuh berhamburan bisa melukai orang di depanmu. Tangan berkeringat menggenggam erat tumpukan akar alang-alang. Telapak tergores itu pasti. Darah mengalir keluar itu juga wajib. Tapi itu menjadi titik fokus yang kesekian dibelakang.
Semakin mendekati sungai, jalur memasuki hutan dengan banyak akar bergantungan. Kadang harus membuang diri kedepan untuk bisa memeluk pohon ataupun meloncat untuk menggapai pohon yang lainnya. Sepatu dimasukan dalam tas. Sandal berpindah di lengan. Butuh pijakan yang pas. Gaya sudah sedikit mirip monyet. Lebih sigap dan lebih teliti. Baju yang dipakai berlubang disobek dahan kayu. Beberapa kali terjepit diantara ranting kayu sehingga beberapa bagian baju dan celana menjadi tidak utuh.
Jika tak ada pohon ataupun akar, tim pria dengan tulus hati saling merentangkan tangan bak tali untuk menjaga tim lain yang gugup ketinggian agar tidak jatuh. Bayangan bahaya menggantung didepan mata. Kalau salah pijakan, berarti berita duka siap dikirim. Evakuasipun akan sangat sulit. Bayang bayang kematian mengambang. Hanya doa tulus terucap dalam hati.
Bunyi gemuruh air terjun Soa ne Wua sangat jelas terdengar. Namun kami tak kunjung tiba. Dua jam berputar putar dengan jalur yang tak pasti. Lapar, lelah bercampur aduk dengan rasa bosan juga khawatir.
Pukul empat sore, kami tiba di dekat aliran sungai. Wajah wajah penuh amarah tergambar jelas namun suara yang ditampilkan penuh kelembutan.
Di depan kami, gemuruh air jatuh sangat dasyat. Air terjun ini namanya soa ne Wua. Tingginya diperkirakan ratusan meter. Tidak seperti air tejun lainnya yang jatuh dengan bebas. Air terjun ini jatuhnya mengikuti pahatan dinding batu menyerupai pipa. Dan kolamnya berbentuk persegi panjang dengan hijau menjadi warna dasarnya. Tidak ada tempat yang layak untuk dijadikan spot foto untuk melihat keseluruhan air terjun ini. Ektra ekstrim. Suasana terasa mencekam. Suara burung yang jarang terdengar. Tempat ini hampir pasti belum pernah dikunjungi manusia. Dan kami menjadi orang pertama.
Benar benar indah. Namun harus dikaji lebih dalam untuk dijadikan tempat wisata. Ataupun kamu yang membaca tulisan ini ataupun melihat foto tentang lokasi ini, saya sarankan untuk jangan dulu datang kesini sampai ada informasi dari dinspar ataupun pokdarwis setempat bahwa bisa dikunjungi.
Perasaan jenuh dan ingin segera tiba di Lekolodo sudah sangat besar. Tim kami yang berjumlah 19 orang ini bergegas pulang melewati satu satunya jalur yang bisa dilalui. Modal nekat. Semua anggota tubuh dimaksimalkan. Meraih apa saja yang ada didepan dan menggenggam apa saja yang bisa digenggam. Jalur ini melewati banyak akar kayu. Sesekali batu pijakan yang rapuh jatuh bebas. Ada yang membentur tim kami yang berjalan kemudian. Ini resiko yang tidak bisa dihindari.
Setelah keluar dari hutan yang banyak akar, sebuah tebing tinggi tanpa pohon dihadapan kami. Tak ada jalur alternatif. Kami harus melewatinya. Ingin rasanya menangis sekuat tenaga dan memukul siapapun didepan. Tapi itu nyatanya akan sia sia. Kami harus melewati ini. Om Hubert berada diposisi paling depan. Pak David ( kades LG) berada kemudian menunggu pak Baslius dan pak Arnol yang berjalan pelan. Pak Heri dan beberapa lainnya terlepas dari tim kami. Saya salah satunya yang sangat takut. Keringat karena panas dan gugup menyatu. Bayang bayang akan jatuh terguling bebas seperti batu terlintas sepanjang waktu. Di depan saya ada Sil, kemudian Yeri, Novi ,Egen, San dan om Huber. Belakang saya ada Fan, Megi, Pedro, Erwin dan Lorens. Sepatu milik Sil didepan menjadi titik fokus saya. Pandangan saya tidak sedikitpun beralih dari kami dan sepatu milik Sil. Saya ngeri melihat kebelakang. Sesekali saya berteriak meminta bantuan.
