Jualan Buah dan Sayur untuk bayar uang sekolah



Fani, anak usia 13 tahun kelahiran Ngoranale kecamatan Bajawa ini dengan penuh kehangatan menyapa kami diruang kerja sambil membawa satu tas berisi buah Terung Belanda. Dia menawarkan kepada kami jualannya tersebut. Sejenak seisi tas diserbu oleh semua dosen dan pegawai.  Habis.  Yah,  buah yang ditawarkan Fani sungguh sangat menggoda karena warnanya juga buah ini cukup jarang dijumpai karena jarang ada petani yang secara fokus menanamnya. Buah ini hanya tumbuh subur di sela pohon kopi. 



Usai transaksi jual beli, kami semua spontan minta foto bersamanya. Rupanya dalam hati kami semua menyimpan tanya yang sama tentang sosok Fani. 
Anak dari pasangan Martinus dan Antonia ini ternyata telah memulai jualan sejak duduk dibangku kelas 5 SD.  Dia mengaku dengan senang hati berjualan usai jam sekolah. 

"Saya usai pulang sekolah pasti keliling setiap kantot atau tempat untuk menawarkan jualan seperti Sayur, Buah, lombok dan lainnya.  Barang jualan ini dititipkan oleh tetangga dan saya jual untuk dapat hasil bagi dua, "katanya. 


Setiap jualan ke wilayah kota dan perkantoran, Anak ketiga dari 7 bersaudara ini harus numpang ojek dengan biaya pulang pergi Rp. 20.000.

Kadang jualannya tidak habis dan keuntungannya hanya habis untuk membayar ojek. 
Memang cukup miris mendengar kisah dari Fani ini. 
Dia harus bekerja jualan apa saja untuk bantu orang tuanya. 
" Saya harus kerja kak,  karena bapak dan mama hanya petani,setiap hari harus kerja apa saja untuk bisa beli beras untuk kami. Apalagi sekarang mama sering sakit-sakitan dan tidak bisa kerja lagi. Saya harus bantu mereka untuk bayar uang sekolah atau beli beras kak, "katanya. 
Cerita Fani ini tentu sangat kontras dengan kehidupan anak remaja seusianya di zaman ini. Ketika semua merengek minta beli pulsa data untuk main tik tok ataupun game online tapi Fani harus jalan kaki keliling untuk menawarkan jualan. 
Fani harus memikirkan hari ini harus makan apa tapi diseberang yang lain ada yang tidak mau makan karena lauknya terasa kurang enak. 
Terimakasih Fani,  untuk ceritamu yang menginspirasi kami semua. Semoga Tuhan memberkati keluargamu. 

Stiper Flores Bajawa 05/02/2022

Salam hangat. 



OMK Ngada & Nagekeo Diskusi Film Filosofi Bambu

 


Sebanyak 113 orang muda Katolik Kevikepan Bajawa ( Ngada dan Nagekeo) berdiskusi tentang Film Filosofi Bambu di Kemah Tabor 17/12/2021.

Kegiatan diskusi film ini dikemas dalam rangkaian Temu Sobat Danke 2021 yang dihadiri oleh Vikep Bajawa RD. Daslan,  Ketua Tim Kepemudaan Keuskupan Agung Ende RD. Yanto Songka, Ketua Tim Kepemudaan Kevikepan Bajawa RD. Sony Lulu,  Ketua Divisi OMK Kevikepan Bajawa RD. Tomi Lele, anggota tim kepemudaan Mertin Lusi, Ayu Nau, Yancen Tena dan pengurus OMK paroki yang tersebar di Ngada dan Nagekeo. 
 Sejak 17-18 Desember 2021 para peserta yang terdiri dari pengurus OMK paroki sangat antusias mengikuti kegiatan. Mulai dari membahas tentang Apa Kabar OMK di paroki, sharing Keterlibatan OMK di dunia Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya dan Pariwisata hingga diskusi film Filosofi Bambu. 


Diskusi film ini dilakukan usai makan malam. Diawali dengan pemutaran film yang berdurasi 40 menit,kemudian dilanjutkan dengan pandangan dari peserta dalam merespon tayangan tersebut. 
Beberapa hal yang di angkat oleh peserta terkait isi film yang dikaitkan dengan isu strategis Muspas VIII ( Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Ende) yakni sebagai berikut


Paroki Inewea - Bajawa Utara. 
Apapun persoalan yang dihadapi dalam kehidupan berkeluarga jangan menghilangkan perikemanusiaan. " Ada nasi baku bagi, ada rokok baku sorong"

Terkait permasalahan yang terjadi ada cekcok yang luar biasa dalam kehidupan berumah tangga.   Ada kalimat  dari Molo ( Suaminya Bue)  " kamu tidak pernah sadar dengan apa yang sudah saya berikan".  Sebagai laki-laki jangan pernah melihat dari apa yang kita beri untuk bisa kita buat semena-mena, walaupun akhir-akhir ini,kita juga sepakat bahwa  segala segalanya butuh uang,namun kita diminta untuk peduli dengan perempuan karena perempuan itu merasa ditindas dan diskriminasi dan kita jangan cepat ambil kesimpulan terhadap persoalan. 
Jangan jadikan kaum hawa sebagai pemuas dikala dahaga / anak maen.


