Kampung Liti Nagaroro dengan banyak Batu Misterius

 Kampung adat merupakan sebuah wilayah desa yang masih menjaga dengan baik warisan  leluhur. Melalui kampung adat ini, kita dapat mempelajari nilai-nilai yang telah diberikan oleh nenek moyang, menjaga dan melestarikannya. Berikut kisah kampung adat Liti yang penuh keunikan dan dapat dijadikan destinasi wisata bagi kamu yang ingin mendapatkan cerita yang berbeda dari Selatan kabupaten Nagekeo. 



Kampung ini masuk dalam wilayah desa Riti kecamatan Nangaroro kabupaten Nagekeo,Flores Indonesia.  Letaknya dipegunungan ini menjadi sentra pertanian.Tempat yang sejuk memungkinkan di Riti dikembangkan pertanian kelapa,cengkeh, kopi dan juga vanili.


Dari pusat kota Mbay bisa ditempuh selama 3 jam dengan menggunakan roda dua maupun empat. Dari arah pusat paroki Nangaroro bisa menggunakan jalur belok kiri menuju arah selatan hingga kampung Liti bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Jalur menuju kampung ini belum memiliki


rambu penunjuk arah sehingga rambu yang tepat digunakan adalah bertanya kepada siapapun yang dijumpai di jalan.  Bila sudah sampai di depan kantor desa Tonggo, kita bisa mengambil jalur kanan menuju arah pegunungan.  Desa Tonggo ini juga salah satu desa di kecamatan Nangaroro yang sebagian besar penduduknya nelayan.Hal ini disebabkan karena letak geografis desa ini dipesisir pantai. kerajinan tenun juga menjadi ciri khas desa ini.Untuk meningkatkan produksi kain tenun disetiap RW di desa Tonggo telah dibangun sanggar tenun juga. 



Untuk kampung tradisional di Liti, atap rumahnya terbuat dari sirap/bambu bilah kecil yg disusun panjang pendek. Dari kejauhan terlihat mirip seperti genteng. Namun cara menyusun bilah bambu ini sedikit lebih rumit karena ukuran panjang pendek bambu harus sesuai juga tehnik peletakannya. Biasanya ukuran sirap ini plaing panjang 50 cm. Menurut pengakuan warga,  sejak berdirinya kampung Liti, warga sempat membuat atap menggunakan  alang-alang, dan daun kelapa,kemudian sirap dan saat ini beberapa rumah sudah ada yang menggunakan atap seng. Sedangkan dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang disusun dengan berbagai variasi. Saat ini rumah adat yang masih bertahan utuh dengan anyaman dinding bambu juga atap sirap hanya bisa di hitung dengan jari karena warga sudah mulai beralih ke rumah modern. 



Meski demikian,  keseluruhan warga yang mendiami kampung ini masih sangat percaya dengan semua peninggalan leluhur termasuk beberapa batu misterius yang ada di kampung tersebut. 



Untuk masuk ke dalam kampung terdapat beberapa pantangan yang harus ditaati oleh mereka yang mendiami kampung ini maupun pengunjung. Pantangannya yakni tidak boleh membawa masuk dalam kampung bersama daun pisang, daun pandan, tebu dan pinang.  Apabila ada yang melanggar maka akan terjadi bencana hujan badai yang bisa menghancurkan seluruh isi kampung.  Hal ini sudah pernah terbukti beberapa tahun yang lalu,  pada saat pengunjung yang secara tidak sengaja membawa masuk beberapa barang yang di larang tersebut. Untungnya,  beberapa tetua adat dalam kampung tersebut langsung mengadakan upacara adat di atas Watu Pene yang ada persis di tengah kampung. 



Watu Pene ini menyerupai meja yang terdiri dari batu ceper yang diletakan diatas beberapa batu yang lainnya.  Batu ini sudah ada sejak dahulu. 

Gerbang masuk menuju kampung ini dimulai dengan anak tangga yang tersusun secara alamiah dari batu batu ceper.  Dulu,  kampung ini tidak ada akses masuk. Barangkali leluhur menggunakan tangga kayu untuk masuk dan keluar namun kemudian secara bersama mengerjakan tangga dengan jumlah sekitar 46 anak tangga.  Beberapa kali mencoba hitung ulang tapi jumlahnya kadang berbeda. Mungkin saja pengunjung yang berbeda akan mendapatkan jumlah yang berbeda bila di hitung.  