Tidak hanya untuk menarik dan mendorong tapi juga untuk jangan berada terlalu jauh. Saya menangkap banyak suara keluhan dari depan maupun dibelakang. Jalur ini hanya butuh waktu 13 menit tapi karena berada dikemiringan yang brutal serasa berjam jam.
Perasaan bahagia seketika menguasai kami semua, ketika mendengar suara om Huber berteriak dari puncak bukit sambil menunjukan arah persawahan.
"Itu sawah didepan kita"
Kalimat ini sangat ajaib. Mampu mengubah perasaan kami.
Dan benar adanya.
Dipuncak kami melihat hamparan sawah berada persis disebelah bukit. Melihat sawah berarti melihat kehidupan baru. Beberapa diantara kami langsung menuruni lereng bukit untuk segera sampai di pondok dekat sawah.
Di puncak inilah salah satu spot foto yang paling indah. Pemandangan matahari terbenam diantara bukit yang membelah sungai yang mengalirkan air menuju Aimere ini sangat disarankan untuk para pencinta Sunset.
Perasaan takut dan marah hilang seketika saat duduk dipuncak bukit ini. Hanya ada perasaan damai dan bahagia. Bahagia karena merasa masih dicintai Tuhan.
Jalur ini mudah ditempuh dari kompleks pemukiman warga di desa Langagedha 1 - Wolokoro. Butuh waktu satu jam untuk sampai disini. Namun tidak disarankan untuk melalui jalur yang kami tempuh.
Usai mengabadikan gambar, kami menyusul tim lainnya yang sudah berada di sekitar persawahan.
Jeruh asam menjadi buah penahan lapar satu satunya yang kami jumpai disitu.
Dikejauhan tebing, suara monyet berteriak seolah ingin mengusir kami.
Hari sudah mulai gelap, kami bergerak kembali usai tim berkumpul lengkap. Kali ini jalurnya sudah ada, karena melewati jalan para petani. Bapak dan ibu dari Dinas pariwisata Ngada menanti kami di batas kampung dengan perasaan lega. Lega karena khawatir ada tim yang kurang. Karena prediksi lama tempuh awalnya tiga jam namun kami mengakhirinya dengan delapan jam.
Terimakasih untuk survey ini. Terimakasih untuk pengalaman ini.
Makan malam menjadi dua kali menggantikan makan siang yang terlewatkan.
Langagedha - Wolokoro
18 Oktober 2019
Salam hangat
Mertin Lusi
Dan sebelum jam itu, kami berempat sudah tiba dilokasi. Titik kumpul di kantor Desa Langagedha. Dua jam kemudian baru mulai berdatangan anggota lainnya. Setelah melewati pertemua singkat bersama pimpinan desa juga bidang destinasi wisata Dinspar Ngada, kami mulai bergerak melewati perkampungan Langagedha. Di ujung kampung sebelum berbelok keluar menuju hutan, ada sebuah pagar bambu yang dianyam dengan tinggi sekitar 10 meter dan lebar 8 meter. Ini menurut warga setempat merupakan pagar pembatas untuk mengusir hama. Setiap bulan Juni akan diadakan ritual "Sepa Api Doko". Belahan pagar bambu tersebut dibakar ditengah kampung Langagedha. Setelah menjadi arang,semua lelaki yang hadir wajib menendang layaknya sebuah bola. Ritual ini tidak diperbolehkan untuk wanita, sehingga saya yang menulispun tidak begitu tau detail situasi dilokasi karena tidak diperbolehkan untuk saya. Dan kalaupun saya bisa melihat ini jika saya sudah melewati fase ( berhenti haid). Aih, masih sangat lama le 🙆🙆. Bagian ini nanti di cerita yang berikutnya atau akan saya tulis detail setelah saya berhenti di satu fase itu. 😆
Kembali ke perjalanan yang tadi. Keluar dari kampung Langagedha melewati kampung Bokolo,langsung bertemu jalan setapak yang menghubungkan kesebuah perkampungan baru yang diberi nama kampung Surlo. Kampung baru ini untuk sementara baru dihuni oleh dua kepala keluarga bernama Suri dan Logo sehinggga Surlo itu berasal dari Suri Logo. Nama ini katanya diberikan dan disahkan tanpa surat oleh warga Langagedha.