 Mataloko.
Sisi tanggungjawab sebagai laki - laki,  kalau berumah tangga laki-laki harus bertanggungjawab. 
Wisa nata rogho, apakah di gereja katolik sempat bicara tentang ini dan mohon penjelasan tentang  Anulasi itu di katolik. 

Aeramo.
Pesan dari film tersebut bertanggungjawab menjadi laki-laki maupun perempuan, harus bisa melindungi, mengayomi. Untuk OMK juga harus senantiasa mewarisi budaya dengan mencintai alam yang dipercayakan Tuhan untuk kita. Sebagai OMK harus bisa menjadi OMK bermanfaat bagi banyak orang, bisa menjadi garam dan terang.   Jangan cepat cepat mengambil keputusan untuk menikah muda, tidak masalah terlambat yang penting siap secara mental. 


Wolosambi. 
Memutuskan berkeluarga mesti mengenal lebih jauh pasangan sehingga saat menikah kita tidak mengenal orang baru tapi melakukan hal-hal baru bersama pasangan ini sehingga bisa menjadi berkat bagi orang lain. 
Budaya Bapo di Nagekeo menjadi penting hingga zaman ini. Kita orangmuda bisa menjadi mediator yang baik. Kita mesti belajar dari Filosofi Bambu meskipun tidak menjadi bambu yang luar biasa setidaknya menjadi yang sederhana. 


 Lindi. 
Menarik tentang film ini. Dari perspektif romantika orang muda hari ini laki-laki tidak cukup hanya bermodalkan ganteng atau cinta.  Sedangkan dari sisi Perempuan(Bue) hati wanita lautan terdalam.  
Dari perspektif budaya, bentuk kritik justru diskriminasi kaum adam seolah olah laki-laki sebagai sumber permasalahan dalam rumah tangga. Laki laki seolah sebagai aktor utama rusaknya rumah tangga. 
Film ini mengisahkan dengan berbagai karakter.
Untuk semua laki laki tugasnya adalah  membalikkan fakta yang tadi. 


Were
Kesimpulan setelah menyimak film tersebut yakni proses rumah tangga itu ada proses yang tidak dilewati dengan baik yakni tahap-tahap dalam jenjang rumahtangga. 
Konflik dalam rumah  tangga itu karena belum siap. 



Soa
Dari film tersebut ada hal yang disimpulkan yakni Segi komunikasi ada reaksi karena stimulus yang diberikan. Dalam sebuah keluarga cekcok itu pasti terjadi namun bagaimana membangun komunikasi yang baik dan akan menghasilkan dampak yang baik. 


Wekaseko. 
Komitmen itu hal utama dalam membangun rumah tangga,kematangan secara emosional.  Materi bukan jaminan dalam keharmonisan dan cinta juga bukan jaminan,  keduanya harus seimbang. Banyak teman-teman yang sudah menikah fakta yang kita hadapi itu menjadi ketakutan tersendiri buat kita. Persiapkan komitmen yang matang. 
Nata Rogho itu dari kacamata adil dan tidaknya itu seperti apa? Budaya? Agama pun demikian karena perceraian harus melalui proses anulasi. Perceraian adalah jalan negatif untuk menyelamatkan seseorang. 
Bambu itu untuk saat ini menjadi hal yang disepelekan atau dilupakan namun memiliki filosofi yang mendalam. Dan semoga kita bisa belajar dari bambu dna pada akhirnya mendapat jodoh yang baik. 



Wangka. 
Semua kita yang hadir disini ( OMK)  berada dalam fase pra berkeluarga. Kedua sikap orang muda dari rasa memiliki. 
Kesan bahwa hal yang perlu saya ingat yakni tanggungjawab. Wanita itu hadir untuk dihargai bukan untuk dinikmati. 


Mataloko. 
Perempuan dan laki laki yang menikah secara agama. Sebelum berbuat atau melangkah harus berpikir tentang konsekwensi kedepan yang akan terjadi. Jangan sampai menyesal kemudian. Sebuah perbedaan jaman dulu dan sekarang.
Tantangan terberat kita orang muda agar biasa membawa diri kita sendiri. 


Boawae. 
Cinta yang sesungguhnya adalah cinta dan mencintai (korelasi antara kaum adam dan kaum hawa).  
Hidupnya Molo berada dalam zaman modern.  Bue merasa kecewa dengan Molo dan terpaksa menyampaikan hal ini ke orangtua. Kita tidak perlu meniru sikapnya Molo, kita harus mampu mengontrol dengan baik. 
Segala sesuatu perlu ada perencanaan,  niat dan tulus dari hati. Ketika kita membuat keputusan tentang cinta kita perlu melihat hati kita. Harapan saya kita semua tidak seperti Molo.  
Antara Bue dan Molo sebenarnya adanya miskomunikasi karena tidak saling terbuka. 
Sekarang  ini,  banyak pasangan muda yang asal sikat saja yang penting cantik, body oke . Saya juga salut dengan orang generasi dulu yang rumah tangganya awet karena mereka melewati tahapan dan proses yang panjang sehingga mereka sangat awet. Sekarang kita sulit tanggungjawab dengan hidup dna pilihan kita. Kita mulai pengkaburan tentang norma-norma dalam kehidupan kita.  Anulasi itu pembatalan perkawinan. 
Sekali menikah satu untuk seumur hidup.