Warga kampung ini memiliki keyakinan bahwa bila mengalami kesusahan atau ingin mencari solusi,  bisa naik turun tangga sambil mengucapkan doa dengan sungguh dan pasti akan mendapatkan petunjuk.  Juga sebaliknya bila tangga ini diruntuhkan dan dibangun ulang dengan tangga modern maka akan terjadi malapetaka. 



Persis di pertengahan tangga,  terdapat sebuah batu besar di bagian kanan. Batu ini namanya Watu Rio Rangga.  

Konon, kisah tentang Watu Rio Rangga ini yakni di kampung tersebut hiduplah seorang pemuda bernama Rangga. Beliau tinggal sendirian dirumah sehari-hari bekerja di kebun. Setiap kali pulang kerumah selalu mendapati rumahnya telah bersih dan makanan juga minuman telah tersedia.  Selalu setiap hari.  Pada suatu ketika,  Rangga berniat untuk mencari tahu siapa sosok yang datang kerumahnya ketika dia sednag dikebun.  Pada waktu pagi hari, Rangga seperti biasa berkemas untuk ke kebun. Namun beberapa saat kemudian dia balik lagi kerumah untuk mencari tahu. Ternyata dia menemukan seorang gadis cantik yang merupakan penjelmaan dari wawi tolo ( babi merah). Rangga sangat kaget lalu tiba-tiba berubah menjadi bisu.  Gadis cantik tersebutpun menjadi istrinya meskipun Rangga menjadi Bisu. 



Para warga yang lain membuat upacara adat kemudian meletakkan Rangga diatas Batu lalu memandikannya dengan darah kerbau. Ranggapun bisa berbicara kembali. Dan hingga kini batu tempat memandikan Rangga dinamai Watu Rangga.  Keturunan Rangga bersama gadis jelmaan tersebut sangat banyak hingga ke pulau Ende dan sekitarnya. 



Memasuki kampung,  terdapat sebuah batu yang dinamai Watu Sudhu Umu ( Hitung Umur). Menurut kepercayaan warga,  semua orang tidak boleh membandingkan tinggi badannya dengan batu tersebut karena bila terjadi maka orang tersebut akan segera meninggal dunia. Tidak diperbolehkan untuk mengukur siapa yang lebih tinggi ataupun lebih rendah. 

Memasuki bagian tengah kampung terdapat batu yang menyerupai mesbah dengan dua buah batu diatasnya. Batu ini merupakan sombol Peo.  Peo merupakan lambang etnis Nagekeo. 

Persis sekitar dua meter dari Peo,  terdapat Watu Fay ( Batu perempuan). Di tengah batu ini terdapat sebuah lubang kecil dan tidak diperbolehkan siapapun untuk mengorek luang tersebut kecuali melalui upacara adat. Menurut pengakuan warga,  bila terjadi kemarau panjang maka mereka akan segera melakukan upacara adat yang kemudian lubang kecil tersebut boleh dikorek menggunakan kayu.  Bila terdapat tanah basah,  maka pertanda hujan akan segera turun namun bila tidak menemukan sesuatu maka akan terjadi bencana kekeringan. 



Diujung kampung bagian barat, terdapat sebuah batu namanya Watu Di ( Batu Bunyi).  Batu ini akan berbunyi sendiri bila akan terjadi kematian yang menimpa warga kampung tersebut.  Dulunya, batu ini bentuknya seperti meja dengan beberapa kaki penyanggah sehingga bunyinya snagat nyaring bilang akan ada warga yang meninggal. Namun karena warga sangat jengkel mendengar bunyi batu tersebut senagai pertanda kerabat ataupun keluarga dekat akan meninggal maka mereka memutuskan untuk menurunkannya lebih rapat di tanah biar tidak terdengar bunyi. Hingga saat ini bunyinya sudah sayup sayup bahkan menghilang karena ditumbuhi rerumputan dan tidak terawat. 



Ada banyak batu misterius yang ada di kampung ini yang butuh di gali lebih dalam dan waktu yang panjang. 