Disepanjang jalan melewati kampung Surlo ini, terdapat beberapa lokasi sakral yang biasa digunakan untuk upacara adat. Masyarakat suku di Langagedha merupakan pemegang adat utama di Langa secara keseluruhan. Sehingga ada beberapa ritual adat yang harus mereka memulai lebih awal kemudian yang lainnya mengikuti.
Selain tempat ritual adat, pemandangan alam berupa barisan bukit berjejer disekitar lembah yang ditumbuhi sayur kangkung,selada,paku dan Leda. Disini bisa menjadi titik pemandangan untuk matahari terbenam dan kearah selatan ada pemandangan bukit dan gunung Inerie. Perjalanan masih ditempuh dengan ringan dan santai. Jalan tanahpun sudah diperlebar sehingga kendaraan roda dua bisa melaju dengan cepat. Hampir disetiap tikungan pasti ada pahatan alam yang berbeda pula.
30 menit berlalu. Jalur tempuh perlahan mulai menurun. Semakin menurun. Melewati kebun sayur kangkung. Jalur warga selesai disitu. Selanjutnya jalur kami yang atur sendiri. Berlawanan arah, kami menyusuri jalur sepanjang aliran sungai. Tepat dibawah pohon jambu air, sebuah sumber mata air panas dengan kolam selebar ember pakaian dirumah. Tanpa bau belerang sebagaimana biasanya air panas. Tidak jauh dari tempat itu, ada juga beberapa buah sumber air panas dengan ukuran kolam melingkar alamiah,selebar lingkaran tangan orang dewasa. Kami menyempatkan untuk membasuh wajah dengan air panas yang menurut warga Langagedha disebut Wae Bua.
Segar rasanya. Air terjun Wae Selo dengan ketinggian sekitar 7 meter berada dekat kami. Ini destinasi wisata indah yang perlu sesegera mungkin dikembangkan.
Berbagai impian tentang pengembangan lokasi ini, hingga jalur tempuh yang nyaman bagi pengunjungpun kami diskusikan secara lepas. Apalagi dalam tim kami kali ini juga termasuk Kepala Desa Langagedha. Kami yakin beliau mencatat semua perbincangan ringan hingga berat ini.
Perjalanan dilanjutkan ke arah barat, beberapa menit kemudian kami menjumpai sebuah kolam besar berbentuk lingakaran alami. Namanya Tiwu Kako. Ini sangat cocok untuk berenang, namun tidak dianjurkan untuk berenang dimusim hujan karena debit airnya akan sangat meningkat dan cukup berbahaya.
Ke arah kanan, kami melewati hutan kaliandra dan ampupu. Jalurnya sangat menanjak. Butuh banyak energi untuk mendaki. Dipuncak bukit, padang savana terhampar luas. Matahari tepat diatas kepala. Panas. Tanpa pohon. Titik pemandangan keberbagai penjuru sangat indah. Barisan bukit watunariwowo dan dibelakangnya ada gunung Inerie sangat jelas diarah selatan. Ke arah timur dan utara juga masih sejauh mata memandang terbentang hamparan savana yang menguning.
Langkah kaki terus mengayuh kearah barat. Semakin menurun. Jalur ini melewati semak semak yang banyak ditumbuhi gelagah dan anggur hutan berduri. Menunduk, duduk ataupun jongkok melewati jalur ini. Kadang jatuh tergulingpun tidak bisa dihindari. Juga duri tertinggal dalam dagingpun tak mampu ditolak.
Dari sinilah perjalanan mulai berat. Medan perang melawan diri sendiri. Kembali pulang sudah terlalu jauh, maju terus sudah lelah juga gugup melihat jalur didepannya. Menurun dengan kemiringan hampir 180 derajad. Peralatan perang kami apa adanya. Tanpa tali dan lainnya. Yang diandalkan hanyalah kaki, tangan dan hati yang besar.
Sudah melewati jalan turun cukup jauh, tapi kadang diarahkan untuk kembali karena didepannya jalan buntu. Ingin marah tapi bingung pada siapa, karena ini adalah pilihan. Tanpa ada yang memaksa.
Usai sudah melewati jalan turun dengan pijakan pada tanah yang rapuh juga bebatuan rapuh yang sewaktu waktu jatuh berhamburan bisa melukai orang di depanmu. Tangan berkeringat menggenggam erat tumpukan akar alang-alang. Telapak tergores itu pasti. Darah mengalir keluar itu juga wajib. Tapi itu menjadi titik fokus yang kesekian dibelakang.