Aimere. 
Saya agak tidak setuju dengan yang hamil zaman dulu saat hamil rajin kerja dan lain-lain. Tidak setuju karena dulu angka kematian ibu dan anak sangat tinggi karena mereka tidak ke posyandu atau periksa kehamilan secara berkala. 

Kalau zaman sekarang Tahap Naa Boro ( Simpan mulut) tapi simpan burung 😀.


Kritik budaya bahwa kita boleh berpegang secara adat tapi dalam kondisi hamil, apakah dia akan memelihara anak sendirian,  dan lain lain. 
Molo dan Bue belum sampai pada tahap pendewasaan. 
Dalam percakapan Domi dan Lamber untuk peduli dengan alam,bisa menjadi bambu yang memiliki banyak manfaat. 



Boawae
Sebelum kejenjang yang lebih dalam kita mesti mengenal lebih jauh tentang pribadi tersebut. 

Aimere
Bangga dengan leluhur yang punya banyak kearifan lokal. Dan kita belajar dari alam. Hargai proses, proses saling mengenal pria dan wanita. Film ini mengajarkan kita bahwa kalau saya mau seperti Domi,hargai proses. Kalau tidak mau seperti Bue,hargai proses. 

Kalau jadi pria jadilah penampung seperti Bela. Cewek biar sangat cerewet tapi kalau laki laki hanya menampung maka perempuan akan tenang.
Saat ini Percuma di dunia maya teman ribuan orang tapi kalau latihan koor tidak bergabung, itu percuma. 



MBC
Alam membekali isi bumi dengan sederhana dan semegah megahnya. 
Dalam kemegahan generasi muda kiranya alam menyertai. 

Ende
Sabar, Kuat dan mengayomi. Kita perlu menjadi laki-laki yang bijaksana.  

 Danga. 
Pada kesempatan ini ada pesan kepada OMK yang katanya dilahirkan karena memiliki gagasan besar, ideologi dan lain lain. Kita jarang duduk bareng orang tua tapi bareng HP. 
Dua sisi positif ketika ada persoalan mereka mendekati orangtua tapi generasi kita itu pacaran curhat ke teman dekat bukan ke orangtua. 




***
Dan masih banyak lagi respon positif peserta terkait dengan pesan film Filosofi Bambu ini. 
Terimakasih untukmu semua.

Salam hormat, 
Mertin Lusi




Siswa siswi SMAK Recis Bajawa tanam kaki jadi pelayan di kegiatan Muspas VIII KAE sejak 27-30 Oktober 2021

 Siswa siswi SMAK Recis Bajawa tanam kaki jadi pelayan di kegiatan Muspas VIII KAE sejak 27-30 Oktober 2021.



Selama kegiatan Muspas yang berlangsung di 3 rayon yakni Kemah Tabor, Bejo dan Bogenga, semua guru dan siswa terlibat aktif menjadi pelayan. 
Koordinator pelayan rayon Bogenga Ibu Lusia Meme mengatakan bahwa semua siswa diajak terlibat aktif membantu melancarkan kegiatan meskipun mereka tetap sekolah online. 
" anak-anak yang terlibat tetap sekolah online seperti teman teman lainnya dirumah.Mereka bangun pagi absen kemudian bantu layani ri ruang makan, beres beres perkakasa dapur lalu lanjut lagi sekolah online.  Ini sebenarnya pembelajaran yang sesungguhnya dan anak - anak sangat bersukacita untuk ini, "kata Lusia. 


Selama kegiatan Muspas, siswa siswi SMAK Recis bergantian menjadi pelayan dan bahkan ada yang nginap agar pelayanan lebih efektif. 
Totalitas tinggi ditunjukkan saat melayani para tamu dengan senyuman ramah dan membuat suasana Muspas menjadi penuh warna. 
Selain siswa siswi Recis,para guru  yang menjadi pelayan,  juga dibantu para pegawai dan dosen Stiper FB,  kelompok paduan suara Pesparani,  OMK Sanjose dan MBC Bajawa. 


Peserta Musyawarah Pastoral KAE diikuti oleh para utusan dari seluruh paroki dari Ende, Nagekeo dan Ngada. 

Guru Besar Pendidikan Bahasa Inggris UNJ beri kuliah umum di STIPER FB

 


Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta Prof. Ilza Mayuni,M.Sc memberikan kuliah umum di kampus Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa, Selasa 26/10/2021 di aula lantai dua Stiper Flores bajawa. 

Wakil ketua II bidang Sumber Daya dan Pengembangan Stiper FB Geradus Reo mengatakan bahwa kuliah umum ini diikuti oleh seluruh mahasiswa,dosen dan pegawai Stiper dengan tema " Keunggulan lulusan dengan kompetensi skills bahasa inggris dan implementasi kurikulum MBKM dalam menghadapi dunia kerja".

Gerardus juga mengatakan bahwa  prof.  Ilza Mayuni ini pernah 36 tahun lalu,datang di Ngada dan berkontribusi besar di beberapa sektor salah satunya irigasi.  Pada saat menjabat pada posisi pengambil kebijakan, dirinya membantu suplay anggaran pembangunan irigasi di tempat tersebut. 