****



  Sumber: Opa Darius Juwa,Opa Rafael,  Kak Gusti, Lusy dan bapak mama warga kampung Liti. 

Terimakasih Pastor Paroki Kristus Raja Riti ( RD. Yanto Songka),  Tim Musafir ( Ayu Nau dan Yancen Tena),  Kae Gusti, Kae Kalis, Kae Leksi, Lusi, Bibi, Kamran, paman Jon dan Istri, Bapak desa Riti dan Ibu Janet dan semuanya yang menjadi perantara-perantara yang baik. 

Liti - Nangaroro Nagekeo Flores Indonesia ( 25-27/02/2022)
Salam hangat dari Langa. 
Mertin Lusi


Watu Lewe batu Tinggi di Wolomeze

 Watu Lewe, keajaiban Tuhan yang tersembunyi di dusun Nggurununca desa Tura Loa kecamatan Wolomeze. 


Biasanya,  kita menjumpai batu dengan ukuran yang cukup di jangkau,  tapi batu yang satu ini berada si bibir tebing dengan ukuran yang sangat besar.  


Orang Tura Loa menyebutnya Watu Lewe (Batu Tinggi). Menurut cerita turun temurun dari  para leluhur desa Tura Loa bahwa batu ini milik suku Copi dan batu yang tingginya belasan meter itu bukan asli ditempat tersebut melainkan datang dari pantai selatan atau saat ini wilayah kecamatan Aimere dalam bentuk gumpalan awan hitam dan berhenti di watujaji kemudian berpindah bergeser ke arah utara lalu menetap persis di perbatasan antara Wolomeze dan Riung.  


Dari kejauhan, kita bisa melihat batu tersebut mirip sebuah bukit yang tinggi. Dari pusat kantor desa Tura Loa menuju tempat tersebut bisa ditempuh sekitar 20 menit dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun empat karena jalan menuju tempat ini sudah beraspal. Dari Watu Lewe ini kita bisa melihat pemandangan laut utara dan pulau-pulau di kecamatan Riung juga sebagian kabupaten Nagekeo. 


Untuk dokumentasi tempat ini secara utuh harus menggunakan drone karena tempat ini tidak cukup aman karena letaknya persis di bibir jurang. 


Menurut cerita dari warga yang kami jumpai, batu itu pernah didokumentasikan oleh salah satu wisatawan asing namun ketika dicetak hasilnya menjadi sangat berbeda dengan rupa aslinya dan bahkan sebagiannya tidak kelihatan.


Gendang Kulit Manusia

Tidak jauh dari batu tersebut terdapat sebuah gua yang menyimpan dua buah gendang yang terbuat dari kulit manusia. Gua tersebut bernama Kipo Liang atau lubang landak. 


Dari cerita yang ada, gendang tersebut didatangkan dari Goa Sulawesi Selatan. 
Pada mulanya hanya sebuah gendang saja yang dibawa ke Flores namun beberapa saat kemudian salah satu gendang yang lainnya ditemukan lagi di tepi pantai utara oleh salah satu nelayan yang berasal dari Tura Loa. 
Dulu,  leluhur orang Tura Loa merupakan pelaut, yang keseharian bekerja sebagai nelayan. Namun karena sudah mengenal dunia pertanian,  profesi sebagai nelayan perlahan ditinggalkan hingga saat ini. 

Gendang yang terbuat dari kulit manusia tersebut namanya Raja Bheo dan Nggali Aur. 
Pada masa itu gendang tersebut pernah dibunyikan pada upacara Paras di Malabay Mulu Boabaring.  Ketika gendang dibunyikan,  suaranya terdengar sampai ke utara. Suara itu kemudian diikuti oleh orang-orang yang memiliki tradisi tandak / menari. Mereka terus bergerak mencari sumber suara. 


 Semakin lama,  gendang tersebut mulai rusak kemudian pemiliknya berinisiatif menggantikannya dengan kulit kambing.  Pada suatu ketika,  pemilik gendang tersebut bermimpi didatangi oleh seseorang yang meminta untuk memindahkan dua gendang tersebut ke salah satu gua yang ada. Dan akhirnya gendang tersebuy di pindahkan ke gua hingga saat ini.