Semakin mendekati sungai, jalur memasuki hutan dengan banyak akar bergantungan. Kadang harus membuang diri kedepan untuk bisa memeluk pohon ataupun meloncat untuk menggapai pohon yang lainnya. Sepatu dimasukan dalam tas. Sandal berpindah di lengan. Butuh pijakan yang pas. Gaya sudah sedikit mirip monyet. Lebih sigap dan lebih teliti. Baju yang dipakai berlubang disobek dahan kayu. Beberapa kali terjepit diantara ranting kayu sehingga beberapa bagian baju dan celana menjadi tidak utuh.
Jika tak ada pohon ataupun akar, tim pria dengan tulus hati saling merentangkan tangan bak tali untuk menjaga tim lain yang gugup ketinggian agar tidak jatuh. Bayangan bahaya menggantung didepan mata. Kalau salah pijakan, berarti berita duka siap dikirim. Evakuasipun akan sangat sulit. Bayang bayang kematian mengambang. Hanya doa tulus terucap dalam hati.
Bunyi gemuruh air terjun Soa ne Wua sangat jelas terdengar. Namun kami tak kunjung tiba. Dua jam berputar putar dengan jalur yang tak pasti. Lapar, lelah bercampur aduk dengan rasa bosan juga khawatir.
Pukul empat sore, kami tiba di dekat aliran sungai. Wajah wajah penuh amarah tergambar jelas namun suara yang ditampilkan penuh kelembutan.
Di depan kami, gemuruh air jatuh sangat dasyat. Air terjun ini namanya soa ne Wua. Tingginya diperkirakan ratusan meter. Tidak seperti air tejun lainnya yang jatuh dengan bebas. Air terjun ini jatuhnya mengikuti pahatan dinding batu menyerupai pipa. Dan kolamnya berbentuk persegi panjang dengan hijau menjadi warna dasarnya. Tidak ada tempat yang layak untuk dijadikan spot foto untuk melihat keseluruhan air terjun ini. Ektra ekstrim. Suasana terasa mencekam. Suara burung yang jarang terdengar. Tempat ini hampir pasti belum pernah dikunjungi manusia. Dan kami menjadi orang pertama.
Benar benar indah. Namun harus dikaji lebih dalam untuk dijadikan tempat wisata. Ataupun kamu yang membaca tulisan ini ataupun melihat foto tentang lokasi ini, saya sarankan untuk jangan dulu datang kesini sampai ada informasi dari dinspar ataupun pokdarwis setempat bahwa bisa dikunjungi.
Perasaan jenuh dan ingin segera tiba di Lekolodo sudah sangat besar. Tim kami yang berjumlah 19 orang ini bergegas pulang melewati satu satunya jalur yang bisa dilalui. Modal nekat. Semua anggota tubuh dimaksimalkan. Meraih apa saja yang ada didepan dan menggenggam apa saja yang bisa digenggam. Jalur ini melewati banyak akar kayu. Sesekali batu pijakan yang rapuh jatuh bebas. Ada yang membentur tim kami yang berjalan kemudian. Ini resiko yang tidak bisa dihindari.
Setelah keluar dari hutan yang banyak akar, sebuah tebing tinggi tanpa pohon dihadapan kami. Tak ada jalur alternatif. Kami harus melewatinya. Ingin rasanya menangis sekuat tenaga dan memukul siapapun didepan. Tapi itu nyatanya akan sia sia. Kami harus melewati ini. Om Hubert berada diposisi paling depan. Pak David ( kades LG) berada kemudian menunggu pak Baslius dan pak Arnol yang berjalan pelan. Pak Heri dan beberapa lainnya terlepas dari tim kami. Saya salah satunya yang sangat takut. Keringat karena panas dan gugup menyatu. Bayang bayang akan jatuh terguling bebas seperti batu terlintas sepanjang waktu. Di depan saya ada Sil, kemudian Yeri, Novi ,Egen, San dan om Huber. Belakang saya ada Fan, Megi, Pedro, Erwin dan Lorens. Sepatu milik Sil didepan menjadi titik fokus saya. Pandangan saya tidak sedikitpun beralih dari kami dan sepatu milik Sil. Saya ngeri melihat kebelakang. Sesekali saya berteriak meminta bantuan.
Tidak hanya untuk menarik dan mendorong tapi juga untuk jangan berada terlalu jauh. Saya menangkap banyak suara keluhan dari depan maupun dibelakang. Jalur ini hanya butuh waktu 13 menit tapi karena berada dikemiringan yang brutal serasa berjam jam.