 Selain itu,  suami dari prof. Ilza Mayuni ini juga membantu berkontribusi dalam dunia pendidikan yakni pendirian SKB Aimere dan pendirian TK di Soa. 

Berkaitan dengan kehadiran Stiper FB, prof. Ilza Mayuni juga memiliki andil yang besar dalam membantu memediasi, fasilitasi berkaitan dengan Perijinan untuk kehadiran Stiper Flores Bajawa di Ngada.
 
Prof. Ilza Mayuni dalam pemaparan materinya mengatakan bahwa Dunia kerja tidak hanya mensyarat-
kan kompetensi dan kualifikasi ter-
tentu tetapi juga karakter yang kuat.
Lulusan tidak siap terjun ke dunia kerja bila hanya mengandalkan ijazah dan transkrip nilai.

" Untuks Stiper Flores Bajawa ini sangat luar biasa meskipun berdiri baru dua tahun tapi memiliki mahasiswa yang sangat banyak dan para mahasiswa ini, anda berada si kampus yang benar karena kampus ini didirikan dari hati yang tulus",katanya. 



Literasi Diperlukan sebagai navigasi dalam beradaptasi,bekerja efektif dan mandiri dalam belajar,  mengoptimalkan potensi dan memperkuat jati diri, motivaai dan perilaku seseorang, mengartikulasikan keyakinan, nilai, dan tujuan terkait isu-isu sosial. 

Dia juga mwngharapkan agar setiap peserta Mampu mengubah pola pikir (mindset),terapkan strategi belajar yang tepat,  tingkatkan literasi mahasiswa melalui kegiatan intra- dan ekstra kurikuler yang menyenangkan dan menantang kreativitas, manfaatkan program MBKM sesuai kebutuhan mahasiswa dan tantangan dunia kerja, dan bangun budaya akademik yang sehat dan produktif.

Kegiatan kuliah umum ini di pandu ketua LPMAI Stiper FB  RD. Dr. Rony Netowuli dan diikuti oleh para pimpinan,dosen,karyawan juga seluruh mahasiswa program studi Agroteknologi dan Peternakan Stiper Flores Bajawa. 

Temu Raya OMK Ruto di Kampung Sewowoto

 Temu raya OMK Paroki St. Martinus Ruto digelar di kampung Sewowoto desa persiapan Ena Bhara kecamatan Inerie, Minggu 17/10/2021.



Seluruh orang muda Katolik paroki Ruto mulai dari lingkungan Waebela hingga Paupaga berkumpul merayakan Ekaristi, Diskusi dan rekreasi secara terpimpin. 


Ketua OMK paroki St. Martinus Ruto Finsensius Bilo mengaku sangat bangga terhadap antusias teman teman OMK untuk terlibat dalam kegiatan ini. 

" Saya secara pribadi sangat bangga dengan teman teman yang sudah mau memberi diri untuk terlibat dalam kegiatan ini meskipun situasi sedang sulit karena dilanda pandemi covid 19,"kata Finsen. 


Kegiatan temu raya ini dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan yang cukup ketat dan teman teman sangat antusias.  Secara berkala,  temu raya OMK ini dilakukan secara bergilir dengan tempat kegiatan di stasi-stasi.  Semua OMK hadir sekaligus mengunjungi saudara dan keluarga yang ada di stasi, merayakan ekaristi, diskusi juga rekreasi bersama. 
 
Meskipun jarak tempuh menuju kampung sewowoto ini cukup jauh,  namun tidak menyurutkan niat para peserta untuk datang.  Beberapa orang yang memiliki kendaraan roda dua dengan senang hati menjemput kawan yang tidak memiliki tumpangan.  Asalkan berkumpul bersama dan berdiskusi bersama itu saja sudah cukup. 


Kegiatan ini diisi juga dengan ngobrol bersama Anggota Komisi Kepemudaan Kevikepan Bajawa Mertin Lusi dengan materi Peran Awam dalam Gereja Katolik. 

Sebelum diskusi bersama,  acara diawali dengan perayaaan ekaristi bersama umat yang dipimpin oleh pastor paroki Ruto RD. Ayub Ninung.

RD. Ayub demikian biasa disapa mengatakan dirinya sangat mendukung penuh untuk kegiatan OMK baik yang dilakukan ditingkat paroki maupun stasi. 

"Saya sebagai pastor paroki sangat mendukung segala kegiatan yang dilakukan oleh OMK ,karena dengan kegiatan ini mampu memberi inspirasi baru bagi peserta mulai dari materi,  diskusi,ekaristi ataupun saling belajar dari teman lainnya. Inspirasi bisa datang dari moment apa saja selama pribadi tersebut memiliki niat untuk berubah ke arah positif"katanya. 

Selain kegiatan temu raya,  saat ini OMK paroki Ruto sedang disibukkan dengan perlombaan pembuatan video drama Kitab suci.  
Masing-masing stasi memerankan isi kitab suci sesuai dengan tema yang telah dipilih, lalu video yang sudah dibuatkan akan diposting di akun youtube OMK paroki Ruto. 