 Gendang tersebut tidak semua orang boleh melihat atau menyentuhnya karena bisa saja berakibat fatal bagi warga seperti bencana alam. Sehingga Gua tersebut tidak buka untuk umum. 



Jualan Buah dan Sayur untuk bayar uang sekolah



Fani, anak usia 13 tahun kelahiran Ngoranale kecamatan Bajawa ini dengan penuh kehangatan menyapa kami diruang kerja sambil membawa satu tas berisi buah Terung Belanda. Dia menawarkan kepada kami jualannya tersebut. Sejenak seisi tas diserbu oleh semua dosen dan pegawai.  Habis.  Yah,  buah yang ditawarkan Fani sungguh sangat menggoda karena warnanya juga buah ini cukup jarang dijumpai karena jarang ada petani yang secara fokus menanamnya. Buah ini hanya tumbuh subur di sela pohon kopi. 



Usai transaksi jual beli, kami semua spontan minta foto bersamanya. Rupanya dalam hati kami semua menyimpan tanya yang sama tentang sosok Fani. 
Anak dari pasangan Martinus dan Antonia ini ternyata telah memulai jualan sejak duduk dibangku kelas 5 SD.  Dia mengaku dengan senang hati berjualan usai jam sekolah. 

"Saya usai pulang sekolah pasti keliling setiap kantot atau tempat untuk menawarkan jualan seperti Sayur, Buah, lombok dan lainnya.  Barang jualan ini dititipkan oleh tetangga dan saya jual untuk dapat hasil bagi dua, "katanya. 


Setiap jualan ke wilayah kota dan perkantoran, Anak ketiga dari 7 bersaudara ini harus numpang ojek dengan biaya pulang pergi Rp. 20.000.

Kadang jualannya tidak habis dan keuntungannya hanya habis untuk membayar ojek. 
Memang cukup miris mendengar kisah dari Fani ini. 
Dia harus bekerja jualan apa saja untuk bantu orang tuanya. 
" Saya harus kerja kak,  karena bapak dan mama hanya petani,setiap hari harus kerja apa saja untuk bisa beli beras untuk kami. Apalagi sekarang mama sering sakit-sakitan dan tidak bisa kerja lagi. Saya harus bantu mereka untuk bayar uang sekolah atau beli beras kak, "katanya. 
Cerita Fani ini tentu sangat kontras dengan kehidupan anak remaja seusianya di zaman ini. Ketika semua merengek minta beli pulsa data untuk main tik tok ataupun game online tapi Fani harus jalan kaki keliling untuk menawarkan jualan. 
Fani harus memikirkan hari ini harus makan apa tapi diseberang yang lain ada yang tidak mau makan karena lauknya terasa kurang enak. 
Terimakasih Fani,  untuk ceritamu yang menginspirasi kami semua. Semoga Tuhan memberkati keluargamu. 

Stiper Flores Bajawa 05/02/2022

Salam hangat. 



OMK Ngada & Nagekeo Diskusi Film Filosofi Bambu

 


Sebanyak 113 orang muda Katolik Kevikepan Bajawa ( Ngada dan Nagekeo) berdiskusi tentang Film Filosofi Bambu di Kemah Tabor 17/12/2021.

Kegiatan diskusi film ini dikemas dalam rangkaian Temu Sobat Danke 2021 yang dihadiri oleh Vikep Bajawa RD. Daslan,  Ketua Tim Kepemudaan Keuskupan Agung Ende RD. Yanto Songka, Ketua Tim Kepemudaan Kevikepan Bajawa RD. Sony Lulu,  Ketua Divisi OMK Kevikepan Bajawa RD. Tomi Lele, anggota tim kepemudaan Mertin Lusi, Ayu Nau, Yancen Tena dan pengurus OMK paroki yang tersebar di Ngada dan Nagekeo. 
 Sejak 17-18 Desember 2021 para peserta yang terdiri dari pengurus OMK paroki sangat antusias mengikuti kegiatan. Mulai dari membahas tentang Apa Kabar OMK di paroki, sharing Keterlibatan OMK di dunia Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pariwisata hingga diskusi film Filosofi Bambu. 