Perasaan bahagia seketika menguasai kami semua, ketika mendengar suara om Huber berteriak dari puncak bukit sambil menunjukan arah persawahan.
"Itu sawah didepan kita"
Kalimat ini sangat ajaib. Mampu mengubah perasaan kami.
Dan benar adanya.
Dipuncak kami melihat hamparan sawah berada persis disebelah bukit. Melihat sawah berarti melihat kehidupan baru. Beberapa diantara kami langsung menuruni lereng bukit untuk segera sampai di pondok dekat sawah.
Di puncak inilah salah satu spot foto yang paling indah. Pemandangan matahari terbenam diantara bukit yang membelah sungai yang mengalirkan air menuju Aimere ini sangat disarankan untuk para pencinta Sunset.
Perasaan takut dan marah hilang seketika saat duduk dipuncak bukit ini. Hanya ada perasaan damai dan bahagia. Bahagia karena merasa masih dicintai Tuhan.
Jalur ini mudah ditempuh dari kompleks pemukiman warga di desa Langagedha 1 - Wolokoro. Butuh waktu satu jam untuk sampai disini. Namun tidak disarankan untuk melalui jalur yang kami tempuh.
Usai mengabadikan gambar, kami menyusul tim lainnya yang sudah berada di sekitar persawahan.
Jeruh asam menjadi buah penahan lapar satu satunya yang kami jumpai disitu.
Dikejauhan tebing, suara monyet berteriak seolah ingin mengusir kami.
Hari sudah mulai gelap, kami bergerak kembali usai tim berkumpul lengkap. Kali ini jalurnya sudah ada, karena melewati jalan para petani. Bapak dan ibu dari Dinas pariwisata Ngada menanti kami di batas kampung dengan perasaan lega. Lega karena khawatir ada tim yang kurang. Karena prediksi lama tempuh awalnya tiga jam namun kami mengakhirinya dengan delapan jam.
Terimakasih untuk survey ini. Terimakasih untuk pengalaman ini.
Makan malam menjadi dua kali menggantikan makan siang yang terlewatkan.
Langagedha - Wolokoro
18 Oktober 2019
Salam hangat
Mertin Lusi
Air Terjun Jembatan Batu itu ada di Were
Langit biru tanpa sebercak awan putih. Matahari mulai condong ke barat namun hawa panas seperti layaknya berada di Aimere. Padahal kaki kami berpijak di Langa.
Hanya beberapa menit berdiskusi, 3 lelaki usia pas kawin ini memutuskan untuk mengunjungi lokasi wisata air terjun yang sempat mereka lihat di grup medsos. Postingan orang tak dikenal,sebuah gambar Air Terjun dengan jembatan batu tanpa editan. Asli. Postingan itu hanya menyebutkan nama desa dimana gambar itu diambil. Desa Were 1- Kecamatan Golewa Tengah - Ngada. Itu beberapa bulan yang lalu.
Tanpa kompromi, mereka menyeret saya untuk bergabung dalam tim dadakan ini. Tanpa bekal. Bermodalkan Nekat, dan penasaran. Kami berempat ( Mertin, Fan, Ivan dan Wili) melaju dengan sepeda motor dengan perasaan tak sabar segera tiba.
Masuk wilayah Mataloko, kabut tebal menyambut kami dari kejauhan. Perasaan berubah seketika. Antara ingin melanjutkan atau balik pulang. Konon, para leluhur sangat percaya kalau awan turun ke bumi pertanda ada jiwa jiwa yang lainnya juga turut serta, sehingga mahluk apapun yang bisa bernafas yang berjumpa langsung pasti hidupnya tidak akan lama. Dan keyakinan itu diturunkan lurus kepada kami.
Kali ini, kami berusaha mematahkan itu dengan harapan awan tidak ada disekitar lokasi tujuan.
Beberapa kali, kami berhenti sejenak menanyakan alamat kepada orang yang dijumpai di jalan. Alamat yang diberikan bukan alamat palsu. Orang -orang disana dan Ngada umumnya masih memiliki hati yang sempurna. Tulus itu nampak dari senyuman mereka.
Di ujung jalan dusun Woewali, kami disambut beberapa warga dengan sangat ramah. Bergantian mereka menjelaskan tentang lokasi dan jalur tempuh.
"Harus ada anak anak disini yang antar kalian, jangan pergi sendiri e"
Kalimat ini selalu sama dari setiap mereka.