THE PHILOSOPHY OF BAMBOO

THE PHILOSOPHY OF BAMBOO


03 November 2021 is a historic day for the Molo family. Under the sun, Bu'e's parents accompanied by uncles and traditional elders from Bomari village took Molo home to his parents' house. Molo's wife (Bu'e) is pregnant. However, Bu'e and his family determined to repatriate Molo even though it was only with a short customary affair which was quite embarrassing. Wisa Nata Rogho. Its because when Bu'e's husband and living together in Bu'e's family. Molo never showed responsibility as a husband. Traditional marriages are carried out in a hurry because bu'e is pregnant due to an illicit relationship during a mass wedding party in a neighboring village. Both the Bue and Molo families resignedly while holding back the shame of taking care of formalizing their children to become a young couple. This is normal even though it is not mature enough to be husband and wife. Although out there, there are many rumors circulating that always blame parents who are not able to educate their children properly. Gossip like this has become an open secret.



(Bu'e is wearing a negligee, crying. Her left hand is holding her stomach and her right hand is holding Molo's hand. The two of them walk hand in hand with Bue's parents, uncles and chieftains. Molo's face looks tough even though his eyes are crying. They arrived at Molo's yard. )

"Good morning Mr. Domi... Greet the traditional elders politely.

(The door opened and an old man named Domi came out)

"Ale good morning le...ai...why are there so many people...let's go in first" said Domi, inviting him to enter.

 Domi saves a question when he catches the faces of Bue and Molo.

"Bu'e....ana in-law why are you crying ...?

"Molo...what about Bu'e?

Domi asks a lot of questions...

(all sitting on mats made of lontar)


(chiefstains start the conversation)

"Look, ema, we and Bue and his family want to take Molo home, because according to Bue's family, Molo doesn't deserve to live and live with them"

(Molo just stares at the corner of the room. This time he sits far away from Bue and his family. Only his eyebrows move up and down, his lips tightly pressed together.)

"What does this mean, I don't really understand... this item must be known to Molo's uncle, it can't be just me," said Domi.

"Okay then, we are waiting for now, and Molo is now going to call you have uncle tanta" said Uncle Bu'e in a quite loud tone.

(Molo swiftly stands up and walks away)

(A few moments later, uncle and auntie  Molo came while eating betel nut, followed by Molo at the back and immediately took a position beside Domi)


"Well, thank you, in front of ema Domi and the entire Molo family, so we're sorry we didn't agree before we wanted to come. So straight to the point. "That we are all aware and willing, based on the results of mutual consultation, we all agreed to come and take Molo home here and never come to our house again," said Uncle Bue.

The atmosphere is heating up.

"let's talk - okay first .." said Domi.

"Oops...sorry ..please don't embarrass me, first clear the root of the problem so we can accept it.

“oke” asked Molo.

(The atmosphere is still heating up, arguing with each other without anyone hearing each other)



(chiefstain speak)

"Please calm down ...you are asking for my help, and now please listen to me first, please"

The atmosphere is calm again.

“This is how ema Domi and family are. So far I have heard many complaints from Bue and his family about Molo's behavior. Every day he aalways plays   PUPG game, immediately approved by Molo ...(with a flat expression), some people smile and quiet) he always hits Bue when he comes home, no job,drunk, gambling continuously, new lifestyle like a boss. he don't know how to find wood or cooking food," said the chiefstain.

“What can we expect? Eating your love...if you don't know to work, what can we rely on you?  You come this house to relieve each other not to bring bad lucky, uncle said with the louder voice. 

"But we agreed  when they married, let's try to give them time to improve themselves," said  Molos uncle.

'Molo, how do you respond? 

Molo answered quietly and carelessly "I'm everywhere"....

"We also heard the confession from Bu'e," said the traditional elder.

"Ine please talk...."

Bue tells everything and insists on breaking up with Molo even though his cries imply that his love for Molo will never fade.

Both parties agreed to separate with a sign of giving betel from Molo's side to Bu'e's side. Customary affairs are carried out if they are very urgent and do not end well or equally hurt the feelings of both parties / unwanted separation.

 Molo’s auntie took the betel nut from the betel then handed it to Molo's uncle who was sitting right next to him.

"If this is what you want, our family, offer the deepest apologies. We give this betel as a sign that the relationship between the two sides of Molo and Bue is over," said Molo's uncle.

Betel is accept by the chiefstain  of Bue's side and ended with a handshake. This is a sign that the relationship between Bue and Molo is over and between  of both famillies, both Molo and Bue can find a replacement husband or wife.

When Bue and the family rushed to say goodbye, Domi stood up swiftly and headed for the kitchen. He took a machete and ran to the bamboo forest.

Several youths followed him in fear while worrying that Domi was going to kill himself. Apparently with a machete, Domi cut bamboo and then chopped it into Naja with anger. Domi sat limply knowing several youths were silently staring at him. Some of the young men slowly moved closer to him.

"Ema... we know you feel..." said one man.

"You don't know how difficult of this life...." if today's way of life is like ours, surely everything will be safe and if all of you know about this bamboo and its philosophy, surely everything will be fine, said Domi.

“Nata Rogho's tour indirectly demeans men's dignity. This is very embarrassing,” said Domi again, looking down.