Diskusi film ini dilakukan usai makan malam. Diawali dengan pemutaran film yang berdurasi 40 menit,kemudian dilanjutkan dengan pandangan dari peserta dalam merespon tayangan tersebut. 
Beberapa hal yang di angkat oleh peserta terkait isi film yang dikaitkan dengan isu strategis Muspas VIII ( Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Ende) yakni sebagai berikut


Paroki Inewea - Bajawa Utara. 
Apapun persoalan yang dihadapi dalam kehidupan berkeluarga jangan menghilangkan perikemanusiaan. " Ada nasi baku bagi, ada rokok baku sorong"

Terkait permasalahan yang terjadi ada cekcok yang luar biasa dalam kehidupan berumah tangga.   Ada kalimat  dari Molo ( Suaminya Bue)  " kamu tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya berikan".  Sebagai laki-laki jangan pernah melihat dari apa yang kita beri untuk bisa kita buat semena-mena, walaupun akhir-akhir ini,kita juga sepakat bahwa  segala segalanya butuh uang,namun kita diminta untuk peduli dengan perempuan karena perempuan itu merasa ditindas dan diskriminasi dan kita jangan cepat ambil kesimpulan terhadap persoalan. 
Jangan jadikan kaum hawa sebagai pemuas dikala dahaga / anak maen.


 Mataloko.
Sisi tanggungjawab sebagai laki - laki,  kalau berumah tangga laki-laki harus bertanggungjawab. 
Wisa nata rogho, apakah di gereja katolik sempat bicara tentang ini dan mohon penjelasan tentang  Anulasi itu di katolik. 

Aeramo.
Pesan dari film tersebut bertanggungjawab menjadi laki-laki maupun perempuan, harus bisa melindungi, mengayomi. Untuk OMK juga harus senantiasa mewarisi budaya dengan mencintai alam yang dipercayakan Tuhan untuk kita. Sebagai OMK harus bisa menjadi OMK bermanfaat bagi banyak orang, bisa menjadi garam dan terang.   Jangan cepat cepat mengambil keputusan untuk menikah muda, tidak masalah terlambat yang penting siap secara mental. 


Wolosambi. 
Memutuskan berkeluarga mesti mengenal lebih jauh pasangan sehingga saat menikah kita tidak mengenal orang baru tapi melakukan hal-hal baru bersama pasangan ini sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain. 
Budaya Bapo di Nagekeo menjadi penting hingga zaman ini. Kita orangmuda bisa menjadi mediator yang baik. Kita mesti belajar dari Filosofi Bambu meskipun tidak menjadi bambu yang luar biasa setidaknya menjadi yang sederhana. 


 Lindi. 
Menarik tentang film ini. Dari perspektif romantika orang muda hari ini laki-laki tidak cukup hanya bermodalkan ganteng atau cinta.  Sedangkan dari sisi Perempuan(Bue) hati wanita lautan terdalam.  
Dari perspektif budaya, bentuk kritik justru diskriminasi kaum adam seolah olah laki-laki sebagai sumber permasalahan dalam rumah tangga. Laki laki seolah sebagai aktor utama rusaknya rumah tangga. 
Film ini mengisahkan dengan berbagai karakter.
Untuk semua laki laki tugasnya adalah  membalikkan fakta yang tadi. 


Were
Kesimpulan setelah menyimak film tersebut yakni proses rumah tangga itu ada proses yang tidak dilewati dengan baik yakni tahap-tahap dalam jenjang rumahtangga. 
Konflik dalam rumah  tangga itu karena belum siap. 



Soa
Dari film tersebut ada hal yang disimpulkan yakni Segi komunikasi ada reaksi karena stimulus yang diberikan. Dalam sebuah keluarga cekcok itu pasti terjadi namun bagaimana membangun komunikasi yang baik dan akan menghasilkan dampak yang baik. 