Ada rasa haru dalam hati. Diperlakukan dengan tulus tanpa memandang siapa kami.
Langit diatas desa Were I ini nampak bersih dan cerah, ini sinyal dari alam bahwa kami diijinkan untuk sampai ke lokasi tujuan.
Setelah berkompromi, tim kami bertambah menjadi 9 orang. Saya satu satunya perempuan di tim ini. Kami ditemani 4 anak usia SMP dan juga Son Bao pemuda asli dusun Woewali. Dusun yang wilayahnya mencakup lokasi air terjuna tujuan kami.
Hampir sama dengan jalur -jalur biasanya yang menuju air terjun yang pernah kami tempuh. Pasti menurun menyusuri lereng tebing dan sesekali melintasi jalur aliran air.
Jalur kali ini, tidak semudah menuju Air Terjun Ogi, dan tidak seekstrim menuju Air Terjun Ngabatata di Nagekeo juga Sembilan air terjun di Langa.
Waktu tempuh dari kompleks rumah warga hanya 10 menit jalan santai sambil bercerita. Dan menurun sekitar lima menit melewati kebun kacang dan wortel milik warga dusun setempat. Dan dalam perjalanan kurang lebih 15 menit ini, kita sudah langsung bisa mendengar suara gemuruh air yang jatuh menabrak bebatuan.
Dalam bahasa daerah Bajawa Air terjun =Soa.
Di perhentian pertama, kita akan disuguhi pemandangan indah Soa Soro. Dengan ketinggian kurang lebih 80 meter. Disekitar air terjun ini tumbuh banyak bunga anggrek berwarna ungu. Ada yang menempel di bebatuan, juga bergantungan di pohon. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalur air dari Soa Soro ke arah timur.
Jalur ini punya sensasi loncat indah, kalau seandainya kaki dipasang dengan alat bantu loncat vertikal. Namun tidak disarankan untuk dimusim hujan, karena permukaan batu lebih licin dari biasanya.
Mata juga harus lebih jeli melihat batu yang akan menjadi pijakan kaki. Bila tidak, pengalaman saya akan kamu ulangi. Saya sempat kehilangan kendali saat akan melewati sebuah batu besar nan tinggi. Dalam hati, saya sangat yakin bisa melompatinya namun ternyata kurang beberapa sentimeter saja. Tentu bisa dibayangkan kan... 😃.
Belok kiri, belok kanan. Awas lubang,loncat sedikit, rentangkan tangan untuk keseimbangan. Sesekali niat untuk menceburkan diri dalam air itu sangat tinggi. Air sangat jernih,tanpa sampah plastik mengalir dengan bebasnya.
Sekitar 10 menit, kami menjumpai air terjun kedua namanya Soa Wawi. Tingginya sekitar 7 meter dan direkomendasikan sebagai tempat mandi. Kolam alamiahnya membentuk lingkaran dengan warna hijau menyelimuti dinding batu.
Dan dari Soa Wawi, sejauh lemparan batu orang dewasa kami diberitahu kalau itu lokasi air terjun Padha Watu. Kamipun bergegas kesana menyusuri jalur air mengalir.
Jalur ini tidak kalah menarik juga. Kami harus melewati sebuah terowongan selebar tubuh pria dewasa. Terowongan ini bersambungan langsung dengan mata air Soa Padha Watu.
Padha Watu= Jembatan Batu
Soa Padha Watu ini tingginya hanya sekitar 5 meter namun mengalir membentuk beberapa tingkatan dan didepannya terbentang jembatan batu alamiah.
Batu ini tersabung dari kedua sisi membentuk sebuah jembatan kecil. Dibagian bawahnya terdapat rongga yang menjadi tempat menempelnya sarang burung. Dan bagian depannya sebuah kolam kecil berbentuk lingkaran sangat cocok untuk jadi tempat pemandian.
Setelah mengambil gambar dan istirahat sejenak, kamipun kembali pulang.
Sambil menyeruput kopi Son yang juga Ketua Orang Muda Katolik Paroki Keluarga Kudus Nazaret Were ini, bercerita kalau pihaknya bersama orang muda dan warga dusun setempat telah berencana untuk mengembangkan potensi yang ada. Namun butuh banyak dukungan dari semua pihak untuk bisa merealisasikannya.