Domi looked up, looking sharply ahead. “Back then…… long before our district was formed and everything… we were taught the philosophy of bamboo. If everyone continues to plant, care for and preserve bamboo, of course, there are many things that will be learned.”

(Domi reminisces to his youth)

Since a thousand years ago, the Ngadha ethnic which consists of the Bajawa, Jerebuu, Golewa and Aimere regions have lived with the bamboo philosophy which is rich in life values.

Su'a, Tuku, Ope, Tubo, Ga'a, Zezo and Sobhi.

Becoming a tough young man/man should be able to carry out the parents' mandate about the Bamboo Philosophy so that they can synergize with nature.

Su'a is a farming tool (bamboo blades) used to clear land for planting various necessities of life, at that time, they did not know more modern farming facilities.

Tuku is a place to store food ingredients (round bamboo with various sizes) that can had for quite a long time.

Ope is a place to store water and palm wine. (round bamboo of various sizes)

Tubo is the pillar of the house (bamboo)

Ga'a is a food container for livestock (Bamboo)

Sobhi is a comb / hair straightener made of bamboo.

Zezo is a container used to separate good and bad food results.

A young man said to be able and be ready to marry a girl must be able to understand the philosophy of bamboo, namely, strong, patient and wise and able to manage bamboo.

At that time, the life of the Ngada ethnic community was very intertwined and could not be separated from the bamboo plant.




The sun risen from the eastern horizon, Domi rushed to the garden after feeding the chickens. Previously, he had made an agreement with Lamber to start clearing the land in rotation.

Domi headed for Lamber's house which was not far from his house.

Domi : Labe...let's go...

Lamber : lets go...

The two of them brought su'a and walked hand in hand through Zuly's yard. That morning, Zuly was weaving lawo.

As usual, greet each other. But Domi's feelings are a little different.

Domi spoke to himself.

Domi : ouch ... hello the beautiful woman ( with smile)

Lamber startled Domi.

Lamber : Robe...what are you talking about...

Domi blushed.

Domi : even though, it's not necessarily that people have children with me...

Lambers; Unus... you must fight first..

The two arrived at the garden. Continuing pull the grass.

The next day also the two of them repeated the same work through Zuly's house and found Zuly weaving. Domi's expression to Zuly is also still the same.

On the way to the garden, Domi and Lamber talk a lot about life. The two stopped under a shady tree because the heat of the sun burned the skin.

Lamber : Domi....why do we always work to plant...plant and plant lots of trees...

Domi : Labe....we have been taught by our ancestors to always plant. Because He planted the Tree, He planted hope. Beautiful hope for the future.

Lamber: what is hope...

Domi : hope is the power to be happy even though we are in a very sad state.

Lamber : oh....so hope is like you want to get Zuly then?

Domi : yes...its  absolutely right Lamber... I really hope someday.....

The two of them continued their journey to the garden for pull the grass and so on.

In the afternoon, as usual of the people in the village, after leaving the garden, they must continue their activities at the springs. Take a bath, wash and bring water home for cooking dinner.

Domi and his friends headed to the river to take a bath and fetch water. At that time, Bela (round bamboo) was used as a container to store water.

Several other people also seemed busy with their daily activities, bathing the horse, fetching water, washing clothes and bathing. After doing the activity, they came home with water using Bela. All equipment is still very traditional.

Day after day, various plants thrive and some are ready to be harvested.

On a different day, Zuly and some of his friends mashed corn (the process of grinding corn into smaller rice manually) while Domi and his parents came home with taro and wood from the garden.

Domi saw Zuly in the distance while sipping coffee. Domi and Zuly's houses are quite close, only flanked by two other houses so that all activities can still be monitored. The feeling of love is increasing.

Lamber came over to Domi.

And tehy discussions about agricultural products, and about how to process coffee from post-harvest to serving in glasses.

Domi : Lamber, would you like some coffee?

Lamber: if it's made, I'll definitely drink it...

Domi calls his sister Mia for coffee. A few minutes later, Mia came out with a cup of coffee.

Lamber took a cup of coffee and took a sip.

Lamber : wala.... The coffee is delicious, is it Bajawa coffee?

Domi : yes....... you admit that is delicious.

Lamber : wala, but why does i have a different taste...

Domi: That's the difference in the processing from picking, drying, frying and brewing...

Lamber: is it? Please  explain it  robe.. seriously I want to learn about the coffee process...

Domi : Unus, please dont take a joke.

Lamber : im serious, please !!

Domi: Well, friends, we have Bajawa coffee. The taste is indeed the most different, because of the natural conditions in the highlands, then it grows in the shade of trees, using organic fertilizers and without pesticides, this has been done since our ancestors. Now for post-harvest processing or coffee, after picking the red fruit, first peeled the skin and immediately fermented/stored in an airtight place after 24 hours, just washed and dried in the sun. Now, drying should not be directly on the ground and away from other odors, then peel the skin off and fry. Well, when it's fried, it shouldn't burn or the coffee will be black. After that it is ground or ground and immediately brewed.

Lamber: oh I see, what's been wrong all this time, coffee doesn't use fermentation first, then just hangs in the sun to dry and fry until it's very black or charred, that's why it feels like it's charred....