Wekaseko. 
Komitmen itu hal utama dalam membangun rumah tangga,kematangan secara emosional.  Materi bukan jaminan dalam keharmonisan dan cinta juga bukan jaminan,  keduanya harus seimbang. Banyak teman-teman yang sudah menikah fakta yang kita hadapi itu menjadi ketakutan tersendiri buat kita. Persiapkan komitmen yang matang. 
Nata Rogho itu dari kacamata adil dan tidaknya itu seperti apa? Budaya? Agama pun demikian karena perceraian harus melalui proses anulasi. Perceraian adalah jalan negatif untuk menyelamatkan seseorang. 
Bambu itu untuk saat ini menjadi hal yang disepelekan atau dilupakan namun memiliki filosofi yang mendalam. Dan semoga kita bisa belajar dari bambu dna pada akhirnya mendapat jodoh yang baik. 



Wangka. 
Semua kita yang hadir disini ( OMK)  berada dalam fase pra berkeluarga. Kedua sikap orang muda dari rasa memiliki. 
Kesan bahwa hal yang perlu saya ingat yakni tanggungjawab. Wanita itu hadir untuk dihargai bukan untuk dinikmati. 


Mataloko. 
Perempuan dan laki laki yang menikah secara agama. Sebelum berbuat atau melangkah harus berpikir tentang konsekwensi kedepan yang akan terjadi. Jangan sampai menyesal kemudian. Sebuah perbedaan jaman dulu dan sekarang.
Tantangan terberat kita orang muda agar biasa membawa diri kita sendiri. 


Boawae. 
Cinta yang sesungguhnya adalah cinta dan mencintai (korelasi antara kaum adam dan kaum hawa).  
Hidupnya Molo berada dalam zaman modern.  Bue merasa kecewa dengan Molo dan terpaksa menyampaikan hal ini ke orangtua. Kita tidak perlu meniru sikapnya Molo, kita harus mampu mengontrol dengan baik. 
Segala sesuatu perlu ada perencanaan,  niat dan tulus dari hati. Ketika kita membuat keputusan tentang cinta kita perlu melihat hati kita. Harapan saya kita semua tidak seperti Molo.  
Antara Bue dan Molo sebenarnya adanya miskomunikasi karena tidak saling terbuka. 
Sekarang  ini,  banyak pasangan muda yang asal sikat saja yang penting cantik, body oke . Saya juga salut dengan orang generasi dulu yang rumah tangganya awet karena mereka melewati tahapan dan proses yang panjang sehingga mereka sangat awet. Sekarang kita sulit tanggungjawab dengan hidup dna pilihan kita. Kita mulai pengkaburan tentang norma-norma dalam kehidupan kita.  Anulasi itu pembatalan perkawinan. 
Sekali menikah satu untuk seumur hidup.


Aimere. 
Saya agak tidak setuju dengan yang hamil zaman dulu saat hamil rajin kerja dan lain-lain. Tidak setuju karena dulu angka kematian ibu dan anak sangat tinggi karena mereka tidak ke posyandu atau periksa kehamilan secara berkala. 

Kalau zaman sekarang Tahap Naa Boro ( Simpan mulut) tapi simpan burung 😀.


Kritik budaya bahwa kita boleh berpegang secara adat tapi dalam kondisi hamil, apakah dia akan memelihara anak sendirian,  dan lain lain. 
Molo dan Bue belum sampai pada tahap pendewasaan. 
Dalam percakapan Domi dan Lamber untuk peduli dengan alam,bisa menjadi bambu yang memiliki banyak manfaat. 



Boawae
Sebelum kejenjang yang lebih dalam kita mesti mengenal lebih jauh tentang pribadi tersebut. 

Aimere
Bangga dengan leluhur yang punya banyak kearifan lokal. Dan kita belajar dari alam. Hargai proses, proses saling mengenal pria dan wanita. Film ini mengajarkan kita bahwa kalau saya mau seperti Domi,hargai proses. Kalau tidak mau seperti Bue,hargai proses. 

Kalau jadi pria jadilah penampung seperti Bela. Cewek biar sangat cerewet tapi kalau laki laki hanya menampung maka perempuan akan tenang.
Saat ini Percuma di dunia maya teman ribuan orang tapi kalau latihan koor tidak bergabung, itu percuma. 



MBC
Alam membekali isi bumi dengan sederhana dan semegah megahnya. 
Dalam kemegahan generasi muda kiranya alam menyertai. 

Ende
Sabar, Kuat dan mengayomi. Kita perlu menjadi laki-laki yang bijaksana.  