Tenyata setelah air Terjun Padha Watu ini, masih ada air terjun lainnya yang tidak kalah indah dengan jalur berupa tangga batu alamiah. Konon, tangga itu dibuat oleh seorang raksasa bernama Dhake. Dan sebelum mata air terjun Soa Soro, ada juga air terjun yang namanya Roba me Dhake. Atau air terjun ini dinamai karena Dhake pernah jatuh ditempat itu.
Saya jadi ingat, kalau di kampung Bena itu ada legenda tentang Dhake dan juga masih ada jejak kaki dari Raksasa yang bernama Dhake ini.
Sepertinya banyak hal yang saling berkaitan namun cukup rumit untuk dibedah.
PR besar bagi saya dan kita semua.
Tima tii woso Son, semoga ada banyak pihak yang punya hati tergerak untuk sama sama memikirkan niat baikmu dan warga dusun Woewali.
Tima tii woso untuk Os, Orin, bapak, mama dan teman teman orang muda di Woewali.
Terimakasih semesta...
Isi Langa Loza ge Rapa Ngeda.
Salam hormat,
Mertin
Hanya beberapa menit berdiskusi, 3 lelaki usia pas kawin ini memutuskan untuk mengunjungi lokasi wisata air terjun yang sempat mereka lihat di grup medsos. Postingan orang tak dikenal,sebuah gambar Air Terjun dengan jembatan batu tanpa editan. Asli. Postingan itu hanya menyebutkan nama desa dimana gambar itu diambil. Desa Were 1- Kecamatan Golewa Tengah - Ngada. Itu beberapa bulan yang lalu.
Tanpa kompromi, mereka menyeret saya untuk bergabung dalam tim dadakan ini. Tanpa bekal. Bermodalkan Nekat, dan penasaran. Kami berempat ( Mertin, Fan, Ivan dan Wili) melaju dengan sepeda motor dengan perasaan tak sabar segera tiba.
Masuk wilayah Mataloko, kabut tebal menyambut kami dari kejauhan. Perasaan berubah seketika. Antara ingin melanjutkan atau balik pulang. Konon, para leluhur sangat percaya kalau awan turun ke bumi pertanda ada jiwa jiwa yang lainnya juga turut serta, sehingga mahluk apapun yang bisa bernafas yang berjumpa langsung pasti hidupnya tidak akan lama. Dan keyakinan itu diturunkan lurus kepada kami.
Kali ini, kami berusaha mematahkan itu dengan harapan awan tidak ada disekitar lokasi tujuan.
Beberapa kali, kami berhenti sejenak menanyakan alamat kepada orang yang dijumpai di jalan. Alamat yang diberikan bukan alamat palsu. Orang -orang disana dan Ngada umumnya masih memiliki hati yang sempurna. Tulus itu nampak dari senyuman mereka.
Di ujung jalan dusun Woewali, kami disambut beberapa warga dengan sangat ramah. Bergantian mereka menjelaskan tentang lokasi dan jalur tempuh.
"Harus ada anak anak disini yang antar kalian, jangan pergi sendiri e"
Kalimat ini selalu sama dari setiap mereka.
Ada rasa haru dalam hati. Diperlakukan dengan tulus tanpa memandang siapa kami.
Langit diatas desa Were I ini nampak bersih dan cerah, ini sinyal dari alam bahwa kami diijinkan untuk sampai ke lokasi tujuan.
Setelah berkompromi, tim kami bertambah menjadi 9 orang. Saya satu satunya perempuan di tim ini. Kami ditemani 4 anak usia SMP dan juga Son Bao pemuda asli dusun Woewali. Dusun yang wilayahnya mencakup lokasi air terjuna tujuan kami.
Hampir sama dengan jalur -jalur biasanya yang menuju air terjun yang pernah kami tempuh. Pasti menurun menyusuri lereng tebing dan sesekali melintasi jalur aliran air.
Jalur kali ini, tidak semudah menuju Air Terjun Ogi, dan tidak seekstrim menuju Air Terjun Ngabatata di Nagekeo juga Sembilan air terjun di Langa.
Waktu tempuh dari kompleks rumah warga hanya 10 menit jalan santai sambil bercerita. Dan menurun sekitar lima menit melewati kebun kacang dan wortel milik warga dusun setempat. Dan dalam perjalanan kurang lebih 15 menit ini, kita sudah langsung bisa mendengar suara gemuruh air yang jatuh menabrak bebatuan.
Dalam bahasa daerah Bajawa Air terjun =Soa.