Domi : Well, that's a friend... it's our job together to take care of our coffee quality, e...

Lamber :  ...well thank you very much .....

Lamber then, raised the glass and continued the rest of the coffee, pointing to the glass, Lamber asked a question.

Lamber : Robe, if this is a bamboo cup who made it... it's very good... (while observing the bamboo cup  in more detail)

Domi : Handmade by amekae...

Lamber: even though...   it's amazing,.... we have this from our  ancestor. In addition to giving us coffee plants, they also give us bamboo plants to live... I'm confused if bamboo doesn't grow here e...

Domi : That's right.... Let's count the items that we use every day from bamboo.

Lamber and Domi took turns making lists of bamboo items using their fingers.

Lamber: (holding thumb) bamboo cup to drink water, spoon, comb...

Domi : Lenga for the roof, tubo for poles, naja for walls and floors, all the building materials for our house are all bamboo

Lamber: Bela for storing water, ope for storing moke, tuku for storing rice, beans and sui wu'u..

Domi : The Su'a we use to clean the grass in the garden...

Lamber : though.... we should be thankful to Bamboo because without them, we might not live comfortably ....

Domi : I think we have to preserve bamboo so that our children and grandchildren can also protect it... don't let it go extinct because we know that bamboo has many philosophies...

Lamber : I agree ... These bamboos don't grow alone, but using clumps, they live together. I think this teaches us to stay united and take care of each other ....because we are unity na...we are brothers.

Domi: .... let us have two days of useful discussion .....

The two laughed out loud, inviting the attention of Zuly and his friends who were mashing corn.

Zuly looked shyly then focused back on his work.




The next day, Domi, Lamber and some of their friends went to bata ne like to do the barter process because the necessities of life were running low. Usually from cold areas bring corn, beans that are stored in the defense while from hot areas bring wine, coconut, fish and sweet potatoes or livestock to be exchanged. At that time, there was no exchange rate, people only knew barter.

On the way to bata ne suka, Domi starts to talk to lamber and some of his friends about his feelings for Zuly.

While resting, Domi started a conversation.

Domi : hey friends, I don't know why every time I see Zuly, my heart beats faster...(smiling)

Lamber : ha.....youre in love friend 

Some other friends: yes... looks like you like him........so that's it....

Domi looked at his friends with a happy smile and in his head there was only Zuly's face.

Domi : ...maybe this is the answer of hope ....

Lamber : Domi.....you know... Falling in love is the most warmest things  in this world...(with a mocking smile)

Domi smiled shyly.

Lamber : but is it true that the feeling comes from here? (while mocking face)

Domi : right....(floating)

Lamber: Domi.... Love has no form, but it can only be felt by the heart. Love doesn't need a reason because in reality love exists without common sense, it persists even though you know that the one you love can't possibly be yours. ( Lamber like poetry)

Everyone clapped in agreement.

Lamber : Domi... we can arrange that  friend...

Some other friends :  we already ..we are ready help you..

Lamber : ok, don't worry, we'll do it later...(while whispering with some other friends).

Domi and his friends continued their journey to the bartering place. And after bartering they returned with the goods that had been exchanged.

Bartering is usually done once a week at the same place every Saturday morning.

On the following Saturday morning, more and more people went to barter. Zuly also took part by bringing corn to be exchanged for an earthen pot.

Everyone flocked to the barter. Without realizing it, some of Zuly's friends are walking slower and Domi is accelerating his steps to be able to walk with Zuly. Apparently this is the the plan of Lamber and his friends so that Domi and Zuly can meet. Because only moments like this men and women can meet and chat longer. The rest is not allowed.

Domi : Zuly... to be honest the first time I saw you I felt different. I like you...

Zuly : ( Embarrassed ) .... Domi don't be like that...

Domi : Seriously... can I come to your house tomorrow to hang out?

Zuly: yes...you can (while stroking his hair)

The bartering process was finished, they returned home.

**






That morning, Domi went to Zuly's house carrying a bundle of firewood as a souvenir. Stored behind the house. However, because the sound of the wood was loud enough to attract the attention of Zuly's father, Teus.

Teus: who's outside..

Domi : I'm Domi ...

Teus :  Domi...let's go in for the coffee...

Domi: (his fists clenched into the sky, saying), “Yes!! (Then to sit with Zuly's family and drink coffee).

The next day again, Domi brought a bunch of taro, he kept it behind the house, every day he do that the form of vegetables, firewood and so on as a symbol of "kaju dhu maru, ranga dhu sia" a sign that a man wants to continue his relationship with a woman who take it to a more serious level. Everything ended with drinking coffee with Teus, his father, Zuly.

One afternoon, after helping Teus with the pigsty, Domi sat down to talk about his relationship with Zuly.

Teus : Domi.... I can see that you have been working quite diligently and show that you are really serious about our daughter, Zuly. Then, tomorrow, tell your parents and also your uncle, and  talk about the right time to meet and talk about the relationship   (It turns out that Zuly heard their conversation from behind the cage and then walked up to the two of them).

Zuly: thank you very much ... (while looking at Domi and smiling)

Domi : Thank you very much .

Both of them were happy because it was approved.