 Danga. 
Pada kesempatan ini ada pesan kepada OMK yang katanya dilahirkan karena memiliki gagasan besar, ideologi dan lain lain. Kita jarang duduk bareng orang tua tapi bareng HP. 
Dua sisi positif ketika ada persoalan mereka mendekati orangtua tapi generasi kita itu pacaran curhat ke teman dekat bukan ke orangtua. 




***
Dan masih banyak lagi respon positif peserta terkait dengan pesan film Filosofi Bambu ini. 
Terimakasih untukmu semua.

Salam hormat, 
Mertin Lusi




Siswa siswi SMAK Recis Bajawa tanam kaki jadi pelayan di kegiatan Muspas VIII KAE sejak 27-30 Oktober 2021

 Siswa siswi SMAK Recis Bajawa tanam kaki jadi pelayan di kegiatan Muspas VIII KAE sejak 27-30 Oktober 2021.



Selama kegiatan Muspas yang berlangsung di 3 rayon yakni Kemah Tabor, Bejo dan Bogenga, semua guru dan siswa terlibat aktif menjadi pelayan. 
Koordinator pelayan rayon Bogenga Ibu Lusia Meme mengatakan bahwa semua siswa diajak terlibat aktif membantu melancarkan kegiatan meskipun mereka tetap sekolah online. 
" anak-anak yang terlibat tetap sekolah online seperti teman teman lainnya dirumah.Mereka bangun pagi absen kemudian bantu layani ri ruang makan, beres beres perkakasa dapur lalu lanjut lagi sekolah online.  Ini sebenarnya pembelajaran yang sesungguhnya dan anak - anak sangat bersukacita untuk ini, "kata Lusia. 


Selama kegiatan Muspas, siswa siswi SMAK Recis bergantian menjadi pelayan dan bahkan ada yang nginap agar pelayanan lebih efektif. 
Totalitas tinggi ditunjukkan saat melayani para tamu dengan senyuman ramah dan membuat suasana Muspas menjadi penuh warna. 
Selain siswa siswi Recis,para guru  yang menjadi pelayan,  juga dibantu para pegawai dan dosen Stiper FB,  kelompok paduan suara Pesparani,  OMK Sanjose dan MBC Bajawa. 


Peserta Musyawarah Pastoral KAE diikuti oleh para utusan dari seluruh paroki dari Ende, Nagekeo dan Ngada. 

Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris UNJ beri kuliah umum di STIPER FB

 


Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Ilza Mayuni,M.Sc memberikan kuliah umum di kampus Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa, Selasa 26/10/2021 di aula lantai dua Stiper Flores bajawa. 

Wakil ketua II bidang Sumber Daya dan Pengembangan Stiper FB Geradus Reo mengatakan bahwa kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa,dosen dan pegawai Stiper dengan tema " Keunggulan lulusan dengan kompetensi skills bahasa inggris dan implementasi kurikulum MBKM dalam menghadapi dunia kerja".

Gerardus juga mengatakan bahwa  prof.  Ilza Mayuni ini pernah 36 tahun lalu,datang di Ngada dan berkontribusi besar di beberapa sektor salah satunya irigasi.  Pada saat menjabat pada posisi pengambil kebijakan, dirinya membantu suplay anggaran pembangunan irigasi di tempat tersebut. 



 Selain itu,  suami dari prof. Ilza Mayuni ini juga membantu berkontribusi dalam dunia pendidikan yakni pendirian SKB Aimere dan pendirian TK di Soa. 

Berkaitan dengan kehadiran Stiper FB, prof. Ilza Mayuni juga memiliki andil yang besar dalam membantu memediasi, fasilitasi berkaitan dengan Perijinan untuk kehadiran Stiper Flores Bajawa di Ngada.
 
Prof. Ilza Mayuni dalam pemaparan materinya mengatakan bahwa Dunia kerja tidak hanya mensyarat-
kan kompetensi dan kualifikasi ter-
tentu tetapi juga karakter yang kuat.
Lulusan tidak siap terjun ke dunia kerja bila hanya mengandalkan ijazah dan transkrip nilai.

" Untuks Stiper Flores Bajawa ini sangat luar biasa meskipun berdiri baru dua tahun tapi memiliki mahasiswa yang sangat banyak dan para mahasiswa ini, anda berada si kampus yang benar karena kampus ini didirikan dari hati yang tulus",katanya. 