Di perhentian pertama, kita akan disuguhi pemandangan indah Soa Soro. Dengan ketinggian kurang lebih 80 meter. Disekitar air terjun ini tumbuh banyak bunga anggrek berwarna ungu. Ada yang menempel di bebatuan, juga bergantungan di pohon. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri jalur air dari Soa Soro ke arah timur.
Jalur ini punya sensasi loncat indah, kalau seandainya kaki dipasang dengan alat bantu loncat vertikal. Namun tidak disarankan untuk dimusim hujan, karena permukaan batu lebih licin dari biasanya.
Mata juga harus lebih jeli melihat batu yang akan menjadi pijakan kaki. Bila tidak, pengalaman saya akan kamu ulangi. Saya sempat kehilangan kendali saat akan melewati sebuah batu besar nan tinggi. Dalam hati, saya sangat yakin bisa melompatinya namun ternyata kurang beberapa sentimeter saja. Tentu bisa dibayangkan kan... 😃.
Belok kiri, belok kanan. Awas lubang,loncat sedikit, rentangkan tangan untuk keseimbangan. Sesekali niat untuk menceburkan diri dalam air itu sangat tinggi. Air sangat jernih,tanpa sampah plastik mengalir dengan bebasnya.
Sekitar 10 menit, kami menjumpai air terjun kedua namanya Soa Wawi. Tingginya sekitar 7 meter dan direkomendasikan sebagai tempat mandi. Kolam alamiahnya membentuk lingkaran dengan warna hijau menyelimuti dinding batu.
Dan dari Soa Wawi, sejauh lemparan batu orang dewasa kami diberitahu kalau itu lokasi air terjun Padha Watu. Kamipun bergegas kesana menyusuri jalur air mengalir.
Jalur ini tidak kalah menarik juga. Kami harus melewati sebuah terowongan selebar tubuh pria dewasa. Terowongan ini bersambungan langsung dengan mata air Soa Padha Watu.
Padha Watu= Jembatan Batu
Soa Padha Watu ini tingginya hanya sekitar 5 meter namun mengalir membentuk beberapa tingkatan dan didepannya terbentang jembatan batu alamiah.
Batu ini tersabung dari kedua sisi membentuk sebuah jembatan kecil. Dibagian bawahnya terdapat rongga yang menjadi tempat menempelnya sarang burung. Dan bagian depannya sebuah kolam kecil berbentuk lingkaran sangat cocok untuk jadi tempat pemandian.
Setelah mengambil gambar dan istirahat sejenak, kamipun kembali pulang.
Sambil menyeruput kopi Son yang juga Ketua Orang Muda Katolik Paroki Keluarga Kudus Nazaret Were ini, bercerita kalau pihaknya bersama orang muda dan warga dusun setempat telah berencana untuk mengembangkan potensi yang ada. Namun butuh banyak dukungan dari semua pihak untuk bisa merealisasikannya.
Tenyata setelah air Terjun Padha Watu ini, masih ada air terjun lainnya yang tidak kalah indah dengan jalur berupa tangga batu alamiah. Konon, tangga itu dibuat oleh seorang raksasa bernama Dhake. Dan sebelum mata air terjun Soa Soro, ada juga air terjun yang namanya Roba me Dhake. Atau air terjun ini dinamai karena Dhake pernah jatuh ditempat itu.
Saya jadi ingat, kalau di kampung Bena itu ada legenda tentang Dhake dan juga masih ada jejak kaki dari Raksasa yang bernama Dhake ini.
Sepertinya banyak hal yang saling berkaitan namun cukup rumit untuk dibedah.
PR besar bagi saya dan kita semua.
Tima tii woso Son, semoga ada banyak pihak yang punya hati tergerak untuk sama sama memikirkan niat baikmu dan warga dusun Woewali.
Tima tii woso untuk Os, Orin, bapak, mama dan teman teman orang muda di Woewali.
Terimakasih semesta...
Isi Langa Loza ge Rapa Ngeda.
Salam hormat,
Mertin
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan
PELUANG USAHA KAIN TENUN IKAT TRADISIONAL ENDE LIO DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...
-
Perjalanan ke Nagekeo awalnya hanyalah perjalanan tugas. Namun kabar tentang hadirnya dokter spesialis di sana membuat saya berpikir,mum...
-
Semana Santa di Larantuka bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengajak setiap peziarah masuk lebih d...
-
Awal September 2025 lalu membawa luka bagi banyak saudara kita di wilayah Mauponggo, terutama di kampung Sawu. Banjir bandang yang menerjang...






