Domi and Zuly are officially husband and wife.

Day by day, the Teus family grew, Zuly and domi had 3 children. To the garden with his wife and children using horses, returning home carrying wood, taro and vegetables.


****

A few years later, one time, the whole family of the bride invited everyone to gather together in the custom house ( sao)    and also handed over to Zuly and Domi in the form of Su'a, land and several clumps of bamboo for independent living.

Teus: "Please manage this inheritance  for your life provision.  Both of you can  use this su'a to clean the grass in 4 plots of land, please work diligently to plant trees and other plants for the provision of your life and grandchildren. The 18 clumps of bamboo near Wolobobo Mountain are yours, please cut it and build a house for you and your children and grandchildren. Don't forget to save and may you be blessed.”

Domi and Zuly live independently and accept each other.










Domi: “If all were like us before, of course humans are very harmonious with nature and of course the bamboo philosophy has always been the basis of life in this village. Because being a man must be able to learn to be like bamboo. Strong. Nurturing, patient and wise. Because a real man must carry out the mandate of a knight, namely God to be respected, King to be obeyed and  to protect a woman.

Two youths: That's right, sir, we feel that now this young generation is all mentally instant. No one is planting trees anymore, many are polluting the environment by littering, and many are even starting to leave the world of agriculture.

Domi : That's right child....When the environment changes, there must be related changes in life.

Two young men: please tell us how, sir....

Domi : When we heal the earth, we heal ourselves. What you take from the earth, you must give back by replanting. that's nature's way. Today you cut the bamboo, you also have to replant it here or somewhere else...

Two youths: (nods understanding) thank you very much sir.... its going late lets back  home . everyone  must be looking for you. 

They came home carrying Naja, bamboo home... walking hand in hand in the bamboo forest....


*****

Mertin Lusi


Kawasan Ekowisata Lekolodo - Bajawa Flores cocok jadi zona Camping Ground

 



Sekitar  18 tahun yang lalu,  daerah Lekolodo yang saat ini masuk dalam wilayah pemekaran desa Langagedha I kecamatan Bajawa telah menjadi kawasan Ekowisata yang dilirik banyak orang baik wisatawan domestik maupun mancanegara. 
Tahun 2003, obyek wisata tersebut mulai dirintis oleh seorang warga negara Kanada bernama Mr. Frans bersama warga setempat karena  daerah tersebut masih sangat murni dan tentunya hutan dipenuhi aneka satwa liar dan tumbuhan berbagai jenis.  Selain itu juga berbagai jenis wisata air terjun, lintas alam dan daya tarik lainnya.
Berbagai pembenahan dilakukan seperti pembuatan tangga dan jembatan gantung disetiap jalur yang terjal agar bisa dilalui oleh pejalan kaki. 


Semenjak itu,  berbagai jenis hewan liar seperti monyet, babi hutan mulai bertambah banyak. 
Menurut pengakuan warga setempat, selama tinggal di sekitar air terjun Waebua,  Mr. Frans selalu ke pasar untuk belanja buah dan sayur untuk hewan liar yang ada dikawasan ekowisata tersebut. Kedekatan antara manusia dan kehidupan alam sudah mulai terlihat. 

 Banyak warga yang sudah mulai menyadari penting merawat alam dengan tetap menjaga ekosistem dan tidak berburu hewan di hutan tersebut. 

Hingga kini, masih banyak pengunjung yang datang untuk merasakan sensasi lebih dekat dengan alam dan bermalam di tempat ini.  Tempat ini sangat cocok untuk yang suka camping. 
 Akan ada banyak hal yang dijumpai,dilihat,didengar dan dirasakan ditempat ini bila pengunjung datang dengan penuh niat dan ketulusan. 
Perlu diketahui,  beberapa fasilitas yang pernah dibangun seperti rumah singgah, toilet dan jembatan sudah mulai rapuh dan bahkan rusak karena tidak dirawat dengan baik semenjak Mr. Frans kembali ke negara asalnya beberapa tahun yang lalu. 


Meski demikian,  menurut pengakuan warga setempat, kawasan ekowisata tersebut akan dikelola melalui bumdes setelah Desa Langagedha I resmi definitif. 
Selain ekowisata di tempat tersebut juga memiliki beberapa penginapan dan rumah makan milik kelompok yang sangat aktif. 

Ayo, setelah pandemi berlalu mari datang ke tempat ini. 
Lokasinya sangat mudah diakses. 
Letaknya dipinggir jalan negara.  Dari arah kota Bajawa bisa ditempuh dalam 20 menit ke arah barat menggunakan kendaraan apa saja, begitu pula dari arah barat Aimere  ditempuh dalam waktu sekitar 40 menit. 
Ditempat ini kamu bisa menikmati kopi Arabika Flores Bajawa di kafe yang  juga
 berada persis di dekat gerbang masuk menuju lokasi. 

*salam Hangat
*Mertin Lusi










Jurnal _ Peluang Usaha Kain Tenun dalam perspektif Kewirausahaan

            PELUANG USAHA KAIN TENUN  IKAT TRADISIONAL  ENDE LIO  DALAM PERSPEKTIF KEWIRAUSAHAAN Studi Observasi pada Masyarakat Kota Kupang...