Literasi Diperlukan sebagai navigasi dalam beradaptasi,bekerja efektif dan mandiri dalam belajar,  mengoptimalkan potensi dan memperkuat jati diri, motivaai dan perilaku seseorang, mengartikulasikan keyakinan, nilai, dan tujuan terkait isu-isu sosial. 

Dia juga mwngharapkan agar setiap peserta Mampu mengubah pola pikir (mindset),terapkan strategi belajar yang tepat,  tingkatkan literasi mahasiswa melalui kegiatan intra- dan ekstra kurikuler yang menyenangkan dan menantang kreativitas, manfaatkan program MBKM sesuai kebutuhan mahasiswa dan tantangan dunia kerja, dan bangun budaya akademik yang sehat dan produktif.

Kegiatan kuliah umum ini di pandu ketua LPMAI Stiper FB  RD. Dr. Rony Netowuli dan diikuti oleh para pimpinan,dosen,karyawan juga seluruh mahasiswa program studi Agroteknologi dan Peternakan Stiper Flores Bajawa. 

Temu Raya OMK Ruto di Kampung Sewowoto

 Temu raya OMK Paroki St. Martinus Ruto digelar di kampung Sewowoto desa persiapan Ena Bhara kecamatan Inerie, Minggu 17/10/2021.



Seluruh orang muda Katolik paroki Ruto mulai dari lingkungan Waebela hingga Paupaga berkumpul merayakan Ekaristi, Diskusi dan rekreasi secara terpimpin. 


Ketua OMK paroki St. Martinus Ruto Finsensius Bilo mengaku sangat bangga terhadap antusias teman teman OMK untuk terlibat dalam kegiatan ini. 

" Saya secara pribadi sangat bangga dengan teman teman yang sudah mau memberi diri untuk terlibat dalam kegiatan ini meskipun situasi sedang sulit karena dilanda pandemi covid 19,"kata Finsen. 


Kegiatan temu raya ini dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan yang cukup ketat dan teman teman sangat antusias.  Secara berkala,  temu raya OMK ini dilakukan secara bergilir dengan tempat kegiatan di stasi-stasi.  Semua OMK hadir sekaligus mengunjungi saudara dan keluarga yang ada di stasi, merayakan ekaristi, diskusi juga rekreasi bersama. 
 
Meskipun jarak tempuh menuju kampung sewowoto ini cukup jauh,  namun tidak menyurutkan niat para peserta untuk datang.  Beberapa orang yang memiliki kendaraan roda dua dengan senang hati menjemput kawan yang tidak memiliki tumpangan.  Asalkan berkumpul bersama dan berdiskusi bersama itu saja sudah cukup. 


Kegiatan ini diisi juga dengan ngobrol bersama Anggota Komisi Kepemudaan Kevikepan Bajawa Mertin Lusi dengan materi Peran Awam dalam Gereja Katolik. 

Sebelum diskusi bersama,  acara diawali dengan perayaaan ekaristi bersama umat yang dipimpin oleh pastor paroki Ruto RD. Ayub Ninung.

RD. Ayub demikian biasa disapa mengatakan dirinya sangat mendukung penuh untuk kegiatan OMK baik yang dilakukan ditingkat paroki maupun stasi. 

"Saya sebagai pastor paroki sangat mendukung segala kegiatan yang dilakukan oleh OMK ,karena dengan kegiatan ini mampu memberi inspirasi baru bagi peserta mulai dari materi,  diskusi,ekaristi ataupun saling belajar dari teman lainnya. Inspirasi bisa datang dari moment apa saja selama pribadi tersebut memiliki niat untuk berubah ke arah positif"katanya. 

Selain kegiatan temu raya,  saat ini OMK paroki Ruto sedang disibukkan dengan perlombaan pembuatan video drama Kitab suci.  
Masing-masing stasi memerankan isi kitab suci sesuai dengan tema yang telah dipilih, lalu video yang sudah dibuatkan akan diposting di akun youtube OMK paroki Ruto. 



Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan

            PELUANG USAHA KAIN TENUN  IKAT TRADISIONAL  ENDE LIO  DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...